Oleh: Yolanda Natalia Fau
Mahasiswa Universitas Pamulang
JurnalPost.com – Pernah nggak sih kalian merasa pengen beli sesuatu cuma karena viral di tiktok? Entah berupa makanan, minuman, atau barang berupa lipstik yang katanya ” Auto cantik” Atau tempat nongkrong misal sebuah caffe yang lagi ramai di releview. Lucunya kadang kita sebenarnya nggak terlalu butuh/bahkan nggak begitu penasaran, tapi karena muncul terus di fyp dan teman-teman juga pada nyobain, jadi kita merasa takut ketinggalan. Kita merasakan seperti ada tekanan/bisikan “eh masa kamu blm coba sih” Tanpa kita sadari dari situ akhirnya kita ikut”an.
Fomo adalah rasa takut ketinggalan/momen yang lagi ramai di media sosial. Sederhana nya fomo terjadi ketika kita merasakan semua orang sudah mencoba sementara kita belum. Akibat dari itu kita merasa bakal di katain kurang update/ketinggalan zaman dan pada akhirnya kita ikut”an agar di anggap nyambung dengan tren yang lagi viral.
Peran media sosial dalam memicu fomo berperan besar dalam menciptakan fomo. Algoritma di tiktok, instagram, dan YouTube sengaja menampilkan konten yang sedang ramai agar makin banyak orang yang tertarik. Konten yang muncul beberapa kali sampai kita merasa “hmm” Kayaknya semua orang sudah mencoba. Padahal pada dasarnya yang muncul cuman konten yang di pilih algoritma, bukan realita dari seluruh Dunia. Ini lah yang membuat tren kelihatan lebih besar dari kenyataan. Media sosial juga membentuk standar kepalsuan tentang apa yang harus di beli, kemana harus pergi, bahkan seperti apa yang harus ditampilkan. Semua itu mendorong kita anak muda untuk slalu mengikuti arus, meski ada dasarnya tren itu tidak cocok/bener dibutuhkan.
Contoh nyata pengalaman saya sendiri paling sederhana pada saat lagi tren mengunakan handphone iPhone. Saya sendiri pernah ngalamin hal ini—rasanya pengen banget punya iPhone karena banyak teman yang sudah memiliki. Di media sosial, iPhone digambarkan sebagai simbol keren, kekinian, dan dianggap lebih “wah” dibandingkan Android. Tapi setelah dipikir saya pikir ” Saya sadar kalau Android yang saya pakai sekarang masih bagus dan bisa mendukung kebutuhan sehari-hari.
Toh, kalau maksain beli cuma karena tren, yang ada saya sendiri yang kewalahan nanti aqapalagi kalau ada kebutuhan penting lainnya. Dari situ saya jadi mikir: nggak semua hal yang viral harus diikuti. Kadang tren itu cuma terlihat besar karena media sosial memperlihatkannya terus menerus. Yang penting, kita cermat melihat kondisi diri sendiri, bukan ikut-ikutan tanpa mikir.
FOMO juga dapat berdampak pada kehidupan sehari-har FOMO bisa bikin orang konsumtif, mudah terbawa arus, dan merasa kurang kalau belum mencoba hal yang sedang viral. Banyak yang jadi boros, beli barang yang tidak dibutuhkan, atau pergi ke tempat yang sebenarnya tidak begitu menarik hanya demi konten. Bahkan, ada yang sampai memaksakan kondisi finansial hanya supaya terlihat sama seperti orang lain di media sosial. Tekanan untuk selalu “update” ini bisa membuat seseorang kehilangan kontrol dan lupa bahwa setiap orang punya situasi dan kebutuhan yang berbeda.
Hubungan dengan Literasi Media Fenomena ini berhubungan langsung dengan literasi media karena FOMO muncul ketika kita menerima konten media tanpa berpikir kritis. Literasi media membantu kita memahami bahwa tidak semua yang viral itu penting atau benar-benar kita butuhkan. Dengan literasi media, kita bisa menilai apakah tren tersebut bermanfaat atau hanya sekadar dorongan sesaat dari media sosial. Artinya, semakin kita paham cara kerja media, semakin bijak juga kita dalam menghadapi tren.
Pada akhirnya, tidak ada salahnya mengikuti tren, tetapi tidak semuanya harus kita ikuti. Media sosial memang selalu menawarkan hal-hal baru tiap hari, tapi kita tetap bisa memilih mana yang sesuai kebutuhan dan mana yang cuma sekadar ikut-ikutan. Tren akan datang dan pergi, tapi yang penting adalah kemampuan kita untuk tetap sadar, tidak terburu-buru, dan tidak merasa harus selalu sama dengan orang lain yang kita lihat di layar. Terimakasih