
Bandung, JurnalPost.com – 6 Juni 2026. Di Telkom University Bandung, kecerdasan buatan tidak lagi dibicarakan sebagai istilah yang dingin dan berjarak. Lewat workshop bertajuk Build, Orchestrate, Collaborate Artificial Intelligent yang berlangsung pukul 09.00 sampai 14.00 WIB, AI hadir seperti pintu yang dibuka perlahan, membawa peluang, kecemasan, pekerjaan baru, dan pertanyaan yang belum semuanya berjawaban final. Peserta diajak memandang AI bukan sekadar perangkat bantu, melainkan lanskap baru yang mengubah cara manusia belajar, bekerja, dan mengambil keputusan.
Sesi pertama diisi oleh Rayhan Zahwan Saleh, S.Kom., yang menekankan pentingnya fondasi berpikir sebelum menggunakan AI. Menurutnya, teknologi baru terasa bermanfaat ketika penggunanya tahu arah dan masalah yang hendak diselesaikan. “AI bukan tombol ajaib yang langsung menyelesaikan semuanya. Ia bekerja lebih bermakna ketika manusia tetap memegang kemudi: memahami masalah, membaca data, lalu menentukan tujuan dengan jernih,” ujarnya, membuka forum dengan pengingat bahwa penguasaan alat harus dimulai dari kejernihan berpikir, bukan sebaliknya.
Sesi kedua oleh Daffa Shidqi Thamrin, S.Kom. membawa peserta ke wilayah yang lebih aplikatif, menyoroti kemampuan mengorkestrasi berbagai alat digital sebagai keterampilan yang kian dibutuhkan. “Yang dibutuhkan hari ini bukan hanya kemampuan memakai AI, tetapi kecakapan menyusun alur kerja. Manusia, sistem, dan kreativitas perlu duduk dalam satu meja, agar teknologi tidak hanya cepat, tetapi juga tepat,” tuturnya. Dari sesi ini, peserta memperoleh gambaran bahwa AI dapat menjadi rekan kerja yang lincah, asal digunakan dengan rancangan yang matang.

Forum kian cair saat memasuki sesi special guest Focus Group Discussion bersama Muharman Lubis, B.IT., B.Sc.Psy., M.IT., M.M., PhD. IT. Ia melontarkan pertanyaan pemantik, mulai dari sejauh mana manusia boleh menyerahkan keputusan kepada mesin, bagaimana menjaga etika saat AI kian mudah diakses, hingga profesi apa yang mungkin lahir di masa depan. “AI bukan hanya cerita tentang mesin yang semakin pintar. Di dalamnya ada manusia, nilai, tanggung jawab, dan dampak sosial. Karena itu, ruang diskusi seperti FGD menjadi penting, supaya peserta tidak berhenti sebagai pengguna, tetapi tumbuh sebagai pembaca zaman yang kritis,” ungkapnya.
Yang membuat workshop ini terasa berbeda bukan sekadar daftar materinya, melainkan alurnya. Tiga sesi dirancang berjenjang, dari fondasi berpikir, ke keterampilan aplikatif, lalu ke ruang refleksi kritis lewat FGD, sehingga peserta tidak berhenti di satu lapis pemahaman saja. Format diskusi dua arah pada sesi FGD juga membuat forum tidak berjalan searah seperti kebanyakan seminar konvensional, melainkan berubah jadi ruang tanya jawab yang hidup, diperkuat oleh keragaman latar belakang peserta yang membuat setiap pertanyaan dijawab dari berbagai sudut pandang sekaligus.
Keragaman peserta, mulai dari Security Analyst, dosen, mahasiswa, Technical Writer, Game Developer, hingga Risk Officer, membuat diskusi tidak berjalan satu warna. Melalui kegiatan ini, Telkom University kembali memperlihatkan perannya sebagai ruang temu kampus, komunitas, dan dunia profesional, dengan pesan yang menancap: masa depan AI ditentukan bukan hanya oleh mesin yang semakin cerdas, tetapi juga oleh kualitas percakapan manusia yang menuntunnya
.