Oleh: Dara Zulia
JurnalPost.com – Salah satu tolak ukur kemajuan peradaban suatu bangsa dapat kita lihat dari cara berpikir masyarakat di dalamnya. Bagaimana cara berpikir masyarakat dalam menyikapi suatu permasalahan yang ada, sedikitnya mampu menggambarkan kemana arah negara ini menuju. Namun sayangnya di tengah era modernisasi dan pesatnya perkembangan ilmu dan teknologi di zaman ini, masyarakat di Indonesia masih banyak yang terjebak dengan warisan pemikiran yang menyesatkan dan berdampak terhadap kemajuan bangsa. Logika Mistika rasa-rasanya sampai dengan saat ini masih menjadi hal yang dipegang teguh oleh masyarakat luas; tak nyata, namun seolah diwariskan turun-temurun.
Sederhananya, logika mistika adalah simplifikasi tak berdasar atau cara berpikir yang menarik suatu kesimpulan atas suatu hal atau fenomena hanya berdasarkan keyakinan mistis tanpa didasari metode ilmiah. Tentunya cara berpikir ini begitu menyesatkan dan jelas tak dapat dipertanggungjawabkan. Entah kenapa pola atau cara berpikir seperti ini seolah mengakar di dalam masyarakat kita. Contoh kecilnya adalah ungkapan seperti: “Warung bakso itu ada jin penglarisnya, makanya walau pun ngga enak warung bakso itu tetep rame pembelinya”.
Perlu dipahami bahwa logika mistika tak sama dengan mistik. Mistik dalam konteks keimanan mengacu pada keyakinan seseorang terhadap hal-hal gaib sesuai ajaran kitab sucinya, seperti eksistensi Tuhan, Malaikat, dan yang lainnya. Kurt Gödel dalam teorinya menjelaskan bahwa ada kebenaran yang tidak dapat dibuktikan secara empiris karena keterbatasan manusia itu sendiri. Contohnya adalah keberadaan Tuhan, Malaikat dan dimensi spiritual lainnya. Tapi kembali lagi, bukan berarti bahwa setiap pemikiran yang tidak didasarkan pada metode ilmiah dapat dibenarkan atas nama agama.
Dalam bukunya yang berjudul “MADILOG” (Materialisme, Dialektika, dan Logika), Tan Malaka menyebutkan bahwa pola pikir semacam ini begitu mempengaruhi perkembangan suatu bangsa. Menurutnya, masyarakat di Indonesia terlalu banyak yang menuhankan hal-hal bersifat tahayul, mantra, ramalan, dan sebagainya. Tan Malaka berpendapat bahwa suatu bangsa yang dikatakan maju lahir dari perkawinan antara ilmu pengetahuan dan nilai-nilai kemanusiaan, bukan dari keyakinan yang bersifat irasional atau tak masuk akal dan tak dapat dipertanggungjawabkan.
Ada dua kemungkinan yang menyebabkan logika mistika ini muncul dan bersarang di dalam cara berpikir masyarakat di Indonesia. Kemungkinan pertama adalah animisme dan dinamisme sebagai kepercayaan awal yang masuk dan berkembang di Indonesia. Tak heran bilamana masih banyak masyarakat yang sampai dengan saat ini masih melakukan ritual membuat sesajen dan meletakkannya di sebuah tempat yang dianggap keramat dengan harapan roh baik yang bersemayam di sana mampu mengabulkan permintaan mereka. Terdengar aneh memang, tapi nyata adanya.
Kemungkinan kedua adalah akibat dari lamanya Indonesia dijajah oleh kolonial Belanda. Para penjajah menyadari bahwa kecacatan dalam berpikir mampu menghambat kemajuan bangsa Indonesia dan membuat bangsa Indonesia sulit untuk mencapai kemerdekaannya. Oleh karenanya, para penjajah membiarkan masyarakat Indonesia untuk terus terjebak dan terbiasa dalam kesesatan berpikir semacam itu dan tak membekali masyarakat Indonesia dengan ilmu pengetahuan yang lebih waras daripada itu.
Pada tahun 2024 lalu, akun tiktok @kemenkumhammuda membagikan sebuah video yang mungkin akan membuat tertawa sekaligus keheranan. Dalam video tersebut, panitia tes SKD CPNS Kemenkumham mendapati salah satu peserta yang entah atas dasar apa ia kedapatan membawa jimat berupa kertas terbungkus plastik yang mengandung tulisan Arab (ada yang menyebutkan berisi tulisan Arab dan Jawa). Bayangkan, di era semodern ini, masih ada orang yang meyakini jimat sebagai pembawa keberuntungan. Seolah mengesampingkan keyakinan atas kemampuan dirinya sendiri dan meyakini bahwa jimat tersebut mampu membantunya lolos tes CPNS.
Sungguh sebuah anomali yang terjadi dalam masyarakat kita. Ketika dunia mulai menemukan metode rekayasa cuaca, masyarakat kita sibuk menyewa pawang cuaca untuk memindahkan hujan agar tidak mengganggu sebuah acara besar. Ketika dunia sibuk mencari dan menemukan obat dari suatu penyakit, masyarakat kita sibuk berlarian dari satu dukun ke dukun lainnya untuk menyembuhkan penyakitnya.
Masyarakat dengan logika mistika menjadi cermin bagaimana suatu masyarakat hidup dalam kepasrahan dan mengandalkan hal-hal irasional atau tak masuk akal ketimbang memanfaatkan kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan saat ini. Tentunya ini sungguh berdampak pada kemajuan peradaban bangsa kita. Ketika masyarakat masih suka mendengarkan berita tentang kesaktian seorang dukun yang muncul di media sosial, masih meyakini mitos-mitos yang ada di dalam masyarakat, maka kemajuan seperti apa yang diharapkan dari bangsa Indonesia?
Sebagai penutup, satu hal yang pasti dan dapat kita pahami adalah bangsa kita yang disebut bangsa merdeka namun nyatanya masih terjajah sampai dengan saat ini. Tak dijajah oleh bangsa lain, namun oleh cara berpikir kerdil yang terus dipelihara dan bahkan seolah diwariskan. Untuk itu, kemerdekaan dalam berpikir harus mulai digalakkan di Indonesia mulai dari tingkat yang paling bawah sampai yang paling atas agar tercipta bangsa Indonesia yang modern, bangsa yang cerdas, yang berpikir secara logis, ilmiah, dan sistematis.
Daftar Pustaka
Hilda, R. (2024, 24 Oktober). Viral Peserta CPNS 2024 Ketahuan Bawa Jimat Saat Tes SKD, Kertas Dibungkus Plastik, Nasibnya Disorot. Diakses pada 19 November 2025, dari https://jabar.tribunnews.com/2024/10/24/viral-peserta-cpns-2024-ketahuan-bawa-jimat-saat-tes-skd-kertas-dibungkus-plastik-nasibnya-disorot
Putra, M. (2024, 20 Mei). Logika Mistika Menjadi Penghambat Kemajuan Bangsa Kita. Diakses pada 19 November 2025, dari https://m.kumparan.com/putra-melandry28/logika-mistika-menjadi-penghambat-kemajuan-bangsa-kita-22m5s5FyVrw/full
Septian, C. S. (2020, 17 April). Logika Mistika dan Kemerdekaan Berpikir Masyarakat Indonesia. Diakses pada 18 November 2025, dari https://www.its.ac.id/news/2020/04/17/logika-mistika-dan-kemerdekaan-berpikir-masyarakat-indonesia/
Suni, S. (2025, 1 Maret). Logika Mistika: Warisan Pemikiran Penghambat Kemajuan Islam di Indonesia. Diakses pada 19 November 2025, dari https://thecolumnist.id/artikel/logika-mistika-warisan-pemikiran-penghambat-kemajuan-islam-di-indonesia-3310