
URGENSI EMPATI GURU DALAM MENGAJAR ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS
Oleh
Devina Kurniawan dan Raja Oloan Tumanggor
Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara
JurnalPost.com – Pernahkah kita membayangkan bagaimana rasanya mengajar anak yang tidak dapat mengungkapkan apa yang ia rasakan dengan kata-kata? Atau mendampingi seorang anak yang tiba-tiba menangis keras di tengah kelas tanpa kita tahu apa yang memicunya? Bagi guru-guru yang mengajar Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) situasi seperti ini bukan kejadian luar biasa melainkan bagian dari keseharian mereka. Di balik semua itu ada satu kemampuan yang ternyata menentukan kualitas pembelajaran secara keseluruhan yaitu empati.
Siapa Itu Anak Berkebutuhan Khusus?
Anak Berkebutuhan Khusus atau ABK adalah anak yang memerlukan layanan atau perlakuan khusus untuk mencapai perkembangan yang optimal akibat kelainan atau keluarbiasaan yang disandangnya (Yulita et al., 2025). ABK memiliki perbedaan pada aspek psikologis, fisik, dan sosial yang membuat mereka menghadapi tantangan lebih besar dalam mencapai tujuan, memenuhi kebutuhan, dan mengembangkan potensi yang ada dalam dirinya. Di Indonesia, lembaga pendidikan yang dirancang khusus untuk melayani kebutuhan belajar ABK dikenal sebagai Sekolah Luar Biasa (SLB). Keberhasilan proses pembelajaran di lingkungan ini sangat bergantung pada bagaimana guru mampu memahami dan merespons setiap anak secara individual karena tidak ada dua ABK yang memiliki profil kebutuhan yang sama persis.
ABK memiliki kebutuhan emosional dan perilaku yang jauh lebih kompleks dibandingkan peserta didik pada umumnya sehingga guru tidak cukup hanya menguasai konten pembelajaran semata (Wink et al., 2021). Tantangan yang dihadapi guru dalam mengajar ABK pun beragam mulai dari kesulitan memahami kebutuhan setiap individu hingga belum memiliki kompetensi yang cukup untuk merespons perilaku yang tidak terduga (Allam & Martin, 2021). Di sinilah empati berperan sebagai kompetensi yang tidak bisa diabaikan.
Memahami Empati dan Dimensinya
Empati adalah kemampuan untuk mengenali, merasakan, dan memahami keadaan mental orang lain, baik dari sisi apa yang mereka rasakan maupun apa yang mereka pikirkan (Baron-Cohen & Wheelwright, 2004). Dalam konteks pendidikan, empati bukan sekadar rasa kasihan atau ikut bersedih melainkan kemampuan aktif yang mendorong guru untuk merespons peserta didik secara tepat berdasarkan pemahaman mendalam tentang kondisi mereka (Meyers et al., 2019).
Empati merupakan konstruk multidimensional yang terdiri atas dua dimensi utama. Dimensi pertama adalah empati emosional yaitu kemampuan untuk turut merasakan emosi yang sedang dialami orang lain secara langsung. Dalam praktik mengajar ABK empati emosional terlihat ketika guru memilih untuk tidak memarahi anak yang sedang tantrum melainkan memberikan ruang agar anak dapat menenangkan diri atau ketika guru berbicara dengan nada yang halus dan menenangkan kepada anak yang sedang dalam kondisi emosi tidak stabil.
Dimensi kedua adalah empati kognitif yaitu kemampuan untuk memahami cara berpikir, kebutuhan, dan sudut pandang orang lain secara sadar dan rasional. Empati kognitif mencakup dua bentuk yaitu affective Theory of Mind yang berkaitan dengan kemampuan memahami apa yang sedang dirasakan orang lain dan cognitive Theory of Mind yang berkaitan dengan kemampuan memahami apa yang sedang dipikirkan orang lain (Baron-Cohen & Wheelwright, 2004). Contoh penerapan empati kognitif dalam kelas adalah ketika guru menyederhanakan instruksi menjadi tiga tahap karena memahami bahwa anak tersebut kesulitan memproses perintah yang panjang atau ketika guru menggunakan aktivitas yang sesuai dengan ketertarikan anak untuk membangun keterlibatan belajar yang lebih aktif.
Mengapa Empati Penting dalam Mengajar ABK?
Guru yang berempati mampu membaca perilaku ABK bukan sebagai gangguan melainkan sebagai ekspresi dari kondisi dan kebutuhan yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata sehingga respons yang diberikan menjadi lebih tepat sasaran (Wink et al., 2021). Penelitian menunjukkan bahwa guru yang menerapkan empati kognitif akan berusaha memahami peserta didik secara mendalam, menyesuaikan metode mengajar dengan kebutuhan mereka, serta membangun hubungan yang dekat dan bermakna (Aldrup et al., 2022; Swan, 2021). Sebaliknya, tanpa empati guru cenderung merespons perilaku ABK secara reaktif yang justru memperburuk kondisi anak dan menghambat proses pembelajaran.
Sebuah penelitian kualitatif yang dilakukan di Special Harmony School mengungkap bahwa para guru yang memiliki kemampuan berempati tinggi secara aktif mengobservasi setiap anak sejak hari pertama, membangun hubungan yang hangat dan konsisten, berkolaborasi dengan orang tua untuk memahami keseharian anak di rumah, dan terus merefleksikan diri setiap harinya. Hasilnya anak-anak merasa aman, diterima, dan mampu mengoptimalkan potensi mereka dalam proses pembelajaran. Dengan kata lain empati bukan hanya dimiliki tetapi merupakan prasyarat penting bagi terciptanya pembelajaran yang benar-benar responsif terhadap kebutuhan ABK.
Kiat Menjaga Empati dalam Mengajar ABK
Mempertahankan empati dalam keseharian mengajar ABK bukan hal yang mudah. Ada hari-hari di mana energi habis, suasana hati tidak mendukung, dan tuntutan pencapaian target terasa sangat berat. Penelitian menunjukkan bahwa kesulitan dalam regulasi emosi berkaitan langsung dengan penurunan empati kognitif dan peningkatan burnout pada guru (Brandão et al., 2025). Oleh karena itu menjaga empati juga berarti menjaga kondisi diri sendiri. Berikut beberapa kiat yang dapat dilakukan.
Pertama adalah melatih kemampuan regulasi diri. Regulasi diri adalah kemampuan individu untuk mengendalikan emosi, perilaku, dan kognisi secara adaptif ketika menghadapi kondisi yang berubah (Vink et al., 2020). Ketika menghadapi situasi yang menguras energi seperti anak yang tantrum berkepanjangan guru dapat mengambil jeda sejenak, menarik napas dalam, atau meminta rekan untuk menggantikan sementara sebelum kembali berinteraksi. Meregulasi diri sendiri terlebih dahulu adalah syarat agar empati dapat diberikan kepada anak secara konsisten.
Kedua adalah melakukan refleksi diri secara rutin. Guru yang meluangkan waktu untuk merenungkan apa yang sudah dan belum berhasil dilakukan dalam interaksi dengan ABK akan semakin peka terhadap kebutuhan setiap anak. Refleksi juga membantu guru menyadari pola respons mereka sendiri sehingga mereka bisa terus menyesuaikan pendekatan yang digunakan.
Ketiga adalah membangun pemahaman melalui observasi yang berkelanjutan. Empati yang tepat sasaran hanya bisa terwujud ketika guru benar-benar mengenal anak yang diajarnya. Observasi yang dilakukan secara menyeluruh dan berkesinambungan terhadap pola perilaku, cara komunikasi, ketertarikan, dan profil sensoris anak memungkinkan guru untuk berempati berdasarkan pemahaman yang nyata bukan asumsi semata.
Keempat adalah berkolaborasi dengan pihak terkait. Memahami ABK secara mendalam tidak bisa dilakukan sendirian. Berdiskusi dengan sesama guru, berkonsultasi dengan psikolog atau terapis, serta menjalin komunikasi aktif dengan orang tua adalah cara paling efektif untuk membangun gambaran yang utuh tentang kebutuhan setiap anak. Ketika guru mengetahui bagaimana keseharian anak di rumah maka respons yang diberikan di sekolah pun menjadi jauh lebih tepat.
Kelima adalah terus mengembangkan pengetahuan tentang ABK. Semakin guru memahami karakteristik, cara belajar, dan cara komunikasi ABK semakin mudah bagi mereka untuk berempati secara tepat sasaran. Pengetahuan ini berkembang melalui pengalaman mengajar, pelatihan, membaca literatur, dan keterbukaan untuk terus belajar dari setiap interaksi bersama peserta didik.
Pada akhirnya hal ini mengingatkan kita bahwa di balik setiap anak yang dianggap “sulit” atau “unik” ada guru yang memilih untuk tidak menyerah memahaminya. Empati adalah pilihan aktif yang dilatih dan dijaga setiap hari bukan sesuatu yang muncul begitu saja. Dan ketika empati itu hadir secara konsisten maka ada anak yang akhirnya merasa aman, diterima, dan mampu berkembang sesuai potensinya. Mungkin itulah bentuk pendidikan yang paling sesungguhnya: bukan sekadar transfer ilmu tetapi kehadiran yang utuh dari seorang manusia untuk manusia lainnya. (*)