
JurnalPost.com – Serial Netflix Squid Game menjadi fenomena global bukan hanya karena alur ceritanya yang menegangkan, tetapi juga karena kemampuannya menantang dan merefleksikan sistem kekuasaan serta ideologi yang berlaku di masyarakat kontemporer. Jika dilihat dari perspektif Cultural Studies, serial ini menjadi arena pertarungan makna, identitas, dan membuka peluang bagi perubahan sosial. Konsep hegemoni Antonio Gramsci sangat relevan di sini; ia menjelaskan bagaimana kelompok berkuasa menciptakan nilai dan aturan yang dianggap wajar dan diterima tanpa dipertanyakan. Dalam Squid Game, sistem permainan yang kejam dan aturan “yang kuat yang menang” memperlihatkan bagaimana kapitalisme ekstrem bekerja: individu dari kelas bawah dipaksa mempertaruhkan nyawa demi uang, sementara segelintir orang kaya hanya menonton dan bersenang-senang. Serial ini secara halus mengajak penonton untuk mempertanyakan apakah ketidakadilan sosial seperti ini memang sudah lumrah dan tak bisa diubah. Namun, ada juga perlawanan yang muncul, seperti yang diperlihatkan oleh tokoh Gi-hun dan kawan-kawannya yang berusaha bersatu melawan sistem yang sengaja dirancang agar mereka saling bersaing dan tunduk. Ini sejalan dengan gagasan Gramsci tentang “intelektual organik” yang berupaya membangkitkan kesadaran kolektif untuk melawan ketidakadilan.
Dari sudut pandang Michel Foucault, diskursus menjadi alat sekaligus hasil dari kekuasaan, menentukan apa yang dianggap normal dan benar. Squid Game membangun diskursus tentang kemiskinan, utang, dan keputusasaan yang sering dianggap wajar dalam sistem ekonomi saat ini. Dengan menampilkan kekerasan dan absurditas sistem, serial ini juga mengajak penonton untuk mengkritisi narasi keadilan dan kesetaraan yang selama ini diyakini. Sementara itu, teori Stuart Hall tentang representasi menyoroti bahwa makna tidak sekadar dicerminkan, tetapi diciptakan melalui proses yang dipengaruhi kekuasaan dan ideologi. Keberagaman karakter dalam Squid Game—dari pekerja migran Pakistan, perempuan Korea Utara, hingga veteran transgender—memunculkan diskusi tentang marginalisasi dan stereotip di masyarakat Korea maupun global. Namun, kritik tetap ada, misalnya soal representasi karakter transgender yang dianggap belum sepenuhnya akurat, menandakan bahwa perjuangan untuk representasi yang adil masih berlanjut. Hall mengingatkan bahwa politik representasi adalah proses yang terus berlangsung.
Menurut Dick Hebdige, budaya populer merupakan arena di mana makna diperebutkan antara kekuasaan dan perlawanan. Squid Game telah berkembang menjadi subkultur global, tercermin lewat meme, cosplay, hingga diskusi di media sosial yang menegosiasikan dan bahkan menantang pesan serial ini. Hal ini menunjukkan bahwa budaya populer dapat menjadi ruang negosiasi makna sekaligus perlawanan terhadap kekuasaan. Lebih dari sekadar menampilkan realitas pahit, Squid Game memicu percakapan global tentang ketidakadilan, keadilan sosial, dan pentingnya solidaritas. Serial ini membuktikan bahwa media populer mampu menjadi alat emansipasi, membangkitkan empati, serta mendorong aksi kolektif.
Kritik terhadap Squid Game seharusnya tidak berhenti pada level tontonan atau komentar semata. Penonton dan pembuat media perlu mendorong representasi yang lebih nyata dan inklusif, khususnya bagi kelompok minoritas serta yang terpinggirkan. Diskursus yang muncul dari serial ini idealnya digunakan untuk mendorong perubahan kebijakan sosial dan ekonomi, baik di tingkat lokal maupun global. Selain itu, penting untuk membentuk komunitas kritis yang tidak hanya menikmati budaya populer, tetapi juga aktif mengkritik dan membongkar sistem kekuasaan di baliknya. Pendekatan intersectionality atau melihat persilangan identitas juga memperkaya analisis, agar perjuangan emansipasi tidak hanya fokus pada satu sisi identitas, melainkan memperhatikan kerentanan ganda yang dialami individu dalam sistem yang kompleks. Pada akhirnya, Squid Game membuktikan bahwa budaya populer bukan sekadar hiburan, tetapi juga medan pertarungan ideologi, identitas, dan harapan untuk perubahan sosial yang lebih adil.