
Oleh :
Ni Putu Cyanda Cahya Dewi
A.A. Sayu Ag. Priyanka Indra Swari
JurnalPost.com – “Sering kali saya bingung harus memilih antara memenuhi panggilan kerja mendadak atau menemani anak belajar di rumah.” Ungkapan ini mencerminkan dilema yang kerap dialami ibu single parent yang bekerja. Pernyataan tersebut bukan sekadar keluhan pribadi, melainkan gambaran nyata konflik peran antara tuntutan pekerjaan dan tanggung jawab pengasuhan anak (Loupatty & Kusumiati, 2024) .
Di Indonesia, fenomena single parent lebih banyak dialami oleh ibu dibandingkan ayah. Data menunjukkan persentase ibu tunggal mencapai 14,84%, jauh lebih tinggi dibandingkan ayah tunggal sebesar 4,05% (Pagarwati, 2020). Kondisi ini menempatkan ibu single parent pada posisi harus menjalankan peran ganda, yakni sebagai pencari nafkah sekaligus pengasuh utama anak, yang kerap menimbulkan tekanan fisik dan psikologis (Br. Barus, 2021) .
Mengasuh anak tanpa pasangan bukanlah hal mudah. Selain tanggung jawab pengasuhan, ibu single parent juga harus menghadapi tuntutan ekonomi keluarga. Ketidakhadiran pasangan membuat ibu harus mengurus rumah tangga sekaligus bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup (Papalia et al., 2009). Penggabungan peran sebagai ibu dan pekerja inilah yang sering memicu work family conflict, yaitu konflik antara peran pekerjaan dan peran keluarga (Greenhaus & Beutell, 1985). Penelitian menunjukkan bahwa tingkat work family conflict pada ibu single parent cenderung lebih tinggi dibandingkan ayah tunggal, karena ibu lebih rentan mengalami kesulitan beradaptasi terhadap perubahan situasi (Loupatty & Kusumiati, 2024) .
Work family conflict dapat muncul ketika jam kerja panjang dan beban kerja tinggi menyita waktu dan energi yang seharusnya dialokasikan untuk keluarga. Greenhaus dan Beutell (1985) menjelaskan bahwa konflik ini terjadi ketika tuntutan pekerjaan dan keluarga saling berbenturan. Konflik yang terjadi akibat peran dalam pekerjaan yang mengganggu pelaksanaan dalam keluarga atau yang disebut work interfere family dapat terjadi ketika seorang ibu tunggal merasa bahwa pekerjaannya menghalanginya untuk menghabiskan waktu dengan anaknya. Di sisi lain, konflik juga dapat terjadi ketika peran dalam keluarga mengganggu pelaksanaan peran dalam pekerjaan atau yang disebut family interfere work dimana ibu tunggal yang merasa pekerjaannya menjadi terganggu akibat mengurusi kebutuhan anaknya (Netemeyer,1996).
Pada ibu single parent, konflik ini umumnya muncul dalam tiga bentuk. Pertama, time-based conflict, yaitu kesulitan membagi waktu antara pekerjaan dan keluarga. Kewajiban ibu single parent dalam bekerja seringkali mengurangi waktu bersama anaknya di rumah, terlebih jika pekerjaan dibawa hingga ke rumah sehingga dapat mengurangi waktu yang dihabiskan untuk keluarga atau bermain bersama anak-anak. Selain itu situasi akan menjadi lebih rumit bila anak yang harus diasuh masih memerlukan pengawasan seperti anak balita (Voydanoff, 1988).
Kedua, strain-based conflict, yaitu konflik yang dipicu oleh kelelahan fisik dan emosional. Karakteristik yang dapat memicu timbulnya konflik peran berdasarkan tegangan adalah ambiguitas peran, tuntutan fisik dan psikis dalam bekerja, serta perbedaan persepsi tentang peran. Misalnya ketika kita menemui seorang karyawan ibu single parent yang mengalami kelelahan fisik seperti nyeri akibat kelelahan yang mengakibatkan dirinya harus beristirahat dirumah dan terhalang untuk menyelesaikan tugas rumah tangga dan mengurus keluarganya (Hasanah & Matuzaroh, 2017). Di sisi lain, ketegangan emosional juga dapat dijumpai disaat ibu single parent yang kesulitan mengontrol emosinya akibat sudah lelah dengan pekerjaan menyebabkan ia terkadang tidak sengaja membentak atau memarahi anaknya .
Ketiga, behavior-based conflict, yaitu konflik akibat perbedaan tuntutan perilaku antara peran sebagai pekerja dan sebagai ibu. Di tempat kerja, ibu dituntut profesional dan tegas, sementara di rumah ia diharapkan hangat, penuh empati, dan responsif terhadap anak. Ketidakmampuan menyesuaikan perilaku ini meningkatkan risiko konflik peran (Hasanah & Matuzaroh, 2017) . Selain itu, konflik perilaku juga dapat terjadi ketika seorang ibu single parent merasa bingung mana yang harus dikerjakan terlebih dahulu, ketika harus memenuhi kebutuhan anak bersamaan dengan kebutuhan pekerjaan. Misalnya saat kita menemui ibu single parent yang terbiasa untuk melakukan kegiatan tertentu bersama anaknya pada saat akhir pekan, namun tiba-tiba terdapat panggilan pekerjaan yang mengganggu rutinitas yang biasa ia lakukan bersama anaknya.
Kesimpulannya, work-family conflict adalah isu serius yang mengancam kesejahteraan fisik dan mental ibu single parent di Indonesia. Dengan beban ganda sebagai pencari nafkah dan pengasuh tunggal, mereka membutuhkan dukungan lebih. Membangun sistem pendukung melalui keluarga atau komunitas, mengasah keterampilan manajemen waktu, serta tetap meluangkan waktu untuk self-care adalah langkah krusial agar kualitas hidup ibu dan perkembangan anak tetap terjaga di tengah tuntutan hidup yang tinggi.
Referensi
Br. Barus, D, A.2021. Gambaran Work –Family Conflict pada Ibu Single Parent Di Kabupaten Sikka. Psychopedia Jurnal Psikologi Universitas Buana Perjuangan Karawang. 6(2) : 11 –19.a
Denmark, F. L., & Pauldi, M. A. (2008). Psychology of Women: A Handbook of Issues and Theories. Praeger Publisher. ISBN 978-0-275-99162-3
Greenhaus, J. H., & Beutell, N. J. (1985). Sources of conflict between work and family roles. The Academy of Management Review, 10(1), 76. https://doi.org/10.2307/258214
Hasanah, S. F., & Matuzahroh, N. (2018). Work Family Conflict pada Single Parent. Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni, 1(2), 381-398.
Loupatty, A. G. F., & Kusumiati, R. Y. E. (2024, Juni). Gambaran Work Family Conflict pada Ibu Single Parent. Jurnal Cakrawala Ilmiah, 3(10).
Netemeyer, R. G., Boles, J. S., & McMurrian, R. C. (1996). Development and Validation of Work-Family Conflict and Family-Work Conflict Scales. Journal of Applied Psychology, 81(4), 400–410
Pagarwati, L. (2020). Profil pendidikan karakter anak dengan pengasuhan orang tua tunggal (single parent). Pedagogi: Jurnal Anak Usia Dini Dan Pendidikan Anak Usia Dini, 6(2), 68–80
Papalia, D. E., Feldman, R. D., & Olds, S. W. (2009). Human development. McGraw-Hill.
Voydanoff, P. (1988). Work Role Characteristics, family Structure Demands, and Work/Family Conflict. Journal of Marriage and the Family. 50, (3), 749-761