Kembali
Mode hapus aktif. Klik paragraf, foto, judul, tabel, atau bagian lain yang tidak ingin masuk PDF.
JurnalPost.com

Vaksinasi HPV Tembus 97%, Tetapi Skrining Kanker Serviks Baru 3%

Tim Editor: Redaksi · Tanggal: 20 Januari 2026

Sleman, JurnalPost.com – Yogyakarta Setiap hari Selasa, Puskesmas Godean I membuka layanan deteksi dini kanker serviks. Namun, jumlah perempuan yang datang untuk skrining masih sangat sedikit. Dari ribuan sasaran yang seharusnya diperiksa, hanya sebagian kecil yang memanfaatkan layanan tersebut.

Program vaksinasi HPV di wilayah ini menunjukkan capaian yang tinggi. Hampir seluruh siswi kelas 5 dan 6 sekolah dasar telah mendapatkan vaksin, dengan cakupan sekitar 97 persen. Sebaliknya, cakupan skrining kanker serviks pada perempuan usia 30–50 tahun masih rendah, yaitu sekitar 3 persen dari target.

“Meski udah ada jadwal rutin setiap Selasa, kegiatan skrining massal, sama penyuluhan, tapi antusias masyarakat masih rendah. Pas ditanya, alasan banyak mbak… Ada yang bilang malu, takut, nggak perlu karena tidak ada keluhan, sudah pernah diperiksa tahun lalu, buat apa lagi?… kalau enggak ya tabrakan jam kerja…” ungkap programer Kesehatan Reproduksi.

Alasan yang disampaikan oleh para ibu cukup beragam, mulai dari rasa malu, rasa takut, merasa tidak memiliki keluhan, hingga keterbatasan waktu karena bekerja. Pada tahun 2024, dari 5.349 perempuan usia 30–50 tahun yang menjadi sasaran, hanya 178 orang yang datang untuk skrining. Meskipun capaian telah meningkat dibandingkan tahun 2020 (121 orang), namun angka ini masih jauh dari harapan.

Pada tahun 2025, Puskesmas Godean I mulai melaksanakan pemeriksaan HPV DNA sebagai metode deteksi dini yang lebih sensitif terhadap virus penyebab kanker serviks. Dari 176 perempuan yang diperiksa, 10 orang mendapatkan hasil positif.

“Ini bukti kalau skrining itu penting. Mereka yang positif kan bisa langsung ditangani sebelum jadi kanker beneran,” jelas programer Kespro.

Pelaksanaan skrining secara luas membutuhkan dukungan pembiayaan yang memadai.

“Sebenernya kendala anggaran itu ya… Kalau nggak ada dana gimana pelaksanaannya mau jalan.. Kita kan harus menyiapkan tempat, tenaga, dan masyarakat juga.. butuh dana agar jalan…” ujarnya jujur.

Berbeda dengan skrining, pelaksanaan vaksinasi HPV pada anak sekolah dasar berjalan lancar. Setiap bulan Agustus dan November, tim puskesmas melaksanakan imunisasi di sekolah-sekolah, dan hampir seluruh sasaran mendapatkan vaksin. Koordinasi yang baik dengan pihak sekolah menjadi salah satu faktor pendukung.

“Kita punya grup WhatsApp yang isinya kepala sekolah semua. Jadi begitu jadwal sudah fix, langsung kita sebarkan undangan. Semua sudah tahu hari, tanggal, jamnya,” cerita programer Vaksinasi.

Pada awal pelaksanaan, terdapat kekhawatiran orang tua terkait kehalalan vaksin dan efek samping. Melalui kerja sama dengan KUA dan tokoh agama, pemahaman masyarakat meningkat.

“Kami pernah mendatangkan KUA dan tokoh agama untuk membantu edukasi dan meningkatkan penerimaan masyarakat… Alhamdulillah si mbak, kalau vaksin HPV mereka (orang tua) mau karena khawatir sama akibatnya ya..” katanya lega.

Di balik pelaksanaan program, terdapat kerja keras petugas kesehatan dalam melakukan tindak lanjut hasil pemeriksaan.

“.. kalau labkes udah ngirim hasil lewat WA ke saya, terus saya kan WA bidan desa nya untuk cariin pasiennya, karena kan saya nggak mungkin ya mbak ninggalin pekerjaan yang disini, nanti nggak selesai semua. jadi yang kasih informasi hasil dan menyuruh pasien ke puskes itu ya bidan desa itu”

Jika pasien tidak datang ke puskesmas, pendekatan jemput bola dilakukan agar tindak lanjut dapat berjalan.

“… ya kalau pasiennya nggak kesini ya saya yang harus jemput bola biar pasiennya mau di rujuk.. tapi kalau disini mau semua sih mbak”

Beberapa tantangan yang dihadapi dalam pelaksanaan program antara lain keterbatasan tenaga kesehatan, pendanaan yang belum stabil, ketersediaan vaksin yang sempat kosong, serta sistem rujukan yang masih dilakukan secara manual melalui WhatsApp.

Situasi ini sejalan dengan kondisi nasional. Indonesia menargetkan eliminasi kanker serviks melalui strategi 90-70-90, yaitu 90 persen anak perempuan mendapat vaksin HPV, 70 persen perempuan dewasa menjalani skrining, dan 90 persen kasus mendapatkan pengobatan sesuai standar. Vaksinasi saja belum cukup; skrining tetap diperlukan untuk deteksi dini.

“Vaksin itu mencegah infeksi baru. Tapi untuk ibu-ibu yang sudah dewasa, skrining itu wajib. Karena kalau ketahuan dari awal, bisa ditangani sebelum jadi kanker stadium lanjut,” jelas programer Kespro.

Ke depan, diperlukan penguatan pembiayaan program, pengembangan sistem digital untuk pemantauan pasien, peningkatan edukasi masyarakat, serta inovasi metode skrining yang lebih mudah diakses, termasuk self-sampling.

Puskesmas Godean I menjadi contoh upaya pelayanan kesehatan dalam pencegahan kanker serviks. Keberhasilan vaksinasi dan tantangan skrining memberikan gambaran bahwa komitmen dan dukungan berbagai pihak masih sangat dibutuhkan.

“Setiap perempuan yang kita periksa dan terdeteksi dini, itu satu nyawa yang terselamatkan. Makanya kita nggak boleh menyerah,” tutup programer Kespro.

Della Winanti, Yuni Fitriya – Mahasiswa Magister Kebidanan, Universitas ’Aisyiyah Yogyakarta
Sulistyaningsih, SKM., MHKes – Dosen Fakultas Ilmu Kesehatan, Universitas ’Aisyiyah Yogyakarta

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/read/vaksinasi-hpv-tembus-97-tetapi-skrining-kanker-serviks-baru-3/23521/
Dicetak dari JurnalPost.com pada 05 November 2026 22:20.