
Ponorogo, JurnalPost.com – Desa Bedingin terkenal sebagai salah satu pusat industri genteng yang terletak di Kecamatan Sambit, Kabupaten Ponorogo. Industri genteng di desa bedingin memiliki cerita sejarah yang panjang, dimulai oleh Mbah Tukiyo. Beliau adalah seorang tokoh yang dikenal sebagai pelopor dalam pembuatan genteng di desa ini.
Cerita ini bermula dari upaya Mbah Tukiyo dalam memanfaatkan potensi tanah di desanya. Beliau mencoba memanfaatkan tanah yang terkena air hujan untuk membuat batu bata. Namun, tanah tersebut tidak cocok untuk pembuatan batu bata. Lalu, Mbah Tukiyo beralih ke pembuatan genteng. Dengan keterbatasan alat dan bahan Mbah Tukiyo berhasil membuat satu genteng sebagai prototipe atau purwarupa.
Seiring berjalannya waktu, kemampuan Mbah Tukiyo dalam membuat genteng terus berkembang. Dari awal yang hanya mampu membuat satu genteng, kemudian Mbah Tukiyo mampu memproduksi hingga 100 genteng perharinya dengan menggunakan teknik manual dan alat cetak seadanya. Proses pembuatan genteng yang pada awalnya sangat sederhana ini menunjukan hasil yang signifikan.
Industri genteng di Desa Bedingin tidak berhenti hanya pada kemampuan individu Mbah Tukiyo. Seiring dengan perkembangan teknologi dan peningkatan permintaan, proses pembuatan genteng mulai dibantu dengan alat-alat yang lebih modern. Tanah yang digunakan juga tidak lagi hanya berasal dari desa, tetapi diambil dari luar desa untuk memperkuat kualitas genteng.
Desa Bedingin kini dikenal sebagai pelopor pertama industri genteng di wilayah sekitar. Keberhasilan Mbah Tukiyo dalam membangun industri ini menginspirasi desa-desa lain untuk mengikuti jejaknya. Banyak desa di sekitar Desa Bedingin yang mulai berkecimpung dalam industri produksi genteng, baik dengan mendirikan industri sendiri maupun bekerja sama dengan Desa Bedingin.
Saat ini, industri genteng di Desa Bedingin telah berkembang pesat dan mampu melibatkan sekitar 30% masyarakat desa dalam proses produksinya. Harga genteng yang berkisar antara Rp 10.000 hingga Rp 15.000 per buah menjadikannya komoditas yang menguntungkan. Distribusi genteng juga telah mencapai luar kota seperti wilayah Nganjuk, Kediri, Ponorogo kota, dan sekitarnya. “Untuk proses distribusi sudah sampai luar kota, seperti wilayah Nganjuk, Kediri, hingga Ponorogo kota dan sekitarnya,” ujar Marzuki, Kepala Desa Bedingin dalam wawancara secara online melalui zoom. (04/07)
Oleh karena itu, pemerintah daerah setempat harus memperhatikan kondisi perindustrian genteng yang terjadi di Desa Bedingin agar bisa dikenal oleh seluruh masyarakat di Indonesia khususnya daerah Jawa Timur dan sekitarnya.
Penulis :
1. Rizki Setyo Nugroho
2. Rafel Andriyanto
3. Achmad Zulfikar Arifin
Universitas 17 agustus 1945 Surabaya.