
Oleh: Rafhael Januar Turnip
Mahasiswa Tel-U Purwokerto
JurnalPost.com – Wajah Palsu, Dampak Nyata Ancaman Deepfake di Era Digital Terkadang kita juga merasakan gelisah ketika kita menatap layar handphone kita hari ini, “Adakah yang kita lihat ini nyata?” Itulah inti dari esai saya kali ini, yaitu kesopanan dan integritas sebagai prinsip fundamental, yang saat ini mulai mendapatkan serangan di era digital karena teknologi yang disebut deepfake. Indonesia pun tentu tak bisa dilewatkan oleh fenomena ini. Pastinya Anda tidak lupa ketika pada tahun 2023, sebuah video muncul yang menunjukkan Presiden Joko Widodo berbicara dengan lancar dalam bahasa mandarin menjadi viral. Belum sempat mereda, kasus penipuan menggunakan giveaway dengan meniru wajah Baim Wong menjadi musibah bagi para korban yang mengalami kerugian puluhan juta rupiah. Baru-baru ini pun, pelaku cyber crime menggunakan teknologi deepfake untuk melakukan aksi palsu wajah sang pemilik rekening demi melewati verifikasi biometrik dalam membuat kartu kredit. Ini menunjukkan bahwa deepfake sudah bukan lagi menjadi masalah teori, melainkan ancaman nyata yang telah masuk ke berbagai aspek kehidupan kita.
Maknanya Deepfake secara harfiah berasal dari gabungan kata “Deep Learning” dan “Fake”, yang memiliki makna “pembelajaran komputer yang dalam” serta “palsu”. Ini juga bisa disebut sebagai teknologi AI yang dapat menyebarluaskan konten visual dan audio yang dipalsukan dengan tingkat kemiripan yang cukup tinggi. Kedua “otak” utama di balik ini adalah Computer Vision dan Generative AI. Pendekatan Computer Vision dapat dimengerti sebagai sebuah mata komputer yang sangat mendetail. Pekerjaan Computer Vision dapat diibaratkan sebagai mata, Tugas jadi seperti menganalisa unsur unsur wajah manusia, seperti struktur mata, lengkuk hidung, ataupun Panjang bulu mata, setelah mengamati data data wajah yang ada di database, lalu itu akan di ekstrak untuk dijadikan wajah baru buatan yang mengabungkan unsur unsur wajah yang telah di ekstrak tadi. Generative AI lah akan membuat wajah buatan itu.
Metode membuat wajah buatan ini lebih dikenal dengan istilah Generative Adversarial Network atau singkatananya (GAN). metode ini dilakukan dengan menggunakan dua program AI di komputer yang salaing bertolakan belakang. Dalam proses ini, salah satu program akan yang menjadi pembuat wajah palsu lalu program lainnya akan menjadi sebagai satpam untuk memastikan apakah wajah buatan yang dibuat itu asli atau palsu. Proses ini terjadi sehingga satpam itu terkecoh dan mengira wajah yang dilihatnya tadi adalah wajah manusia asli. Begitulah Metode Generative Adversarial Network dapat membuat wajah yang dapat menipu mata manusia. Cloning wajah pun bukan satu-satunya bentuk teknologi Cloning yang ada saat ini, cloning suara pun dapat dilakukan dengan cara yang sama.
Awalnya Ketika teknologi deepfake mulai muncul, teknologi ini dianggap sebagai teknologi yang cukup menarik bahkan menjanjikan bagi industri hiburan dan seni digital. Tapi tidak ada perjalanan yang selalu mulus. Seperti yang disebutkan dalam jurnal penelitian ini, bahwa “deepfake dapat dimanfaatkan untuk merilis hoaks politik dan menjadikan orang publik target pembunuhan karakter” (Hasibuan, 2023, dinyatakan dalam Pusat Konsultasi dan Bantuan Hukum UINSSC, 2024).
Fakta ini menunjukan, bahwa teknologi yang pada awalnya menjanjikan untuk suatu dapartemen sekarang malah berubah fungsi menjadi alat manipulasi. Untuk kasus Indonesia sendiri, ancaman ancaman yang dipotensiakan terlakoni dengan adanya bantuan teknologi ini juga dipengaruhi oleh kondisi digital sosial yang timpang sebelah. Dalam makalah penelitian yang dibuat oleh Nurdin dan Nugraha (2025), “salah satu faktor yang memperkuat dampak negatif tersebut adalah tingginya penggunaan media sosial yang tidak dibarengi dengan tingkat literasi digital yang memadai.” Bahkan statistik berbicara lebih banyak. Kasus penipuan finansial berbasis AI di Indonesia naik drastis sampai 1.550% dari 2022 hingga 2024. Bidang industri yang paling parah dirugikan semenjak kemunculan deepfake ini adalah sektor finansial, dan angkanya bukanlah angka yang dapat disepelekan. Salah satu modus penipuan yang paling sering dilakukan itu dengan metode video call penipuan yang menggunakan wajah tokoh orang ternama untuk mempengaruhi korban sehingga melakukan transfer uang, atau penipuan identitas biometrik yang merubah rekening bank atau kartu kredit milik orang lain menjadi milik mereka. Dalam makalah UPGRADE, oleh Mutmainnah dkk. (2024) mengingatkan bahwa isu deepfake telah berkembang menjadi ancaman nyata yaitu “masa depan hoax yang semakin sulit dibedakan dari kenyataan.”
Dampak yang Lebih Luas Namun, masalah akibat deepfake tidak hanya sampai di penipuan-penipuan finansial saja. Dengan mengedepankannya secara lebih dalam lagi, hal ini juga bisa mempengaruhi isu-isu yang lebih mendasar, termasuk isu tentang percaya atau tidaknya, isu tentang reputasi, dan bahkan sampai pada stabilitas sistem demokrasi itu sendiri. Berdasarkan perspektif individu, seseorang bisa saja tiba-tiba melihat bahwa wajah dan suaranya digunakan untuk menyampaikan pesan apa pun tanpa dia pernah berkata demikian. Cepat atau lambat, karir, relasi sosial, hingga harga diri bisa jadi rusak seketika. Salah satu yang paling mencemaskan adalah praktik deepfake dalam konten pornografi, dimana deepfake menjadi bentuk pelecehan gender dalam ruang digital tersebut. Tapi, jika kita mempertimbangkan aspek yang lebih luas lagi, misalnya saja demokrasi, maka manipulasi ini pun juga bisa digunakan dengan efektif. Sebagai contoh saja selama masa kampanye berlangsung, dimana banyak masalah yang dibuat bohong dan seolah-olah membawa nama tokoh-tokoh politik, sehingga penduduk menjadi bingung dan menimbulkan kerusuhan sosial. Selain itu, juga terdapat berbagai dampak psikologis yang tak kalah pentingnya. Dalam perkembangan teknologi ini, batasan atau perbedaan antara hal yang real dan yang fake pun akan menjadi lebih samar. Hal tersebut juga akan menyebabkan erosi tingkat kepercayaan terhadap informasi digital, karena berbagai jenis informasi dapat dikreasikan menggunakan teknologi deepfake.
Cara Menghindari Deepfake Bagian positifnya, deepfake yang muncul sekarang masih dapat dikenali bila kita tahu apa yang harus dicari. Hal-hal yang menjadi pertanda bagi kita antara lain: Ketidak konsistenan visual, seperti gerakan bibir yang tidak cocok dengan suara, atau gerakan kelopak mata yang tidak alami. Perlu ingat bahwa teknologi AI belum mampu menirukan ekspresi wajah manusia dengan baik, bahkan cenderung membuat ekspresi wajah menjadi terlalu kaku atau sempurna. Perbedaan pencahayaan atau efek bayangan antara wajah dan latar belakang. Bagi audio, poin yang perlu diingat adalah suara dengan perubahan nada yang cepat atau suara yang terdengar mekanis. Namun yang terpenting adalah mindset kita: kita harus berhati-hati agar tidak mudah dipercayai oleh materi yang menyerang perasaan kita, entah itu perasaan yang berdasarkan rasa takut, nafsu, atau marah. Sebelum mengunggah video atau audio yang terlihat mencurigakan, pastikan Anda memeriksa sumbernya. Tanyakan pada diri sendiri, apakah konten ini memiliki logika? Jika demikian, apakah ada sumber lain yang menunjukkan kebenarannya? Selain itu, pemerintah Indonesia melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika juga telah menerbitkan Surat Edaran Nomor 9 Tahun 2023 tentang Etika Kecerdasan Artifisial yang menekankan nilai penggunaan AI yang bertanggung jawab dan beretika. Langkah ini merupakan awal yang positif, meskipun regulasi yang lebih khusus terkait deepfake masih sangat diperlukan untuk menghadapi risiko yang semakin kompleks.
Bijak Menggunakan Teknologi Saya meyakini bahwa teknologi sejatinya adalah alat, tidak baik, juga tidak buruk. Deepfake, dalam perspektif positifnya, dapat digunakan untuk sektor perfilman, pembelajaran jarak jauh, bahkan memberikan akses bagi penyandang disabilitas. Akan tetapi, saat teknologi ini berada di tangan yang tidak tepat, atau ketika masyarakat tidak memiliki literasi yang memadai untuk menghadapinya, maka hal ini dapat menjadi risiko yang signifikan. Apa yang paling saya khawatirkan bukanlah teknologi itu sendiri, melainkan perbedaan antara kecepatan kemajuan teknologi dan kesiapan masyarakat untuk menghadapinya. Saat ini, AI generatif telah mencapai tahap yang hampir tidak dapat dikenali oleh penglihatan biasa, sedangkan literasi digital kita masih sangat kurang. Sebab itu, tanggung jawab kita bersama pemerintah, platform digital, lembaga pendidikan, dan setiap pengguna internet adalah memastikan bahwa perkembangan teknologi sejalan dengan peningkatan kemampuan digital masyarakat. Kenali deepfake, pahami mekanismenya, dan jadilah konsumen informasi yang cerdas. Sebab di zaman komunikasi yang cepat ini, kemampuan untuk membedakan yang asli dari yang palsu bukan hanya sebuah keterampilan, melainkan merupakan pertahanan diri kita yang paling mendasar.
Referensi
- Nurdin, S. W., & Nugraha, I. F. (2025). Ancaman Deepfake dan Disinformasi Berbasis AI: Implikasi terhadap Keamanan Siber dan Stabilitas Nasional Indonesia. JIMR: Journal of International Multidisciplinary Research, 4(01), 73–92. Diakses melalui : https://azramedia indonesia.azramediaindonesia.com/index.php/JIMR/article/view/1551
- Mutmainnah, A., Suhandi, A. M., & Herlambang, Y. T. (2024). Problematika Teknologi Deepfake sebagai Masa Depan Hoax yang Semakin Meningkat: Solusi Strategis Ditinjau dari Literasi Digital. UPGRADE: Jurnal Pendidikan Teknologi Informasi, 1(2), 67–72. Diakses melalui : https://journal.universitasbumigora.ac.id/index.php/upgrade/article/view/3702
- Identifikasi Wajah Asli dan Buatan Deepfake Menggunakan Metode Convolutional Neural Network. (2024). Teknika, 13(1), 45–50. Diakses melalui : https://ejournal.ikado.ac.id/index.php/teknika/article/view/705