Oleh: Nabil Bakran Sudarjat
JurnalPost.com – Hari itu, sinar matahari menyapa Bogor dengan lembut saat aku dan keluarga bersiap untuk perjalanan ke Pengalengan, Bandung. Ayahku adalah seorang pencinta alam sejati yang telah merencanakan perjalanan ini dengan cermat, memilih rute yang paling indah dan destinasi yang menarik. Pukul 7 pagi, kami sudah siap untuk berangkat. Setelah memastikan bahwa semua barang bawaan telah disiapkan, kami memuat mobil dengan peralatan dan bekal makanan. Dengan semangat yang membara, kami berangkat dari Bogor pada pukul 8 pagi, menuju petualangan baru kami.
Perjalanan dimulai dengan pemandangan hijau pepohonan yang menyegarkan di sepanjang jalan. Kami melintasi desa-desa kecil yang terletak di lereng bukit dan menyapa penduduk setempat yang ramah dengan senyuman. Suasana akrab dalam mobil membuat perjalanan terasa lebih singkat. Saat melewati daerah Puncak, kami berhenti sejenak untuk menikmati panorama pegunungan yang memukau. Udara segar dan sejuk memeluk kami, menyegarkan tubuh yang mulai lelah akibat perjalanan jauh. Kami juga menyempatkan waktu untuk berfoto di tengah hamparan kebun teh yang hijau, menciptakan kenangan indah yang akan terus kami ingat.
Setelah beberapa jam perjalanan yang menyenangkan, akhirnya kami tiba di Pengalengan. Udara dingin dan segar menyambut kedatangan kami. Pertama-tama, kami mengunjungi tempat wisata yang terkenal di daerah tersebut. Situ Cileunca Pangalengan merupakan salah satu objek wisata alam yang cukup populer dan digemari di kawasan Bandung dan sekitarnya. Pada objek wisata danau ini kami disuguhi pemandangan alam yang sangat menawan. Keadaan alam sekitar yang masih sangat alami dengan banyaknya pepohonan yang rimbun membuat udara disekitar lokasi wisata ini sangat sejuk. Kawasan wisata Pangalengan Situ Cileunca ini sangatlah luas. Yaitu mencapai 1.400 hektar. Danau ini memiliki kedalaman hingga mencapai 17 meter, dan berada di ketinggian mencapai 1.550 mdpl. Menariknya, selain dijadikan sebagai tempat wisata, danau ini juga dijadikan sebagai sumber aliran air untuk pembangkit listrik tenaga air atau PLTA. Untuk harga tiket masuk lokasi wisata ini sangatlah murah meriah. Kami hanya perlu membayar sebesar Rp 2.500 per orangnya. Kawasan objek wisata Situ Cileunca ini sangat luas, sehingga saat berada disini kami menemui beberapa spot wisata. Diantaranya adalah kebun stroberi dan arbei yang biaya masuk nya adalah Rp 5.000/ orang. Kami dengan antusias memetik stroberi dan arbei segar, memasukkannya ke dalam keranjang kami. Suara tawa dan candaan terdengar di antara barisan tanaman stroberi yang rimbun. sangat antusias memetik buah arbei dan stroberi karena memang beliau sangat suka dengan buah-buahan. Jika memetik buah stroberi akan dikenakan biaya sebesar Rp 30.000/kg dan buah arbei Rp 25.000/kg.
“Murah banget untuk harga segitu udah bisa liat pemandangan seindah ini.” ujar Ade, salah satu pengunjung Situ Cilueunca.
Selanjutnya, kami menjelajahi perkebunan stroberi yang luas. Ayahku, sebagai pencinta alam, memimpin mereka melewati jalur-jalur tersembunyi di antara barisan tanaman teh yang hijau. Kami berhenti sejenak untuk menghirup aroma harum teh segar dan mengambil foto di tengah keindahan alam yang memukau. Saat matahari mulai terbenam, kami memutuskan untuk mencari tempat untuk makan malam. Setelah mendapat rekomendasi dari penduduk setempat, kami menemukan sebuah warung makan khas Sunda yang ramai. Di sana, kami menikmati hidangan lezat seperti nasi timbel, sate Maranggi, ikan bakar, dan sayur asem. Percakapan hangat dan tawa riang mengisi ruangan, menciptakan suasana yang penuh kebahagiaan.
Setelah melewati malam yang indah di Pengalengan, aku dan keluargaku kembali ke Bogor dengan perasaan bahagia dan kenangan yang tak terlupakan. Meskipun perjalanan pulang akan memakan waktu, kami tetap bersemangat karena masih ada banyak cerita untuk dibagikan dan pengalaman yang telah kami alami bersama. Perjalanan pulang kami dimulai di bawah cahaya remang-remang bulan yang bersinar di langit malam. Meskipun malam telah larut, kami tetap memutuskan untuk berhenti sejenak di Puncak untuk menikmati pemandangan malam yang spektakuler dari dataran tinggi tersebut di sebuah warung kecil. Sambil menyeruput minuman hangat yang kami beli di warung kecil itu, kami mengobrol dan tertawa mengenang semua petualangan yang telah kami lalui.
Setelah menikmati beberapa saat di Puncak, kami melanjutkan perjalanan pulang ke Bogor. Dalam perjalanan, kami memutuskan untuk membuat rencana untuk petualangan berikutnya. Ayahku sebagai kepala keluarga mengusulkan untuk menjelajahi destinasi lain di sekitar Jawa Barat, sementara aku dan kakakku menambahkan ide-ide mereka untuk tujuan selanjutnya. Walaupun perjalanan pulang penuh dengan kelelahan, tetapi semangat dan kebersamaan kami tetap membara. Kami berbagi cerita, tertawa, dan berharap untuk petualangan berikutnya yang akan kami alami bersama. Dan ketika kami tiba di rumah, kami merasa bersyukur telah menghabiskan waktu yang berharga bersama-sama, walaupun lelah kami berhasil menciptakan kenangan yang akan kami simpan selamanya.