Oleh : Millendra Michel Effendi (mahasiswa Komunikasi Digital dan Media SV IPB)
JurnalPost.com – IBL(Indonesian Basketball League) adalah salah satu ajang kompetisi basket nasional yang diselenggarakan setiap tahunnya di Indonesia dengan format tim yang mewakili salah satu kota dari seluruh wilayah Indonesia. IBL sendiri dikelola oleh Perbasi Indonesia dan telah diikuti oleh 14 klub peserta dari seluruh Indonesia. Pada mulanya, IBL dimulai tahun 2003 menggunakan format kompetisi yang hanya berpusat di enam kota besar hingga tahun 2023.
Bak meniru kompetisi nasional serupa yang ada di Amerika yaitu kompetisi basket paling bergengsi di dunia NBA(National Basketball America), Perbasi(Persatuan Basket Seluruh Indonesia) ternyata menyiapkan kejutan yang besar untuk para pecinta basket tanah air. Kejutan yang diberikan antara lain adalah format pertandingan yang menggunakan sistem home and away dimana setiap tim yang ikut serta harus memiliki home base atau lapangan kandang sendiri untuk menyelenggarakan acara tersebut.
Format dari kompetisi home and away sendiri sebenarnya bertujuan untuk lebih “menggaet supporter lokal” yang bisa membawa euforia tersendiri bagi masing-masing tim yang membela kota yang dijadikan kandangnya walaupun, masih ada beberapa kota yang diwakili oleh lebih dari satu tim maupun kota yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan asal timnya sendiri. Sebagai contoh tim Pelita Jaya, Amartha Hangtuah, dan Satria Muda Pertamina yang mewakili Kota Jakarta, sedangkan ada tim Borneo Hornbills yang mewakili Pontianak di Kalimantan malah memilih Kabupaten Bogor sebagai kandangnya untuk berkompetisi di IBL 2024.
Ada beberapa kemungkinan hal-hal tersebut bisa terjadi yang tentunya didasari dari modal ataupun salary milik setiap tim yang berbeda-beda dan pada tahun ini hanya dibatasi sebesar 10 miliar. Walaupun ternyata IBL mendapatkan sponsor dari jasa penerbangan untuk memberikan tiket gratis dalam laga tandang, hal itu juga belum cukup untuk menutup biaya operasional yang harus dikeluarkan oleh tim-tim peserta dalam melaksanakan laga kandang. Laga kandang menjadi suatu tantangan bagi semua tim karena, memang untuk menyiapkan sebuah fasilitas GOR yang memiliki akreditasi kelayakan standart oleh IBL & perbasi harus mengeluarkan banyak modal dalam melakukan renovasi.
Mayoritas lapangan ataupun GOR yang dipakai masih belum sesuai dengan standar IBL meliputi akses parkir, tribun penonton, kelayakan lapangan dan masih banyak lagi. Pada akhirnya banyak sekali tim potensial yang bubar karena banyaknya kasus permasalahan biaya pada internal tim. Belum lagi karena adanya aturan baru yang menetapkan bahwa diperbolehkan adanya 3 pemain asing dan 1 pemain naturalisasi/heritage untuk bisa bergabung dalam game membuat para pemain lokal harus bisa step-up untuk bersaing dengan mereka dalam memperebutkan menit permainan.
Dengan banyaknya perubahan format kompetisi yang terjadi, kekhawatiran masyarakat, tim-tim peserta dan tentunya perbasi cukup terbayarkan dengan suksesnya gelaran pertandingan pembuka kompetisi IBL di awal musim ini dengan ditandai ramainya penonton pada setiap laga