
Penulis : Dewanda Ari Annastasya
Surabaya, JurnalPost.com โ Kampus Merdeka menjadi program persiapan bagi generasi muda atau Mahasiswa berkesempatan untuk mengasah kemampuan sesuai bakat dan minat dengan terjun secara langsung ke dunia kerja sebagai langkah persipan karier. Kebijakan dari Pemerintah Kemendikbudristek, khususnya program Kampus Mengajar menjadi ranah pembelajaran yang nantinya diberikan kepada Mahasiswa untuk belajar di luar kampus atau universitas. Jangka waktu yang diberikan selama satu semester guna melatih kemampuan menyeesaikan permasalahan yang kompleks. Bekerjasama dengan para mitra guru untuk berinovasi dalam pembelajaran, pengembangan strategi, dan kolaborasi model pembelajaran kreatif, inovatif serta menyenangkan.
Dewanda Ari Annastasya menjadi Mahasiswa semester 6 dari Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Program jurusan ilmu komunikasi yang berhasil di terima dalam program Kampus Mengajar Batch 7. Di dalam penugasan sekolah ditempatkan di Sd Bisma Dua Kutisari Surabaya selama 4 bulan (1 Semester) yang didampingi oleh Bapak Abi Hanif Dzulquarnain selaku Dosen Pembimbing Lapangan (DPL).
Perempuan berkulit sawo matang itu mengatakan menjadi suatu hal baru dan tantangan ketika menjalankan profesi sebagai Guru. Diterima di Kampus Mengajar menjadi pro dan kontra di awal penerimaan. Pro nya dia bisa membuka peluang baru dalam mengembangkan skill public speakingnya tetapi untuk kontranya dia juga ada rasa takut bahwasanya jurusan ilmu komunikasi tidak bisa mengajar pembelajaran dengan baik serta terdapat lingkungan nuansa islamiah di sekolah penempatan itu menjadi titik ragu tersendiri. Timbul rasa takut tidak bisa beradaptasi tetapi mencoba meyakinkan diri untuk tetap mengikuti alur sesuai dengan prosedur yang diterapkan oleh pusat Kampus Mengajar 7. Tentu selama masa penugasan Dewanda memiliki partner anggota kelompok sebanyak 4 orang yang berbeda jurusan serta Universitas. Dengan seiring berjalannya waktu dari pembekalan, diskusi bersama rekan Mahasiswa kelompok dan DPL membuat perempuan itu menjadi percaya diri dalam masa penugasan 4 bulan ke depan, dikarenakan rekan-rekan anggota yang positif dan bantuan DPL yang suportif menghantarkan rasa semangat di perempuan berusia 23 tahun itu.
Sekolah Sd Bisma Dua Surabaya menyambut Mahasiswa Kampus Mengajar dengan baik dari Kepala sekolah, civitas akademika sekolah hingga murid kelas 1 sampai 6 memberikan aura positif untuk kami. Ada kesepakatan yang terjalain di awal penugasan terhadap kepala sekolah, rekan Mahasiswa dan DPL bahwasanya kami bukan menjadi pengganti guru ajar tetapi kami ikut membantu dan berkolaborasi dalam proses pembelajaran sesuai dengan pembekalan dari pusat Kampus Mengajar 7. Mahasiswa Kampus Mengajar 7 ingin memberikan warna baru di lingkungan sekolah Sd Bisma Dua dan ingin ikut mengembangkan ilmu literasi numerasi para siswa-siswi yang ada di sekolah tersebut. Dewanda bersama para rekannya membentuk beberapa program selama penugasan 4 bulan ke depan yaitu Media Pembelajaran KOSURASI, Mading kreatif, Tata ulang perpustakaan, Perbaikan tangga literasi numerasi, Berkolaborasi dalam kelas bersama wali kelas, dan Pembelajaran digital aplikasi Canva. Kami juga memberikan ruang dan tenaga kami jika memang dibutuhkan untuk kegiatan yang sudah di rencanakan sekolah dikarenakan memang Mahasiswa Kampus Mengajar 7 di tuntut untuk mengabdi pada sekolah penempatan.
Didalam masa penugasan pasti juga tidak selalu berjalan mulus, tentu ada beberapa permasalahan yang harus kami dapatkan. Dari miss communication antar guru, kesahlahpahaman antar rekan Mahasiswa, pengeluaran biaya kegiatan, dan beberapa permasahan lainnya. Hal itu tentu menjadi tantangan baru yang dapat membentuk mental lebih kuat jika berada di lingkungan baru. Pada akhirnya perlahan bisa menyelesaikan permasalahan satu per satu dengan seiring berjalannya waktu. Perempuan dengan tinggi 155 cm itu sendiri ketika terjun langsung di lapangan serta beradaptasi secara langsung tidak mengalami kesulitan sesuai apa yang dipikirkan sebelumnya. Bahkan dapat menciptakan komunikasi lancar dengan Kepala Sekolah, Para Guru, Staff, Guru pamong dan tentu para murid sekalian. Dalam hal proses pembelajaran mungkin ada kendala tetapi Alhamdulillah terselesaikan dengan bantuan para rekan Mahasiswa.

Perempuan itu berusaha mengabdi semaksimal mungkin dalam menjadi guru ajar, belajar kembali secara mandiri dengan mengulang mata pelajaran di masa sekolah dasar dulu dia sekolah.
Mahasiswa semester 6 itu mengaku dengan menjadi guru secara langsung di lapangan menjadikan pengalaman yang tidak pernah terlupakan. Mulai dari mampu bersosialisasi dengan anak kecil, mampu membimbing pelajaran yang mungkin sulit menjadi bisa, Mengasah Public Speaking agar tambah lancar, menambah jam terbang di lingkungan kerja baru dan berbagi ilmu dengan para guru senior.
โDewanda sadar jurusan perkulihaan bukan menjadi penghalang untuk belajar dan berkembang, asal dalam diri mau berusaha dan komitmen untuk memiliki wawasan baru. Dan tentu menjadi suatu kehormatan bagi Dewanda Ari Annastasya ikut berkontribusi kecil dalam pendidikan untuk generasi muda di masa yang akan datang.โ