Kembali
Mode hapus aktif. Klik paragraf, foto, judul, tabel, atau bagian lain yang tidak ingin masuk PDF.
JurnalPost.com

Urban Farming Self–Watering: Solusi Pertanian Perkotaan Hemat Air dan Ramah Lingkungan

Tim Editor: Redaksi · Tanggal: 11 Desember 2025

Surabaya, JurnalPost.com – Urban farming kini berkembang sebagai solusi nyata dalam menghadapi keterbatasan lahan pertanian di wilayah perkotaan. Tidak hanya menjadi kegiatan hobi masyarakat kota, praktik bercocok tanam ini dinilai mampu meningkatkan ketahanan pangan secara mandiri. Urban farming memanfaatkan berbagai ruang sempit seperti balkon, dinding rumah, atap bangunan hingga pekarangan terbatas untuk menanam sayuran dan tanaman pangan. Konsep ini diyakini dapat mengurangi ketergantungan pasokan pangan dari luar kota yang rentan terganggu serta meningkatkan kesadaran masyarakat tentang proses produksi makanan.

Seiring meningkatnya minat terhadap urban farming, muncul inovasi sistem tanam Self-Watering yang menawarkan cara bercocok tanam tanpa rutin menyiram secara manual. Sistem ini bekerja menggunakan reservoir air yang ditempatkan di bagian bawah wadah. Melalui gaya kapilaritas, air secara otomatis bergerak naik ke media tanam dan diserap akar sesuai kebutuhan. Dengan demikian, tanaman tidak mengalami kekeringan meski tidak disiram setiap hari. Sistem ini semakin menarik bagi warga kota yang memiliki kesibukan tinggi tetapi tetap ingin memiliki kebun produktif di rumah.

Inovasi yang kini banyak dikembangkan adalah sistem Sub-Irrigated Planter (SIP) Modular, yaitu rangkaian wadah tanam yang saling terhubung dan mampu menyeimbangkan kadar air serta nutrisi secara otomatis. Desain modular ini memadukan konsep irigasi kapiler dengan distribusi nutrisi semi-hidroponik. Wadah-wadah tanam tersebut dihubungkan secara horizontal menggunakan pipa PVC sehingga seluruh tanaman mendapatkan aliran air yang sama. Sistem ini juga dilengkapi ruang aerasi di bawah media tanam untuk memastikan akar tetap memperoleh oksigen, sehingga mencegah pembusukan akar akibat genangan air.

Menariknya, teknologi ini dapat dibuat dari material sederhana dan barang bekas seperti galon air, pipa PVC, kain flanel, jaring bekas, serta wadah berukuran besar sebagai alat filtrasi utama. Warga hanya perlu melakukan pemotongan galon, memasang pipa sebagai saluran air, membuat pemisah antara media tanam dan reservoir, kemudian menyambungkan seluruh galon ke wadah filtrasi. Setelah diisi air dan nutrisi, sistem siap digunakan untuk bercocok tanam berbagai jenis sayuran, mulai dari selada, bayam, cabai, hingga tanaman herbal seperti kemangi dan mint.

Kelebihan sistem ini tidak hanya hemat air, tetapi juga sangat mudah dirawat. Perawatan rutin hanya berupa pengecekan ketinggian air pada wadah filtrasi dan penambahan nutrisi cair jika diperlukan. Selain itu, pencucian media tanam dan perawatan pipa dilakukan secara berkala untuk mencegah penyumbatan serta penumpukan garam yang dapat meracuni tanaman. Setelah panen, seluruh perangkat dapat disterilkan dan digunakan kembali sehingga lebih ekonomis dan berkelanjutan.

Inovasi SIP Self-Watering menjadi bukti bahwa pertanian modern dapat diterapkan tanpa membutuhkan lahan luas dan biaya tinggi. Teknologi sederhana ini menjadikan masyarakat kota mampu menciptakan sumber pangan sehat dari lingkungan rumah sendiri. Dengan semakin banyaknya penerapan urban farming, kota bukan lagi sekadar pusat konsumsi, tetapi juga bagian dari sistem produksi pangan yang mandiri dan ramah lingkungan. Urban farming dengan teknologi mandiri ini dapat menjadi langkah kecil namun berdampak besar dalam mewujudkan ketahanan pangan berkelanjutan di masa depan.

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/read/urban-farming-self-watering-solusi-pertanian-perkotaan-hemat-air-dan-ramah-lingkungan/21567/
Dicetak dari JurnalPost.com pada 05 November 2026 23:18.