Kembali
Mode hapus aktif. Klik paragraf, foto, judul, tabel, atau bagian lain yang tidak ingin masuk PDF.
JurnalPost.com

TANTANGAN LITERASI DIGITAL: KETIKA MENGETIK LEBIH CEPAT DARI PIKIRAN

Tim Editor: Redaksi · Tanggal: 30 Maret 2026

Oleh: Rifa Narfau Darajatin mahasiswa UIN Cirebon

JurnalPost.com – Tanpa sadar, kita sering tidak sadar saat sudah lama menggunakan ponsel. Padahal niat awalnya hanya ingin menggunakan sebentar. Lebih dari itu, pernahkah Anda langsung membagikan sebuah informasi tanpa benar-benar membaca isinya? Jika iya, Anda tidak sendirian. Kita sedang hidup di zaman ketika mengetik bergerak lebih cepat sebelum dipikirkan terlebih dahulu.

Menonton video sekarang bukan lagi sekadar kebiasaan, itu telah menjadi gaya hidup. Layar ponsel selalu ada di tangan orang dari pagi hingga malam, dan informasi diberikan dengan cepat, singkat, dan seringkali tanpa konteks yang jelas, sehingga orang terbiasa dengannya secara instan. Interaksi masyarakat dengan media digital semakin intens dalam kehidupan sehari-hari sebagai akibat dari peningkatan penggunaan internet di Indonesia. Hal ini sejalan dengan data yang menunjukkan bahwa sekitar 78,19% penduduk Indonesia telah menggunakan internet sehingga interaksi masyarakat dengan media digital semakin intens dalam kehidupan sehari-hari (BPS, 2026).

Kecepatan ini memiliki konsekuensi. Kita sudah terbiasa merespons tanpa mempertimbangkan apa pun. Setelah membaca judul, jempol bergerak untuk menyukai, berkomentar, atau bahkan membagikan. Banyak kali, isi bahkan belum dipahami. Di sinilah masalahnya: kita merasa tahu, tetapi belum tentu mengerti. Karena banyak pengguna membagikan informasi tanpa verifikasi terlebih dahulu, fenomena ini juga dikaitkan dengan meningkatnya penyebaran hoaks di dunia digital (Batoebara & Hasugian, 2023).

Fenomena ini tidak dapat dilepaskan dari cara media sosial bekerja. Algoritma dibuat untuk menampilkan konten yang menarik pengguna. Meskipun sekilas terlihat menguntungkan, ada risiko besar di baliknya: kita terjebak dalam ruang gema (echo chamber). Kita hanya melihat apa yang kita ingin lihat, mendengar apa yang kita ingin dengar, dan mempercayai apa yang sudah kita yakini sejak awal. Penggunaan media sosial dapat memengaruhi cara orang merespons informasi dan berperilaku di internet (Auliya et al.,  2023).

Akibatnya, kemampuan berpikir kritis perlahan terkikis. Informasi yang harusnya kompleks disederhanakan menjadi potongan-potongan pendek yang mudah dicerna, tetapi miskin maknanya. Diskusi berubah menjadi perdebatan emosional. Perbedaan pemikiran yang tidak lagi dipahami sebagai hal wajar, tetapi malah dianggap ancaman.

Fenomena ini juga dipengaruhi oleh kehidupan sosial. Di tengah konektivitas yang semakin tinggi kualitas interaksi malah semakin menurun. Banyak orang hanya fokus pada layar dibanding dengan orang di sekitarnya, sehingga kehadiran fisik tidak selalu disertai dengan kehadiran emosional dan percakapan menjadi kurang bermakna.

Di sisi lain, stres psikologis juga meningkat. Media sosial sering menampilkan sisi terbaik kehidupan seseorang, seperti liburan mewah atau pencapaian besar. Tanpa disadari, hal ini mendorong perbandingan diri yang memicu rasa tidak cukup, cemas, dan rendah diri. Namun, teknologi tidak sepenuhnya dapat disalahkan. Pada dasarnya teknologi hanyalah alat yang dapat menjadi sarana edukasi, komunikasi, dan pemberdayaan. Masalah muncul ketika teknologi digunakan tanpa kesadaran sehingga berubah menjadi sumber distraksi dan disinformasi.

Agar masyarakat dapat menggunakan teknologi dengan bijak, literasi digital sangat penting. Masyarakat harus membaca dan memverifikasi informasi sebelum membagikannya. Menurut laporan Indeks Masyarakat Digital Indonesia, literasi digital Indonesia akan meningkat menjadi 44,53 pada tahun 2025. Ini menunjukkan perkembangan kemampuan masyarakat untuk menggunakan teknologi digital (IMDI, 2025). Oleh karena itu, masyarakat harus memahami etika digital, keamanan, dan budaya. Kemampuan untuk fokus juga perlu dilatih dalam arus informasi yang cepat melalui kegiatan seperti membaca, menulis, atau meluangkan waktu untuk merenung untuk mempertahankan kedalaman berpikir dan interaksi sosial.

Selain itu, interaksi yang sebenarnya harus dihidupkan kembali. Hubungan antarmanusia dapat diperkuat dengan berbicara tanpa mengganggu gawai, mendengarkan dengan hati-hati, dan terlibat sepenuhnya dalam percakapan. Jika tidak ada hal ini, kedekatan secara bertahap memudar karena percakapan menjadi lebih sederhana, mudah terputus oleh notifikasi, dan makna yang seharusnya menentukan hubungan manusia hilang.

Interaksi langsung sangat penting untuk meningkatkan kepekaan sosial dan empati. Percakapan langsung mengajarkan seseorang untuk mengendalikan perasaan mereka, memahami perspektif orang lain, dan menghargai perbedaan. Komunikasi digital tidak dapat menggantikan hal ini sepenuhnya. Seseorang dapat cepat merespons tanpa interaksi nyata, tetapi rasanya kurang bermakna. Maka aktivitas ini berdampak pada bagaimana mereka berkomunikasi dan berinteraksi sosial di era digital (NU, 2023).

Pada akhirnya, kita harus memilih antara terbawa arus informasi tanpa arah atau mengontrol teknologi. Menjadi pengguna yang sadar berarti berani menetapkan batas, memilih informasi dengan cermat, dan tidak membiarkan algoritma mengendalikan kita sepenuhnya. Kesadaran ini sulit karena memerlukan keberanian untuk mengubah kebiasaan di tengah arus informasi yang cepat. Memiliki kemampuan untuk memperlambat diri adalah jenis kendali diri yang sangat berharga. Perlambatan membantu kita berpikir lebih jelas, memahami emosi kita, dan membuat keputusan yang lebih cerdas. Jika tidak, kita tidak hanya akan kehilangan waktu, tetapi juga akan kehilangan kemampuan untuk memahami, mempertimbangkan, dan membedakan informasi yang sangat penting. Kita hanya akan bergerak cepat tanpa arah jika kita tidak sadar.

Menjaga keseimbangan di tengah kemajuan teknologi yang tidak bisa dihindari sangat penting. Ini bukan berarti kita harus menghindari teknologi; sebaliknya, itu lebih baik jika kita belajar menggunakannya secara proporsional dan bijak. Dengan demikian, kita tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga manusia yang memiliki kendali atas pikiran, sensasi, dan gaya hidup kita. Untuk membangun masyarakat yang lebih cerdas dan bertanggung jawab dalam menggunakan teknologi, edukasi tentang etika dan keamanan digital sangat penting (Shaufiah et al., 2025).

REFERENSI

Auliya, A. A., Yahya, A. B., & Hurryos, F. K. (2023). Pengaruh penggunaan media sosial terhadap perilaku remaja di Indonesia. Jurnal Harmoni Nusa Bangsa, 1(1), 57-66.

Badan Pusat Statistik (BPS) (2026). Statistik Telekomunikasi Indonesia 2025: Penetrasi dan Perilaku Pengguna Internet. https://www.bps.go.id/publication/statistik-telekomunikasi-2025

Batoebara, M. U., & Hasugian, B. S. (2023). Isu hoaks meningkat menjadi potensi kekacauan informasi. Device: Journal Of Information System, Computer Science And Information Technology, 4(2), 64-79.

Kementerian Komunikasi dan Digital RI (2025). Laporan Indeks Masyarakat Digital Indonesia (IMDI) 2025: Akselerasi Literasi Menuju Indonesia Emas. Jakarta: Komdigi Press. https://kominfo.go.id/laporan-nasional-2025

NU, S. F. IMPLEMENTASI MODERASI BERAGAMA DALAM KHAZANAH SOSIAL MEDIA OLEH REMAJA DI TPA AL-IKHLAS DUSUN PAHING DESA SETIANEGARA KECAMATAN CILIMUS KABUPATEN KUNINGAN. Mukaddimah: Jurnal Studi Islam, 7(2), 149-165.

Shaufiah, S., Kristinawati, D., Rochmawati, R., Rizal, M. F., Sukawati, R., & Fauziah, H. (2025). Mewujudkan masyarakat desa yang cerdas digital: Edukasi etika dan keamanan digital di Pamupukan, Kuningan. Jurnal Pengabdian Masyarakat Bangsa, 3(1), 27-33.

Widowati, I. R., & Syafiq, M. (2022). Analisis dampak psikologis pada pengguna media sosial. Character Jurnal Penelitian Psikologi, 9(2), 272-283.

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/read/tantangan-literasi-digital-ketika-mengetik-lebih-cepat-dari-pikiran/24350/
Dicetak dari JurnalPost.com pada 08 November 2026 06:47.