
JurnalPost.com – Insiden kecelakaan Kereta Api (KA) Turangga relasi Bandung-Surabaya dengan KA Commuter line Bandung Raya di kawasan Cicalengka, Kabupaten Bandung terjadi di Km 181+700, pada Jumat (5/1/2024) pukul 06.03 WIB.
Terjadinya insiden tersebut, kerap menuai banyak cuitan yang ditujukan langsung pada KAI khususnya oleh warganet di sosial media, salah satunya serbuan di kolom komentar instagram @kai121_ melalui postingannya di tanggal yang sama yaitu 5 Januari 2024. Beberapa komentar secara garis besar seperti; singgungan terhadap PPKA terkait adanya human error, tuntutan pergantian manajemen, pengkaitan Tragedi Bintaro, dan dorongan pembanguan jalur ganda atau double track. Dampak insiden melalui cuitan warganet, dapat dikatakan lumrah dikarenakan perhatian masyarakat publik secara tidak langsung tentu akan mengarah pada isu terkini yaitu kecelakaan tersebut. Disisi lain KAI telah melalukan langkah awal yang tepat dengan memposting informasi tersebut di hari kejadian, selain tujuan utamanya sebagai informasi, ada pula tujuan terselubung lain yaitu sebagai wadah tanggapan guna menganalisis tindakan kedepan dalam menanggulangi krisis kecelakaan ini.
Untuk menanggulangi krisis ini, KAI perlu bantuan serta kerjasama yang baik dengan stakeholder terkait seperti; Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), Kementrian Perhubungan (Kemenhub), dan Kementrian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR). Lembaga kesemuanya yang berlandaskan pada pengelolaam transportasi memliki peran serta kontribusi penting dalam mengusut tuntas penyebab serta solusi yang dapat diberikan pada kejadian kecelakaan KA Turangga relasi Bandung-Surabaya dengan KA Commuter line Bandung Raya di kawasan Cicalengka.
Berdasarkan pada beberapa cuitan warganet, para stakeholder secara sigap membantu mengkonfirmasi terkait kejadian yang ada. Dikutip dari Detik.com Menteri Perhubungan Budi Karya dalam Rapat Kerja (Raker) Bersama Komisi II DPR RI, mengatakan penyebab kecelakaan adalah kesalahan teknis dan pelanggaran SOP dari faktor manusia. Budi Karya juga mengatakan sebagai bentuk solusi jangka pendek, akan dilakukan reformasi sumber daya manusia (SDM), perbaikan SOP, dorongan kecepatan serta ketepatan pembanguan jalur ganda, hingga pada perubahan sinyal.
Melalui beberapa fakta yang telah dikonfirmasi oleh para stakeholder maka perlu diperkuat pada penyampaian informasi untuk sampai pada masyarakat publik. Hal yang dimaksud adalah pemanfaatan platform media sebagai wadah penyampaian informasi.
Pemanfaatan website, website pada dasarnya merupakan platform dengan penyampaian informasi secara general. Sesuai dengan fungsinya website KAI dapat dimanfaatkan sebagai bentuk penyampaian konfirmasi, keputusan, serta tanggapan terhadap kejadian yang sedang berlangsung. Penyampainya dapat di letakan dalam laman utama website agar mempertegas hal yang dimaksud serta sebagai bentuk awareness perusahaan terhadap publik.
Melihat pada sample pemanfaatan media sosial, pada instagram KAI yaitu @kai121_ pada hari kejadian dan beberapa hari setelahnya secara berturut-turut telah melakukan konfirmasi melalui beberapa postingannya, namun terdapat kekurangan pada tahap penyampaian nya, hal ini dapat dilihat dari cuitan pada kolom komentar yang menandakan informasi memang belum disampaikan secara jelas sehingga masih menghadirkan banyak pertanyaan dari publik. Beberapa diantaranya; belum adanya kronologi kejadian yang mana secara tidak langsung KAI tidak transparan terhadap publik atas kejadian tersebut. Selain dari itu KAI juga kurang dalam meng- highlight fokus solusi yang sebelumnya telah dikonfirmasi oleh Menteri Perhubungan, yaitu terkait pembangunan jalur ganda, yang mana jika informasi tersebut diolah dengan baik dan dipublikasikan secara merata maka akan menjawab pertanyaan warganet sebagai solusi nyata KAI dalam penanggulangan krisis ini.
Progress KAI secara umum dalam menangani krisis KA kecelakaan Turangga relasi Bandung- Surabaya dengan KA Commuter line Bandung Raya, dapat dikatakan cukup baik. KAI sebagai perusahaan jasa transportasi yang telah lama dan banyak dipercayai oleh masyarakat, menjadi bentuk kekuatan sekaligus tantangan untuk mempertahankan kepercayaan tersebut. Berdasarkan kasus ini dapat ditarik kesimpulan bahwa untuk menanggulangi krisis tidak hanya cukup dengan mengkonfirmasi fakta namun juga bagaimana fakta/informasi yang disampaikan dapat terpublikasi secara merata ke masyarakat luas, karena pada dasarnya kesuksesan dalam mengangani suatu krisis bergantung pada perubahan presepsi publik terhadap kejadian tersebut.
Ditulis oleh: Berlian Rahmah Dewanto
Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media SV IPB