Gresik, JurnalPost.com – POPT Gresik dan BPP Desa Gedangkulut bergerak menanggapi persoalan mengenai hama wereng coklat yang sudah menyerang banyak lahan petani di Desa Gedangkulut. Langkah yang diambil oleh petugas yaitu memberikan sosialisasi mengenai hama wereng beserta bagaimana cara penanggulangan nya.
Petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) Alifia mengungkapkan bahwa wereng batang coklat di lahan petani merupakan wereng migrasi atau wereng pindahan yang berasal dari lahan lai
nnya. Sudah banyak lahan petani yang terserang hama wereng bahkan tidak di Kabupaten Gresik saja melainkan kota – kota lain nya juga sudah terserang hama wereng batang coklat.
“Wereng disini merupakan wereng migrasi/migran dari lahan lain jadi bukan berarti tiba – tiba dari lahan yang ada di Cerme” kata Alifia Senin (19/06/2023)
“Mengetahui wereng tersebut merupakan wereng migrasi karena disini ada wereng yang bersayap panjang dan dapat berpindah – pindah dari satu lahan ke lahan lain nya, jika wereng tiba – tiba muncul dalam jumlah yang banyak juga dapat dikatakan bahwa wereng tersebut merupakan wereng migrasi dari lahan lain nya” lanjutnya
Cara kerja wereng yaitu wereng akan menghisap cairan yang ada di dalam tanaman padi sehingga lama kelamaan tanaman tersebut akan mengalami kekeringan bahkan mati. Petani perlu membuat strategi agar wereng tidak menyukai tanaman yang ada di lahan nya agar jika ada wereng yang akan migrasi ke lahannya, wereng tersebut akan langsung berpindah ke lahan yang lain nya.
Cara agar wereng tidak menyukai lahan petani yaitu tidak membuat lahan menjadi lembab karena wereng menyukai tempat yang lembab, jadi petani tidak boleh mengairi tanaman nya terlalu banyak agar tidak lembab. Selanjutnya, wereng menyukai tanaman yang empuk, jadi petani juga perlu memberi pupuk yang membuat batang padi menjadi lebih keras, contohnya yaitu dengan kalsium.

Pengendalian untuk membasmi hama wereng dapat dilakukan dengan penanggulangan hayati dan pengendalian kimia. Jika dilihat wereng masih dapat ditanggulangi oleh pengendalian hayati maka tidak perlu melakukan pengendalian menggunaka bahan kimia, namun jika populasi wereng jika sudah diatas wajar mau tidak mau harus menggunakan penanggulangan dengan bahan kimia.
Penulis : Afifah Dinda Sofia, Dita Noer Novitasari, Muthiatur Rahmah (Mahasiswi Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur)