Kembali
Mode hapus aktif. Klik paragraf, foto, judul, tabel, atau bagian lain yang tidak ingin masuk PDF.
JurnalPost.com

Tangan Kecil Penyelamat Nyawa: Anak Panti Asuhan Al Kaafii Belajar Bantuan Hidup Dasar

Tim Editor: Redaksi · Tanggal: 30 Juni 2026

JurnalPost.com – Bayangkan seseorang di dekat Anda tiba-tiba jatuh, tidak sadar, dan berhenti bernapas. Pada situasi seperti itu, yang menentukan hidup dan mati korban bukanlah dokter di rumah sakit, melainkan orang yang berdiri paling dekat saat kejadian. Berangkat dari kenyataan itu, sekelompok mahasiswa Program Studi Kedokteran UPN “Veteran” Jawa Timur menggelar edukasi dan penyuluhan Bantuan Hidup Dasar (BHD) bagi anak-anak Panti Asuhan Al Kaafii. Kegiatan ini berlangsung pada Senin, 1 Juni 2026 dan diikuti oleh anak-anak panti dari berbagai usia. Tujuannya sederhana namun penting, yaitu menyiapkan penolong awam sejak dini.

Henti jantung mendadak bisa terjadi pada siapa saja, kapan saja, dan di mana saja, mulai dari jalan, rumah, sekolah, hingga tempat ibadah. Masalahnya, waktu berjalan sangat cepat. Setiap menit yang berlalu tanpa pertolongan, peluang korban untuk selamat turun sekitar tujuh sampai sepuluh persen. Itulah sebabnya beberapa menit pertama sering disebut sebagai menit emas. Pertolongan yang cepat dan tepat pada momen ini bisa menjadi penentu antara nyawa yang tertolong dan nyawa yang hilang.

Di sinilah pentingnya penolong awam, yaitu orang biasa yang bukan tenaga medis tetapi tahu cara melakukan BHD. Penelitian menunjukkan bahwa resusitasi jantung paru yang diberikan oleh orang di sekitar korban dapat meningkatkan peluang hidup hingga dua sampai tiga kali lipat. Sayangnya, di banyak negara jumlah orang yang mau dan mampu menolong masih rendah, rata-rata hanya sekitar dua puluh persen. Di Indonesia, pengetahuan masyarakat soal pertolongan pertama pada henti jantung juga masih jauh dari cukup. Kondisi inilah yang ingin dijawab melalui edukasi sejak usia muda.

Kabar baiknya, keterampilan ini bisa dipelajari sejak kecil. Sejak tahun 2015, Badan Kesehatan Dunia atau WHO mendukung gerakan global bernama Kids Save Lives yang mendorong agar anak-anak diajarkan resusitasi jantung paru sejak usia sekolah. Dukungan itu bukan tanpa alasan. Anak-anak ternyata cepat belajar, antusias, dan mampu menirukan langkah dasar pertolongan setelah diberi contoh. Bahkan ada bukti bahwa anak usia empat tahun sudah mampu mengenali tanda orang yang tidak sadar. Melatih anak hari ini berarti menyiapkan satu generasi penolong untuk masa depan.

Semangat itulah yang mendorong kami untuk turun langsung ke Panti Asuhan Al Kaafii. Bersama teman-teman satu kelompok, kami tidak hanya menjelaskan teori, tetapi juga memperagakan langkah demi langkah. Kami menunjukkan cara mengenali korban, cara meminta bantuan, dan cara menekan dada untuk memompa jantung. Bagian yang paling berkesan adalah ketika anak-anak panti mencoba langsung melakukan resusitasi jantung paru secara bergantian pada alat peraga. Mereka menekan dada dengan serius sambil sesekali tertawa karena gugup, lalu perlahan mulai memahami ritme pertolongan.

Melihat pemandangan itu, ada perasaan haru tersendiri. Anak-anak yang selama ini sering dianggap sebagai pihak yang perlu dilindungi justru kami ajak menjadi pihak yang bisa melindungi orang lain. Kegiatan kecil ini sebenarnya menyentuh banyak hal besar. Ini merupakan bentuk pendidikan kecakapan hidup sekaligus pemberdayaan kelompok rentan, karena anak panti termasuk kelompok yang jarang mendapat akses edukasi semacam ini. Semakin banyak penolong awam yang terlatih, semakin tangguh pula sebuah komunitas dalam menghadapi keadaan darurat.

Kalau ditarik lebih jauh, kegiatan sederhana ini sebenarnya menyentuh empat agenda besar dalam Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau SDGs. Edukasi BHD untuk anak panti adalah bentuk pendidikan berkualitas yang membekali mereka kecakapan hidup, sejalan dengan SDG 4. Karena anak panti termasuk kelompok yang rentan dan jarang mendapat akses edukasi semacam ini, kegiatan ini juga menjadi salah satu cara mengurangi kerentanan mereka, sesuai semangat SDG 1 tentang penghapusan kemiskinan. Setiap anak yang terlatih menjadi penolong awam baru juga berarti komunitas di sekitarnya semakin siap menghadapi keadaan darurat, yang sejalan dengan SDG 11 tentang permukiman dan komunitas yang berkelanjutan. Dan yang tidak kalah penting, kegiatan ini terwujud karena ada kemitraan antara mahasiswa Kedokteran dan pengurus panti asuhan, contoh kecil dari semangat SDG 17 tentang kolaborasi untuk mencapai tujuan bersama.

Tentu satu kali kegiatan tidak cukup, sebab keterampilan menolong perlu dilatih berulang agar tidak mudah hilang. Karena itu, kami berharap edukasi seperti ini tidak berhenti di satu panti saja, melainkan menjadi gerakan yang lebih luas hingga masuk ke sekolah-sekolah dan panti lainnya. Pada akhirnya, menyelamatkan nyawa bukan hanya tugas dokter, melainkan kemampuan yang seharusnya dimiliki sebanyak mungkin orang, termasuk anak-anak. Sebab ketika keadaan darurat datang, yang dibutuhkan korban bukanlah orang yang paling pintar, melainkan orang yang berani dan tahu apa yang harus dilakukan. Hari itu, di sebuah panti asuhan, kami menyaksikan keberanian itu tumbuh dari tangan-tangan kecil yang baru belajar menolong.

Penulis: I Made Andika Prakosa, Yogi Bisma Widawasista, Haidar Rafli, dan Dimas Agung Prihanggara, Prof. dr. Hj. Rika Yuliwulandari, M.Hlt.Sc., M.MB., Ph.D., Sp.KKLP., Subsp.FOMC.

Tag: Bantuan Hidup Dasar, Resusitasi Jantung Paru, Penolong Awam, Panti Asuhan, Pengabdian Masyarakat, SDG 1 Tanpa Kemiskinan, SDG 4 Pendidikan Berkualitas, SDG 11 Kota dan Permukiman Berkelanjutan, SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/read/tangan-kecil-penyelamat-nyawa-anak-panti-asuhan-al-kahfi-belajar-bantuan-hidup-dasar/26861/
Dicetak dari JurnalPost.com pada 04 November 2026 14:56.