
Oleh: Sebastian Dimas
JurnalPost.com – Kalau kita ingin berbicara mengenai pariwisata, kebanyakan orang langsung terpikir pantai indah, kuliner khas, atau spot foto yang apik. Padahal, ada satu hal yang sering luput dibahas, tapi justru jadi penentu utama dalam setiap pengalaman wisata yakni komunikasi.
Saya Sebastian Dimas Satria Mahasiswa Untag Angkatan 2023 Prodi Ilmu Komunikasi, ingin menuliskan bagaimana penerapan komunikasi dalam industri Pariwisata di Indonesia terkhusus pada daerah Pacitan, Jawa Timur. Pacitan, sebuah daerah di pesisir selatan Jawa Timur, bisa jadi contoh menarik. Dikenal dengan julukan “Kota 1001 Goa”, Pacitan punya banyak potensi wisata yang saat ini sedang berkembang, mulai dari Pantai Klayar yang ikonik sampai Goa Gong yang megah. Tapi, potensi saja tidak cukup. Cara elemen komunikasi di dalamnya justru jadi kunci apakah wisatawan akan datang kembali atau tidak.
Pertama, komunikasi antara pelaku wisata dan pengunjung. Di banyak destinasi di Pacitan, kita bisa melihat bagaimana keramahan warga lokal jadi daya tarik tersendiri. Sapaan sederhana, petunjuk arah yang jelas, atau sekadar obrolan ringan bisa membuat wisatawan merasa lebih diterima. Hal-hal kecil seperti ini seringkali lebih membekas daripada fasilitas yang mewah. Hal ini juga sempat di singgung oleh Pak Widiyatmo Ekoputro selaku dosen Komunikasi Pariwisata semester 6. Beliau menyatakan bahwa interaksi langsung antara pengunjung dan warga sekitar terutama yang terdampak dari berkembangnya pariwisata di suatu daerah, sering kali menjadi kunci “candu” tersendiri dalam penyebaran informasi baik mengenai suatu destinasi.
Namun, di sisi lain, masih ada tantangan. Misalnya, informasi yang belum merata, tidak semua tempat wisata memiliki papan petunjuk yang jelas atau penjelasan yang memadai. Di sinilah pentingnya komunikasi yang terstruktur dengan baik melalui brosur, maupun platform digital, wisatawan zaman sekarang cenderung mencari informasi cepat dan praktis. Kalau informasi sulit diakses, minat bisa langsung turun.
Kedua, komunikasi dalam promosi. Pacitan sebenarnya punya banyak potensi wisata, tapi tidak semuanya tersampaikan dengan maksimal. Media sosial sudah mulai dimanfaatkan, tapi seringkali masih belum konsisten. Padahal, dengan strategi komunikasi yang tepat misalnya penjelasan tentang budaya lokal atau pengalaman unik, Pacitan bisa tampil lebih menonjol dibanding destinasi lain. Menariknya, beberapa komunitas lokal sudah mulai bergerak ke arah ini. Mereka membuat konten sederhana, tapi jujur dan dekat dengan kehidupan sehari-hari. Justru pendekatan seperti ini yang terasa lebih autentik dan mudah diterima oleh calon wisatawan.
Ketiga, komunikasi antar pemangku kepentingan. Industri pariwisata tidak bisa jalan sendiri-sendiri. Pemerintah daerah, pelaku usaha, komunitas, hingga masyarakat harus punya “bahasa” yang sama. Kalau tidak, yang muncul justru kebingungan baik bagi pengelola maupun wisatawan. Sedangkan di Pacitan, kolaborasi ini sudah mulai terlihat, meskipun belum sempurna. Misalnya dalam pengelolaan beberapa destinasi yang melibatkan warga setempat. Ketika komunikasi berjalan baik, hasilnya pun terasa, seperti lingkungan lebih terjaga, pelayanan lebih rapi, dan wisatawan pun lebih nyaman.
Pada akhirnya, komunikasi dalam pariwisata bukan sekadar soal berbicara atau memberi informasi. Ini soal bagaimana membangun pengalaman dan Pacitan mengajarkan bahwa keindahan alam memang penting, tapi cara menyampaikannya ke dunia luar dan cara menyambut orang yang datang itu yang menentukan apakah sebuah tempat hanya dikunjungi sekali atau justru dirindukan untuk kembali. Jadi, kalau ingin mengembangkan pariwisata, mungkin kita tidak selalu harus mulai dari pembangunan besar-besaran. Kadang, cukup dengan memperbaiki cara kita berkomunikasi. Karena dari situlah semua kesan bermula.