
Oleh: Alwi Satria Pratama, Putri Kania Azzahra
JurnalPost.com – Tahukah kamu, bahwa banyak konflik dalam keluarga bukan selalu disebabkan oleh masalah besar, melainkan oleh hilangnya rasa syukur dalam hal-hal sederhana? Keluarga yang harmonis tidak hanya dibangun dari kecukupan materi atau kesempurnaan peran, tetapi dari kemampuan setiap anggotanya untuk mensyukuri kehadiran satu sama lain.
Sikap syukur membantu individu memandang perbedaan sebagai anugerah, bukan ancaman, serta menerima kekurangan sebagai bagian dari proses kebersamaan.
Dengan menjadikan syukur sebagai fondasi dalam kehidupan keluarga, tercipta hubungan yang lebih hangat, saling menghargai, dan penuh ketenangan, sehingga keharmonisan tidak lagi sekadar harapan, melainkan realitas yang dirasakan bersama.
Sebuah kajian yang dirujuk banyak ahli, seperti yang dilakukan Arintina & Fauziyah (2015), menunjukkan bahwa keluarga yang harmonis berperan signifikan dalam mencegah perilaku agresif. Lingkungan keluarga yang penuh rasa aman dan tenang disebut dapat mengurangi kecenderungan agresi hingga hampir 20%. Lalu, apa yang membangun keharmonisan itu? Salah satu fondasi utamanya adalah sikap syukur.
Dalam islam, syukur sering dimaknai lebih dari sekedar “Terima kasih,” Totok & Amin menjelaskan bahwa syukur berarti “menampakkan nikmat.” Artinya, rasa terimakasih kepada Allah SWT itu ditunjukkan secara nyata. Bagaimana cara kerja syukur itu? Para ulama dan pakar psikologi islam membaginya dalam tiga bentuk:
- Syukur dengan hati: Mengakui dalam diri bahwa setiap kebaikan, rezeki, dan kebahagiaan dalam keluarga berasal dari Allah. Ini melahirkan ketenangan dan penerimaan, mengurangi rasa iri dan selalu merasa kurang. (Usman dkk., 2020).
- Syukur dengan lisan: Sering mengucap “Alhamdulillah” atas hal besar maupun kecil—mulai dari makanan di meja, kesehatan, hingga kebersamaan sederhana. Ucapan ini mengingatkan seluruh anggota keluarga akan karunia yang ada.
- Syukur dengan perbuatan: Inilah bentuk paling Istri yang bersyukur pada suami akan diwujudkan dengan penghargaan dan perhatian. Suami yang bersyukur pada istri akan diwujudkan dengan sikap menghormati dan membantu.
Orang tua yang bersyukur pada anak akan lebih sabar dan lembut. Anggota tubuh digunakan untuk saling berbuat baik, bukan saling menyakiti.
Dalam interaksi keluarga (muamalah), prinsip keadilan, amanah, dan kasih sayang akan tumbuh subur di atas tanah yang disirami rasa syukur. Ketika masing-masing anggota merasa “cukup” dan berterima kasih atas peran yang lain, maka sikap saling menghargai akan otomatis muncul. Egoisme dan pertikaian pun berkurang.
Psikologi positif modern juga mendukung hal ini. Penelitian Seligman dkk. menunjukkan, individu yang punya tingkat syukur tinggi cenderung lebih puas dengan hidup, lebih sejahtera secara psikologis, dan lebih tangguh secara emosional. Kualitas-kualitas inilah yang menjadi “batu bata” untuk membangun rumah tangga yang kokoh (Afandi., dkk, 2021).
Rasulullah mengajarkan bahwa sikap syukur merupakan kunci keseimbangan hidup seorang mukmin, baik dalam kondisi senang maupun sulit (HR. Muslim). Allah pun menegaskan bahwa syukur menjadi sebab bertambahnya nikmat dan keberkahan hidup, sebagaimana firman-Nya: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu” (QS. Ibrahim: 7).
Janji tambahan ini bukan hanya soal materi, tapi juga tambahan ketenangan, tambahan kesabaran, dan tambahan keharmonisan dalam rumah tangga. Di tengah kompleksitas masalah keluarga modern, melatih rasa syukur bisa menjadi fondasi yang paling sederhana, namun paling kuat untuk merajut kembali kehangatan yang mulai memudar. Mulailah dari hal kecil. Ucapkan “Alhamdulillah” dengan penuh kesadaran, dan rasakan dampaknya dalam interaksi dengan pasangan dan anak anak di rumah.
DAFTAR PUSTAKA
- Afandi K., Subandi., Ilyas, H. Psikologi Kebersyukuran: Perspektif Psikologi Positif dan Relevansinya dengan Pendidikan Islam. Depok: Rajawali Pers
- Arintina, C., & Fauziyah, N. 2015. Keharmonisan Keluarga dan Kecenderungan Berperilaku Agresif Pada Siswa SMK. Jurnal Empati, Januari 2015, Volume 4(1), 208-212.
- Totok, , & Amin, S. M. (2012). Kamus Ilmu Tasawuf. 2nd ed. Amzah.
- Usman, A. H., Shaharuddin, S. A., & Salleh, N. M. (2020). Elemen Syukur Dalam Psikoterapi Islam: Adaptasi Terhadap Rawatan Jurnal Pengajian Islam, 13 (1), 86–96.