
Oleh: Komang Novi Triyanti – Mahasiswa Universitas Siber Asia
Pendahuluan
Di era digital dan industri media saat ini, perceraian publik figur sering kali menjadi komoditas konsumsi publik yang dipenuhi oleh perdebatan, saling sindir di media sosial, hingga perebutan hak asuh anak yang menguras emosi. Fenomena ini kerap memicu budaya cancel culture dan ujaran kebencian di kalangan netizen yang menyaksikan konflik tersebut secara terbuka. Namun, dinamika hubungan antara Gading Marten dan Gisella Anastasia (Gisel) pasca-perceraian pada tahun 2019 menyajikan cerita yang berbeda. Di tengah terpaan ujian dan sorotan media yang masif, keduanya mampu memperlihatkan bentuk kedewasaan emosional yang tinggi. Fenomena ini tidak hanya menarik perhatian publik, tetapi juga menjadi contoh nyata bagaimana Emotional Intelligence (EQ) dan literasi kemanusiaan (Human Literacy) diterapkan dalam menghadapi krisis kehidupan pribadi.
Landasan Teori: Emotional Intelligence & Human Literacy
Kecerdasan Emosional (Emotional Intelligence), sebagaimana dipopulerkan oleh Daniel Goleman, mencakup lima elemen utama: self-awareness (kesadaran diri), self-regulation (pengendalian diri), motivation (motivasi), empathy (empati), dan social skills (keterampilan sosial). Dalam perspektif MKU Estetika Humanisme, kecerdasan emosional merupakan bagian integral dari Human Literacy—kemampuan manusia untuk memahami, merespons, dan memanusiakan sesamanya dengan penuh kebijaksanaan, bukan dengan dorongan impulsif atau ego semata.
Analisis Kasus: Kedewasaan Emosional Gading dan Gisel
- Pengendalian Diri (Self-Regulation) di Tengah Badai
Proses perpisahan maupun dinamika setelahnya tentu melibatkan rasa sakit hati dan kekecewaan. Namun, baik Gading maupun Gisel menunjukkan self-regulation yang luar biasa. Mereka memilih untuk tidak mengumbar aib, tidak saling serang di media sosial, serta menahan diri dari godaan mengeksploitasi masalah pribadi demi simpati publik.
- Empati dan Co-Parenting yang Sehat
Salah satu cerminan tertinggi dari kecerdasan emosional adalah empati—kemampuan untuk menempatkan kepentingan orang lain di atas ego pribadi. Dalam kasus ini, kepentingan psikologis dan tumbuh kembang anak mereka, Gempita Nora Marten (Gempi), menjadi prioritas utama. Gading dan Gisel berhasil menjalankan pola co-parenting yang harmonis: menghadiri acara sekolah bersama, merayakan momen penting anak, hingga berlibur bersama tanpa canggung.
- Dukungan Moral dan Nilai Kemanusiaan (Human Literacy)
Ketika salah satu pihak diterpa cobaan berat di ruang publik, sikap tidak saling menjatuhkan justru diperlihatkan. Gading tetap memberikan dukungan moral sebagai bentuk rasa hormat dan empati kepada ibu dari anaknya. Sikap ini memperlihatkan nilai dasar humanisme: bahwa manusia memiliki ruang untuk memaafkan, menghargai perjalanan masa lalu, dan tetap berbuat baik meski status hubungan telah berubah.
Refleksi Bagi Masyarakat Digital
Sikap yang ditunjukkan oleh Gading Marten dan Gisel memberikan pelajaran berharga bagi masyarakat luas, khususnya para pengguna media sosial. Di era Society 5.0 di mana batas ruang pribadi dan publik makin kabur, emosi netizen kerap kali terprovokasi oleh narasi konflik. Kasus Gading dan Gisel membuktikan bahwa konflik tidak harus diselesaikan dengan permusuhan. Kedewasaan emosional memungkinkan seseorang untuk menyelesaikan masalah dengan martabat dan kepala dingin.
Kesimpulan
Kecerdasan emosional bukan berarti meniadakan rasa sakit atau kesedihan, melainkan kemampuan untuk mengelola emosi tersebut secara bijaksana. Melalui perspektif Estetika Humanisme, hubungan pasca-perceraian Gading Marten dan Gisel mengajarkan kita bahwa memanusiakan mantan pasangan dan menekan ego pribadi demi kebahagiaan anak adalah bentuk tertinggi dari kedewasaan emosi. Di dunia yang makin didominasi teknologi, kecerdasan emosional dan empati tetap menjadi identitas utama kemanusiaan kita yang tidak dapat digantikan oleh apa pun.
Daftar Pustaka:
- Goleman, D. (1995). Emotional Intelligence: Why It Can Matter More Than IQ. New York: Bantam Books.
- Yunus, R. M. (2021). Increasing Human Literacy for Generation Z Through Learning to Use Technology in Indonesia. International Journal of Science and Society, 3(4), 245-256.
- Universitas Siber Asia. (2025). Modul Pembelajaran MKU Estetika Humanisme: Human Literacy. Jakarta: Universitas Siber Asia.
- (2022, 29 Desember). Uhuy… Gading Marten, Gempi dan Gisel Akhirnya Liburan Bareng. Detikhot. Tautan: https://hot.detik.com/celeb/d-6487135/uhuy-gading-marten-gempi-dan-gisel-akhirnya-liburan-bareng