
JurnalPost.com – Macedonia sendiri berada tepatnya di Semenanjung Balkan Eropa Selatan yang mana berbatasan langsung dengan beberapa negara seperti Yunani, Kosovo, Albania dan Yugoslavia serta Bulgaria. Sejak zaman dahulu wilayah Makedonia sudah menjadi tempat persimpangan yang menghubungkan antara laut Adriatik dan Bosporus, juga laut Aegea dan Danube. Makedonia sendiri mendapatkan nama wilayahnya dari Kerajaan kuno Makedonia, yang mana pada saat itu berpusat di selatan wilayah tersebut. Pada abad ke 4 SM, Makedonia memperluas daerah kekuasaannya ke Utara hingga ke semenanjung Balkan dan semua Mediterania. Pada abad ke 2 SM Makedonia menjadi sebuah provinsi Romawi, hal ini disebabkan karena ketika kekaisaran Romawi terbagi menjadi timur dan barat, Makedonia menjadi bagian timur yang kemudian kita kenal dengan kekaisaran Bizantium. Pada abad ke 14 M Makedonia jatuh ke dalam kekuasaan kekaisaran Ottoman. Pada abad ke 15 sebagian besar orang Yahudi di usir dari Spanyol dan menetap di Makedonia, karena Makedonia sebagai tempat bersaing dengan orang Yunani untuk perdagangan.
Pada tahun 1878, Makedonia jatuh ke tangan Bulgaria karena terjadinya perang Rusia dan Turki 1877-1878 melalui perjanjian San Stefano yang memaksa Ottoman memberikan kemerdekaannya pada Bulgaria. Selama kurang lebih 3 dekade selanjutnya Makedonia menjadi sasaran bagi Yunani, Bulgaria dan ekspansi Serbia. Masing-masing negara ini mengklaim adanya ikatan etnis dan sejarah yang dekat dengan Makedonia dibandingkan negara lain. Kemudian, pada tahun 1893 didirikan sebuah organisasi yang bernama Organisasi Internal Revolusioner Makedonia (IMRO) yang bertujuan untuk mendukung perjuangan kemerdekaan bagi Makedonia. Pada tahun 1903 IMRO memimpin sebuah pemberontakan Ilinden yang mana mengakibatkan pemberontakan tersebut berjalan dengan cepat dan brutal sehingga pada akhirnya dibubarkan oleh otoritas Ottoman. Yang pada akhirnya antara tahun 1903 sampai 1908 konflik ini dikenal dengan perjuangan Makedonia.
Pada tahun 1912 terdapat tiga negara yaitu Bulgaria, Serbia, dan Yunani membentuk persatuan liga Balkan untuk mengambil kendali atas wilayah Makedonia dari Turki. Akhirnya mereka berhasil mencapai tujuan pertama perang Balkan (1912- 1913) tetapi kemudian hal ini tidak berjalan dengan mulus yang mana membuat ketiga negara ini bertengkar satu sama lain mengenai bagaimana cara membagi Makedonia tersebut. Akhirnya pembagian Makedonia pun terjadi, yang mana pada tahun 1913 terdapat sebuah perjanjian yang menetapkan separuh wilayah selatan ke Yunani dan menaminya “Yunani Utara”, separuh Utara ke Serbia dan menamainya dengan “Serbia Selatan” dan sebagian lagi ke Bulgaria. Tidak lama kemudiaa ketika perang dunia II, Bulgaria mengambil alih seluruh Makedonia kecuali Tesalonika dan menghapus nama Makedonia. Pada tahun 1914 perang dunia I terjadi dan disini Bulgaria memihak Blok Sentral dan pada tahun 1915 Serbia menduduki wilayah Makedonia yaitu Varda. Tetapi pada saat itu Blok Sentral mengalami kekalahan dan perang dunia pertama berakhir pada tahun 1918 yang akhirnya membuat pembagian wilayah Makedonia pada tahun 1913 diperjelas kembali yang membuat Makedonia terpecah belah.
Pada tahun 1925 terbentuklah Internal Macedonia Revolutionary Organization (United) atau yang disingkat dengan VMRO. Tujuan didirikannya VMRO ini adalah untuk membebebaskan Makedonia dalam masalah geografi dan ekonomi negaranya serta untuk membuat unit politik yang independen yang mana nantinya diharapkan akan menjadi anggota setara untuk Federasi Balkan di Makedonia. Pada tahun 1941 terjadilah perang dunia II dan disini Bulgaria sebagai sekutu Jerman yang dipimpin Hilter mengambil hampir seluruh wilayah Makedonia. Tidak tinggal diam, Makedonia meluncurkan perang untuk membebaskan Makedonia dari tangan Bulgaria. Pada tahun 1943 berdirilah partai komunis Makedonia. Dan pada tahun 1944 Majelis Anti-Fasis dari Pembebasan Nasionl Makedonia memproklamirkan negara Makedonia tersebut. Acara ini dihadiri oleh perwakilan wilayah Makedonia yang bertujuan untuk memutuskan konstitusi Makedonia modern sebagai anggota Federasi Yugoslavia yang baru.
Pada tahun 1945, perbatasan internal Makedonia dikembalikan ke garis awal seperti semula. Menjelang akhir perang dunia ke ll di Eropa, para pejabat Yugoslavia pada tanggal 2 Agustus 1944 menetapkan Republik Rakyat Makedonia sebagai salah satu dari enam republik konstituen negara tersebut yang kemudian berakhir menjadi Republik rakyat federal Makedonia, Yugoslavia. Yang kemudian berubah menjadi Republik Sosialis Makedonia. Pada tahun 1946 Bulgaria resmi mengakui keberadaan bangsa Makedonia. singkat cerita sampailah pada tanggal 8 September 1991, Yugoslavia terpecah ketika Slovenia, Kroasia dan Bosnia mendeklarasikan kemerdekaan negaranya. Sehingga membuat Republik Makedonia didirikan sebagai negara yang merdeka melalui pemungutan suara warganya. Awalnya Republik Sosialis Makedonia mendeklarasikan kemerdekaannya dari Yugoslavia sehingga menjadi Republik Makedonia Bekas Yugoslavia. Tetapi, Makedonia tidak puas dengan pemerintah mereka yang baru, sehingga pada tanggal 19 September 1991, Makedonia mendeklarasikan negaranya sebagai republik merdeka dengan suara yang hampir bulat melalui pemungutan suara warganya tersebut. Presdien pertama Makedonia adalah Kiro Gligrov dan membuat konstitusi yang baru untuk mendeklarasikan Makedonia ini sebagai salah satu negara yang berdaulat , beradab, merdeka dan demokratis serta adanya pengakuan terhadap kesetaraan penuh antara masyarakat Makedonia dan etnis minoritas lainnya yang ada di Makedonia ini.
Dua tahun setelah mendeklarasikan diri, pada tahun 1993 Makedonia diterima di PBB. Dan pada tahun 1994 Yunani takut jika Makedonia mengajukan klaim atas sejarah, budaya dan bahasa. Sehingga menyebabkan Yunani bersikeras membuat pernyataan bahwa tidak ada negara yang bernama Makedonia dan bahwa masyarakat Makedonia tidak boleh dan tidak berhak menggunakan nama Makedonia tersebut. Untuk menyikapi hal tersebut Yunani memberlakukan embargo kepada Makedonia karena Makedonia menolak untuk mengganti nama negara, bahasa dan bangsanya.
Penulis : Serli Handayani
Universitas Teknologi Yogyakarta
Prodi Ilmu Hubungan Internasional