Kembali
Mode hapus aktif. Klik paragraf, foto, judul, tabel, atau bagian lain yang tidak ingin masuk PDF.
JurnalPost.com

Sejarah Hubungan Diplomatik China dan Djibouti Terkait Program Belt and Road Initiative (BRI)

Tim Editor: Redaksi · Tanggal: 21 Januari 2024

JurnalPost.com – Pada tahun 2013, China mengumumkan inisiatif besar yang dikenal sebagai Belt and Road Initiative (BRI), sebuah proyek ambisius yang bertujuan untuk membangun infrastruktur dan meningkatkan konektivitas ekonomi di seluruh dunia. Salah satu cermin dari kebijakan luar negeri ini terlihat dalam eratnya hubungan antara China dan Djibouti, sebuah negara kecil di Afrika Timur yang menjadi salah satu titik fokus BRI. Proyek Belt and Road Initiative sendiri melintasi jalur sutra yang telah dibuat oleh China, dimana jalur sutra tersebut merupakan daerah-daerah yang pernah dijajah dimasa lampau kemudian diberikan investasi dalam bentuk pembangunan infrastruktur dan investasi ekonomi. Djibouti merupakan negara yang masuk ke dalam jalur sutra tersebut.

Djibouti, yang terletak di pintu gerbang Laut Merah dan Jalur Suez, memiliki posisi strategis yang penting. Sejak awal peluncuran BRI, China melihat Djibouti sebagai basis penting untuk memperluas pengaruhnya di kawasan tersebut. Pada tahun 2015, China membuka pangkalan militer di Djibouti, yang menjadi pangkalan militer luar negeri pertama China. Langkah ini memperkuat kehadiran militer China di kawasan tersebut dan memberikan kontribusi besar terhadap keamanan maritim dan ketahanan energi.

Selain pangkalan militer, China juga telah menginvestasikan dana besar dalam proyek infrastruktur di Djibouti. Proyek-proyek tersebut mencakup pembangunan pelabuhan, jalan raya, dan fasilitas logistik. Investasi ini tidak hanya meningkatkan konektivitas Djibouti secara internal, tetapi juga memberikan akses yang lebih baik ke laut bagi China, memperkuat jalur perdagangan mereka. Oleh sebab itu, ekonomi Djibouti sangat bergantung pada China, dimana hal ini dibuktikan dengan hutang negara di Djibouti yang sangat besar kepada China dibanding dengan negara lain, dengan besaran hutang Djibouti ke China mencapai 80%.

Namun, hubungan antara China dan Djibouti juga menghadapi tantangan. Beberapa pihak mengkhawatirkan dampak utang yang ditimbulkan oleh proyek-proyek infrastruktur China di Djibouti. Meskipun China membantah tudingan ‘jebakan utang’, ketidakpastian ekonomi dan politik di Djibouti menjadi sorotan dalam diskusi seputar dampak BRI.

Seiring berjalannya waktu, hubungan ini terus berkembang, mencerminkan dinamika kompleks di antara negara-negara yang terlibat dalam Belt and Road Initiative. Djibouti tetap menjadi pintu gerbang strategis bagi China di kawasan Afrika Timur, sementara China terus berupaya membangun kerjasama yang saling menguntungkan dalam rangka mencapai tujuan-tujuan ekonomi dan politiknya.

Ketergantungan Ekonomi Djibouti Pada China Melalui Bantuan Infrastruktur dan investasi BRI

Ketergantungan ekonomi Djibouti pada China melalui Bantuan Infrastruktur dan Investasi Belt and Road Initiative (BRI) mencerminkan dinamika kompleks antara keuntungan ekonomi dan risiko potensial.

Keuntungan Ekonomi:

1. Infrastruktur Penting: Proyek-proyek BRI, terutama di sektor infrastruktur seperti pelabuhan, telah meningkatkan konektivitas dan memperbaiki fasilitas logistik, meningkatkan daya tarik Djibouti sebagai pusat transportasi dan perdagangan.

2. Peningkatan Pertumbuhan Ekonomi: Investasi China dapat memacu pertumbuhan ekonomi Djibouti melalui penciptaan lapangan kerja dan meningkatkan aktivitas ekonomi lokal.

3. Diversifikasi Ekonomi: Proyek BRI dapat membantu Djibouti untuk diversifikasi sektor ekonominya, mengurangi ketergantungan pada sektor-sektor tertentu.

Risiko Potensial:

1. Ketergantungan Keuangan: Djibouti mungkin terpaksa mengambil utang besar untuk mendanai proyek-proyek BRI, meningkatkan risiko ketergantungan finansial pada China.

2. Resiko Utang: Tingginya utang kepada China dapat menyulitkan Djibouti dalam membayar kembali, menghadirkan risiko keberlanjutan keuangan dan potensi kontrol aset oleh China dalam skenario tertentu.

3. Ketergantungan Politik: Ketergantungan ekonomi dapat menciptakan ketergantungan politik, dengan Djibouti mungkin lebih cenderung mengikuti kebijakan pro-China untuk menjaga hubungan ekonomi yang penting.

4. Potensi Konflik Lokal: Keterlibatan China dapat menciptakan ketegangan dengan negara-negara lain yang memiliki kepentingan di kawasan, dapat menimbulkan ketidakstabilan politik dan keamanan.

5. Teknologi dan Ketenagakerjaan: Proyek-proyek BRI yang melibatkan teknologi dan tenaga kerja China dapat mengurangi dampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi lokal dan penciptaan lapangan kerja.

Dalam mengelola ketergantungan ekonomi ini, Djibouti perlu berfokus pada diversifikasi ekonomi, manajemen utang yang bijaksana, dan kebijakan yang memastikan bahwa manfaat ekonomi bersifat inklusif dan berkelanjutan bagi masyarakat lokal.

Dampak Utang Yang Ditimbulkan Oleh Proyek-Proyek Infrastruktur China Terkait Program BRI di Djibouti
Dampak utang yang timbul dari proyek-proyek infrastruktur China terkait dengan Inisiatif Belt and Road (BRI) di Djibouti mencakup beberapa aspek:

1. Beban Utang yang Meningkat: Proyek-proyek BRI sering kali memerlukan investasi besar, dan Djibouti mungkin mengambil utang signifikan dari China untuk mendanai proyek-proyek tersebut. Ini dapat menyebabkan beban utang yang tinggi bagi pemerintah Djibouti.

2. Risiko Pembayaran dan Refinancing: Djibouti perlu membayar kembali utang tersebut, dan jika proyek-proyek tidak memberikan hasil ekonomi sebagaimana diharapkan, ada risiko kesulitan pembayaran. Selain itu, ketika utang harus di-refinance, tergantung pada kondisi pasar dan kebijakan China, Djibouti mungkin menghadapi tekanan finansial tambahan.

3. Ketergantungan pada Kondisi Pinjaman China: Syarat dan ketentuan pinjaman dari China dapat mencakup bunga tinggi, jangka waktu yang singkat, atau persyaratan lain yang menempatkan Djibouti dalam posisi yang rentan terhadap fluktuasi ekonomi global dan kebijakan China.

4. Kontrol atas Aset: Jika Djibouti mengalami kesulitan membayar utang, China dapat memperoleh kontrol atau kepemilikan atas aset yang dibiayai oleh pinjaman tersebut, seperti infrastruktur kunci, termasuk pelabuhan dan jalan raya.

5. Pertumbuhan Ekonomi yang Tidak Pasti: Meskipun proyek-proyek infrastruktur dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi, efektivitasnya dapat bervariasi. Jika proyek-proyek tersebut tidak menghasilkan keuntungan ekonomi yang diharapkan, utang yang tinggi dapat menjadi beban tanpa memberikan manfaat yang sebanding.

Untuk mengatasi dampak utang yang mungkin timbul, Djibouti perlu melakukan manajemen utang yang bijaksana, memastikan bahwa proyek-proyek infrastruktur memberikan hasil ekonomi yang berkelanjutan, dan berupaya untuk mendiversifikasi sumber pembiayaan dan kemitraan ekonominya.

Penulis : Vany Febriyanti
Prodi Ilmu Hubungan Internasional
Universitas Teknologi Yogyakarta

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/read/sejarah-hubungan-diplomatik-china-dan-djibouti-terkait-program-belt-and-road-initiative-bri/10980/
Dicetak dari JurnalPost.com pada 05 November 2026 14:14.