
Oleh: Niken Aurell Prameshwari
JurnalPost.com – Perkembangan teknologi digital saat ini banyak mengalami perubahan. Hadirnya media sosial seperti Instagram, Tiktok, Whatsapp, dan Twitter tidak hanya mempermudah penyebaran informasi. Tetapi juga mengubah cara berinteraksi masyarakat satu sama lain. Jika dahulu masyarakat lebih sering berinteraksi secara langsung, tatap muka dan melalui surat menyurat, kini interaksi di era digital saat ini lebih cenderung berinteraksi melalui layar. Perubahan ini menciptakan dinamika baru yang memunculkan berbagai tantangan sekaligus harapan bagi sistem komunikasi Indonesia, sebagaimana juga menjadi perhatian dalam kajian sistem komunikasi Indonesia Bersama Drs. Widiyatmo Ekoputro, M.A.
Salah satu perubahan paling terlihat adalah pergeseran pola interaksi dari yang bersifat personal menjadi lebih terbuka dan cepat. Media sosial memungkinkan seseorang untuk berkomunikasi dengan banyak orang dalam waktu yang sangat singkat. Informasi dapat menyebar luas dalam hitungan detik. Namun, kecepatan ini sering kali tidak diimbang dengan ketelitian dalam menyaring informasi. Akibatnya hoaks, misinformasi, disinformasi sering terjadi dan menjadi masalah serius yang mempengaruhi kualitas komunikasi di masyarakat.
Selain itu penggunaan media sosial mempengaruhi cara individu dalam berinteraksi. Banyak orang lebih berani untuk mengekspresikan diri di media sosial dibandingkan di dunia nyata, sayangnya hal ini tidak disertai tanggung jawab. Fenomena ujaran kebencian, perundungan daring (Cyberbullying), serta komunikasi yang kasar sering ditemukan di media sosial. Hal ini menunjukkan bahwa sistem komunikasi di Indonesia masih menghadapi tantangan dalam menjaga etika dan norma berkomunikasi.
Perubahan pola interaksi juga berdampak pada hubungan sosial. Interaksi yang dulunya hangat, penuh simpati dan empati, kini terasa dangkal. Komunikasi melalui teks atau komentar mengurangi ekspresi emosi yang sebenarnya, sehingga sering terjadi kesalahpahaman. Selain itu, ketergantungan teknologi membuat beberapa orang membuat sebagian orang lebih fokus ke dunia digital dibandingkan ke dunia nyata.
Di sisi lain, era digital juga banyak membawa harapan bagi sistem komunikasi Indonesia. Media sosial menjadi sarana yang lebih mudah untuk memperluas akses informasi dan meningkatkan partisipasi Masyarakat. Banyak isu sosial, pendidikan, dan politik menjadikan Masyarakat lebih mudah untuk mengetahui dan berdiskusi. Hal ini membuka peluang bagi terciptanya komunikasi yang lebih inklusif dan demokratis.
Selain itu media sosial juga dapat dimanfaatkan sebagai alat edukasi. Konten-konten yang bersifat informatif dan inspiratif dapat membantu meningkatkan literasi digital Masyarakat. Jika dimanfaatkan dengan baik, platform digital dapat menjadi ruang untuk belajar, berbagi pengetahuan serta membangun kesadaran akan pentingnya komunikasi yang sehat dan bertanggung jawab.
Harapan lainnya terletak pada generasi muda yang tumbuh bersama teknologi digital. Mereka mempunyai potensi besar untuk membawa perubahan dalam menciptakan cara berkomunikasi lebih baik. Dengan pemahaman yang tepat tentang etika digital dapat mendorong terciptanya budaya komunikasi yang lebih santun, sopan, kritis, dan bijak dalam menyaring segala informasi, sebuah arah yang juga selaras dengan tujuan pembelajaran dalam mata kuliah yang diampu oleh Drs. Widiyatmo Ekoputro, M.A.
Untuk mewujudkan masyarakat yang bijak dalam berkomunikasi di media sosial perlu peran dari berbagai pihak. Pemerintah, lembaga pendidikan, serta masyarakat yang harus bekerja sama dalam meningkatkan literasi digital dan kesadarann akan pentingnya etika dalam berkomunikasi di media sosial. Membuat seminar ataupun event untuk mengedukasi masyarakat agar menjadi masyarakat yang bijak dalam menggunakan media sosial perlu dilakukan agar masyarakat tidak hanya menjadi pengguna, tetapi juga dapat bertanggung jawab atas informasi yang sudah disebarkan.
Secara keseluruhan, perubahan cara orang berinteraksi karena media sosial mempunyai dampak yang cukup rumit bagi komunikasi yang ada di Indonesia. Ada beberapa masalah yang perlu cepat ditangani, seperti penyebaran hoaks, interaksi yang jadi kurang berkualitas, dan etika komunikasi yang mulai menurun. Namun, masih ada harapan besar untuk membangun interaksi komunikasi lebih terbuka, saling menghargai, dan berkualitas. Kunci utamanya terletak pada bagaimana masyarakat yang bisa mengikuti perkembangan teknologi tanpa melupakan nilai-nilai dasar dalam berkomunikasi.