Kembali
Mode hapus aktif. Klik paragraf, foto, judul, tabel, atau bagian lain yang tidak ingin masuk PDF.
JurnalPost.com

Seni Memimpin Tanpa “Menindas”: Menerapkan Kepemimpinan Humanistik di Era Hustle Culture

Tim Editor: Redaksi · Tanggal: 9 Agustus 2026

Oleh: Dwi Yuliani Apriliya, PJJ Komunikasi – Universitas Siber Asia

Mendorong terciptanya ruang kerja yang inklusif dan bebas burnout melalui pendekatan berbasis pertumbuhan manusia serta kesejahteraan emosional.

Waingapu, JurnalPost.com – Di tengah maraknya fenomena hustle culture dan burnout yang melanda kalangan generasi muda saat ini, banyak mahasiswa dan pekerja muda di berbagai organisasi kampus hingga lingkungan profesional modern merasa tertekan akibat gaya kepemimpinan yang otoriter dan hanya berfokus pada target angka. Pendekatan instruktif satu arah ini terbukti mempengaruhi kesehatan mental serta kemampuan inovasi anggota kelompok. Untuk mengatasi kasus ini, para pemimpin muda diharapkan mengubah gaya kepemimpinan mereka melalui Estetika Humanisme dan Psikologi Humanistik.

Dalam kajian Mata Kuliah Umum (MKU) Estetika Humanisme, memimpin sebuah organisasi bukan sekedar tentang pembagian tugas teknis (task delegation) atau pamer kekuasaan, melainkan sebuah seni memanusiakan manusia. Kepemimpinan yang didasarkan pada estetika humanisme menciptakan keseimbangan antara pemenuhan tujuan organisasi dan kesejahteraan batin individu.

Pendekatan kepemimpinan ini menggabungkan teori Kepemimpinan Pelayan (Servant Leadership) dan Kepemimpinan Humanistik. Menurut Stogdill (1948), kepemimpinan adalah proses di mana seseorang membimbing atau mempengaruhi kelompok tertentu (atau organisasi) untuk mencapai atau melaksanakan tujuan tertentu. Selain itu, Kepemimpinan Pelayan (Servant Leadership) dibangun atas dasar pemimpin yang baik yang melayani, melindungi, dan menjaga kesejahteraan fisik serta mental para pengikutnya agar mereka menjadi mampu untuk mengatur dan mengelolah diri mereka sendiri ke depannya.

“Kepemimpinan bukan hanya tentang kemampuan memimpin suatu kelompok, melainkan kemampuan yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari untuk membawa perubahan positif. Pemimpin masa depan adalah mereka yang berfokus pada pembangunan modal sosial (social capital)—seperti aspek kepercayaan, nilai, norma, dan jaringan kerja sama—serta mampu memanusiakan anggotanya.”

— Rosanah, S.S., M.I.Kom., AMIPR (Dosen Pengembang MKU Estetika Humanisme).

Tips & Trik Untuk Kepemimpinan yang Efektif.
Guna menerapkan ruang kerja dan organisasi yang estetis, bebas burnout, serta adaptif di era hustle culture, Berikut langkah-langkah untuk membantu melaksanakan kerangka kerja ini dari perspektif psikologi berbasis humanism :

1. Dari Bos ke Fasilitator (Pendekatan Berorientasi Pada Orang)
Salah satu pendekatan awal humanisme adalah pendekatan berorientasi pada orang yang dikembangkan oleh Carl Rogers. Dengan jenis pendekatan ini, seorang pemimpin berhenti bertindak sebagai atasan yang dominan yang membuat keputusan secara otoritatif, dan mulai bertindak sebagai fasilitator. Pemimpin menciptakan ruang yang aman bagi anggota untuk mengungkapkan ide-ide mereka dan memfasilitasi kebutuhan mereka untuk berkembang. Ini mendukung pengembangan peningkatan kelincahan belajar dan keterbukaan dalam komunikasi di dalam sebuah organisasi.

2. Menghargai Proses, Bukan Hanya Hasil (Memenuhi Harga Diri)
Dalam hierarki kebutuhan dalam Psikologi Humanistik, pemenuhan harga diri sangatlah penting. Dalam gaya kepemimpinan transaksional yang mendominasi sebagian besar organisasi, hadiah diberikan hanya ketika tujuan tercapai (berorientasi hasil). Humanisme mengambil pendekatan yang berlawanan terhadap hal ini dengan memasukkan penghargaan terhadap usaha, kerja keras, dan kemajuan setiap individu. Ketika upaya diakui, anggota merasa bahwa mereka dihargai sebagai keseluruhan pribadi, bukan sebagai “Average Joe” dalam sistem organisasi.

3. Menormalisasi Kerentanan & Kesadaran Diri
Kepemimpinan yang efektif dimulai dari kesadaran diri. Pemimpin yang paling berani adalah yang sadar diri dan rentan. Ini berarti mereka mengakui ketika mereka lelah, mengakui keterbatasan mereka, dan secara aktif mendengarkan masukan. Pemimpin seperti ini jauh lebih dihargai daripada pemimpin yang pura-pura sempurna. Pendekatan ini mengurangi tembok ketakutan, dan membangun jaringan kepercayaan dalam system organisasi.

Dalam arus kompetisi internasional yang cepat, keberhasilan suatu organisasi tidak lagi dinilai dari seberapa jauh seorang pemimpin dapat mendorong bawahannya. Saat ini, ide-ide kepemimpinan yang paling progresif menekankan seberapa jauh seorang pemimpin dapat memberdayakan orang lain dan membangun iklim kerja yang sehat secara emosional.

Harapan terbaik adalah generasi muda dan aktivis mahasiswa mulai mengadopsi ide-ide kepemimpinan baru yang progresif dan menerapkannya dalam kepemimpinan diri mereka sendiri maupun dalam organisasi tempat mereka menjadi bagian. Beberapa hal konkret yang dapat dipelajari hari ini dan dilatih setiap hari meliputi:

1. Mengembangkan Keterampilan Mendengar secara Aktif: Memberikan perhatian penuh tanpa gangguan sambil sepenuhnya menghargai tantangan yang dihadapi anggota.
2. Membentuk Modal Sosial: Membangun perpaduan harmonis antara rasa percaya, nilai kejujuran, dan solidaritas internal.
3. Menggunakan Solusi Kreatif untuk Masalah yang Empatik: Fokus pada penyelesaian masalah dengan tujuan mengatasi ketegangan dan menghilangkan celah ketimpangan, bukan menyalahkan atau membatalkan secara sepihak.

Referensi / Daftar Pustaka
1. Coleman, J. S. (1999). Social Capital in the Creation of Human Capital. American Journal of Sociology.
2. Dubin, R. (1951). Human Relations in Administration. New York: Prentice-Hall.
3. Fukuyama, F. (1996). Trust: The Social Virtues and the Creation of Prosperity. Free Press.
4. Rosanah. (2024). Modul Pembelajaran MKU Estetika Humanisme Sesi 11: Leadership; Seni dan Gaya Kepemimpinan. Jakarta: Universitas Siber Asia.
5. Stogdill, R. M. (1948). Personal Factors Associated with Leadership: A Survey of the Literature. Journal of Psychology, 25, 35-71.

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/read/seni-memimpin-tanpa-menindas-menerapkan-kepemimpinan-humanistik-di-era-hustle-culture/27630/
Dicetak dari JurnalPost.com pada 07 November 2026 23:04.