
JurnalPost.com – Surabaya menjadi saksi inisiatif menarik dari sekumpulan mahasiswa program studi Kedokteran, mata kuliah agama G759, Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jawa Timur. Mereka menghadirkan rangkaian kegiatan edukatif bernama “Harmoni Keberagaman” di salah satu institusi pendidikan anak usia dini pada akhir pekan lalu, dengan fokus pada pengenalan nilai-nilai toleransi dan penghormatan terhadap keragaman kepercayaan agama.
KONTEKS KEGIATAN: Merespons Tantangan Sosial Kontemporer
Pemilihan tema ini bukan tanpa pertimbangan matang. Indonesia, sebagai negara dengan komposisi masyarakat yang sangat heterogen dari segi agama, budaya, dan etnis, menghadapi dinamika sosial yang memerlukan perhatian khusus. Beberapa tahun terakhir, fenomena seperti penyebaran informasi yang keliru, polarisasi di ruang publik, dan insiden intoleransi menjadi perhatian serius berbagai kalangan, termasuk akademisi muda.
Mengingat hal tersebut, kelompok mahasiswa ini merasa terpanggil untuk mengambil langkah konkret. Mereka memahami bahwa pencegahan adalah strategi terbaik, dan usia anak-anak menjadi momen yang sangat krusial untuk menanamkan fondasi karakter yang tepat. Usia 4-6 tahun merupakan periode emas dalam pembentukan nilai-nilai dasar dan perilaku sosial anak.
“Kami percaya bahwa ketika anak-anak sudah terbiasa dengan konsep saling menghargai sejak kecil, mereka akan membawa nilai itu seumur hidup mereka. Ini adalah investasi untuk masa depan bangsa yang lebih damai dan bersatu,” ungkap tim pelaksana yang dipimpin oleh Nay Kinsey Kalingga. Surabaya, Sabtu (13/12/2025).
STRATEGI PEMBELAJARAN: Dirancang Khusus untuk Usia Dini
Kegiatan berlangsung pada hari Sabtu, 13 Desember 2025, di salah satu taman kanak-kanak yang terletak di kawasan Rungkut, Surabaya. Waktu yang dipilih sekitar 1 jam 15 menit, mulai pukul 09.45 hingga 11.00 pagi dipertimbangkan dengan cermat agar sesuai dengan ritme pembelajaran dan konsentrasi anak-anak pada kelompok usia tersebut.
Kehadiran peserta mencapai 13 anak-anak yang berasal dari kelas-kelas berbeda di institusi tersebut. Tim pendidik dari kampus, yang terdiri dari lima orang mahasiswa dan didukung oleh pendamping institusi (ustadzah/guru dari sekolah), memastikan proses pembelajaran berjalan dengan kondusif dan tertib.
Struktur Kegiatan yang Terencana dengan Matang:
Pertemuan dimulai dengan doa bersama sebagai bentuk penghormatan terhadap tradisi keagamaan peserta. Setelah membuka dengan salam hangat dan beberapa pertanyaan pemecah es (icebreaker) untuk membangun suasana yang akrab, tim penyaji memberikan penjelasan mengenai makna dan pentingnya moderasi dalam menjalankan keyakinan agama.
Penjelasan ini dirancang menggunakan bahasa yang sangat sederhana dan relevan bagi anak-anak. Penyaji menggunakan contoh-contoh konkret dari kehidupan sehari-hari peserta, seperti cara bersikap baik kepada teman sekelas yang memiliki kepercayaan berbeda, pentingnya berbagi dengan sesama, dan larangan menghina atau merendahkan orang lain berdasarkan perbedaan kepercayaan agama.
Materi inti menyentuh beberapa poin fundamental yang relevan dengan dunia anak-anak:
- Pemahaman dasar tentang konsep moderasi dan penerapannya dalam konteks kehidupan sehari-hari
- Pentingnya sikap saling hormat-menghormati di antara individu dengan latar belakang agama yang berbeda
- Perilaku konkret yang menunjukkan toleransi, seperti tidak mengejek teman, mau berteman dengan siapa saja, dan tidak memakai kekerasan
- Hubungan antara sikap inklusif dengan terciptanya lingkungan belajar dan bermain yang aman serta menyenangkan
SESI INTERAKTIF: Partisipasi Aktif Menunjukkan Pemahaman Mendalam
Segmen yang paling dinamis terjadi ketika tim menghadirkan sesi tanya-jawab yang dirancang agar terasa seperti permainan pembelajaran (Q&A FUN). Daripada presentasi searah yang potensial membosankan, tim penyaji mengajukan serangkaian pertanyaan yang mengundang peserta untuk berpikir kritis dan berkontribusi aktif dalam diskusi.
Pertanyaan-pertanyaan tersebut dirancang dengan tingkat kesulitan yang bervariasi mulai dari hal-hal sederhana hingga yang memerlukan pemikiran sedikit lebih dalam namun tetap sesuai dengan tahap perkembangan kognitif anak-anak kelompok ini. Sebagai insentif untuk meningkatkan partisipasi dan membuat suasana lebih meriah, peserta yang dapat menjawab dengan benar mendapatkan reward berupa camilan atau snack favorit mereka.
Respons peserta melampaui harapan yang telah ditetapkan oleh tim. Antusiasme terlihat jelas ketika banyak peserta dengan riang mengangkat tangan mereka untuk memberikan jawaban. Dari enam pertanyaan inti yang diajukan, keenam peserta yang terpilih untuk menjawab berhasil memberikan respon yang tepat dan sesuai dengan konsep-konsep yang ingin disampaikan.

“Ini menunjukkan bahwa pesan kami benar-benar tersampaikan. Mereka tidak hanya mendengarkan secara pasif, tetapi benar-benar memahami inti dari apa yang sedang kami ajarkan,” kata salah satu fasilitator dengan nada puas. Ladhia Shaffa Meyriska, salah satu anggota tim pelaksana. Surabaya, Sabtu (13/12/2025).
Analisis lebih mendalam berdasarkan pengamatan lapangan mengungkapkan bahwa sekitar 80% dari total peserta menunjukkan tingkat pemahaman yang memuaskan terhadap materi yang disampaikan. Indikator ini didasarkan pada pola jawaban yang akurat, kualitas dan kedalaman pertanyaan yang diajukan peserta, dan pengamatan mendalam terhadap perilaku serta bahasa tubuh mereka selama sesi berlangsung.
AKTIVITAS PELENGKAP: Pembelajaran Holistik Melalui Berbagai Medium
Untuk memperkuat internalisasi pemahaman dan membuat pengalaman belajar lebih berkesan serta bermakna, tim juga menyelenggarakan aktivitas kreatif yang melibatkan anak-anak dalam proses menciptakan sesuatu dengan tangan mereka. Kegiatan mewarnai dengan tema yang terkait dengan keberagaman dan harmoni sosial dipilih sebagai medium alternatif untuk mengomunikasikan nilai-nilai yang ingin ditanamkan.
Melalui aktivitas ini, anak-anak tidak hanya memiliki kesempatan untuk mengekspresikan kreativitas artistik mereka, tetapi juga belajar tentang pentingnya kolaborasi, gotong royong, dan saling membantu. Pengamatan selama kegiatan berlangsung menunjukkan bahwa banyak peserta secara spontan dan natural meminjamkan alat mewarna atau membantu teman mereka yang sedang mengalami kesulitan dalam menyelesaikan karya mereka.
Tindakan-tindakan kecil ini, meski terlihat sepele pada pandangan pertama, sebenarnya mencerminkan internalisasi yang sukses dari nilai-nilai toleransi, empati, dan gotong royong dalam diri peserta.
“Kami sengaja tidak terlalu mengarahkan atau mengontrol mereka ketat dalam kegiatan ini. Kami ingin melihat apakah mereka benar-benar memahami dan menginternalisasi konsep kerjasama, kepedulian sosial, dan saling mendukung secara alami. Dan hasilnya sangat memuaskan, bahkan melebihi ekspektasi awal kami,” jelas koordinator acara dari tim pelaksana.
EVALUASI DAN DAMPAK: Capaian Target yang Terukur
Pelaksanaan tidak hanya berhenti pada berlangsungnya acara itu sendiri. Tim melakukan evaluasi terstruktur dan komprehensif untuk mengukur efektivitas serta dampak jangka pendek dari kegiatan. Beberapa parameter yang digunakan dalam proses evaluasi ini meliputi tingkat partisipasi peserta, akurasi jawaban pada sesi Q&A interaktif, kualitas interaksi sosial selama kegiatan, dan observasi mendalam terhadap perilaku peserta.
Kendala yang dihadapi oleh tim adalah keterbatasan durasi waktu yang diberikan oleh pihak institusi pendidikan setempat. Namun, dengan manajemen waktu yang sangat efisien dan strategi penyampaian yang dirancang dengan matang, tim berhasil memastikan seluruh konten materi edukatif dan rangkaian aktivitas dapat tersampaikan dengan baik tanpa perlu mengorbankan kualitas penyampaian atau interaksi dengan peserta.
Respons positif juga datang dari berbagai pihak di institusi pendidikan. Pendidik dan tenaga administrasi sekolah tidak hanya mengapresiasi inisiatif ini, tetapi juga menyatakan keinginan yang kuat untuk mengadakan program serupa di masa depan, dengan sejumlah saran konstruktif untuk penyempurnaan dan pengembangan.
KONTEKS NASIONAL: Moderasi Beragama sebagai Kebutuhan Strategis
Konsep “moderasi beragama” yang menjadi fondasi utama kegiatan ini bukan hal baru dalam wacana kebijakan nasional Indonesia. Pemerintah, melalui berbagai kementerian, khususnya Kementerian Agama, telah mengidentifikasi penguatan moderasi beragama sebagai salah satu strategi kunci dalam pembangunan jangka menengah nasional.
Moderasi beragama didefinisikan secara komprehensif sebagai cara memahami dan mempraktikkan ajaran agama dengan seimbang dan bijaksana, dengan menekankan empat pilar utama: komitmen yang kuat terhadap persatuan dan kesatuan nasional, sikap toleran dan saling menghormati, penolakan yang tegas terhadap kekerasan dalam segala bentuknya, dan pengakuan serta penghargaan terhadap kekayaan dan keunikan tradisi lokal. Keempat pilar ini menjadi panduan komprehensif dalam merancang program-program edukasi serupa di berbagai tingkat.
Menurut pemahaman yang berkembang di kalangan pakar pendidikan dan psikologi perkembangan, usia dini adalah jendela peluang yang sangat berharga dan tidak boleh dilewatkan untuk menanamkan karakter toleran dan pluralis ini. Pada tahap perkembangan ini, anak-anak masih sangat terbuka terhadap ide-ide baru, mudah belajar dengan cepat, dan belum terlalu terpengaruh oleh bias personal atau prasangka sosial yang kompleks yang sering ditemukan pada tahap perkembangan yang lebih lanjut.
VISI JANGKA PANJANG: Dari Lapangan ke Ruang Digital
Komitmen tim pelaksana tidak berhenti pada kegiatan tatap muka langsung tersebut. Seluruh rangkaian kegiatan dari pembukaan, pemaparan materi, sesi Q&A, hingga aktivitas kreatif telah didokumentasikan secara menyeluruh dalam bentuk foto berkualitas tinggi dan rekaman video yang dinamis.
Tim berencana untuk mengolah dan mengedit material dokumentasi ini menjadi konten edukatif multimedia yang menarik dan akan disebarkan melalui berbagai platform media sosial digital, termasuk YouTube dan saluran media sosial relevan lainnya.
Strategi penyebaran digital ini dipilih dengan perhitungan yang matang dan strategis. Platform media sosial dan internet secara umum memiliki jangkauan yang jauh lebih luas dan tidak terbatas secara geografis dibandingkan kegiatan edukatif langsung yang hanya berlangsung di satu lokasi spesifik. Konten ini dapat diakses oleh orang tua yang tertarik, pendidik di sekolah-sekolah lain, peneliti, pelajar, dan masyarakat luas yang ingin memperdalam pemahaman mereka tentang konsep moderasi beragama dan metodologi mengajarkannya kepada generasi muda.
Video yang direncanakan akan dikemas dengan format yang menarik dan engaging, dilengkapi dengan subtitle atau caption yang jelas dan mudah dibaca, serta disertai narasi penjelasan singkat yang kontekstual dan relevan. Dengan pendekatan ini, pesan edukatif dapat menembus barrier geografis, ekonomi, dan sosial, sehingga mampu menjangkau audiens yang jauh lebih besar dan heterogen.
REKOMENDASI UNTUK PENGEMBANGAN KE DEPAN
Dalam laporan evaluasi komprehensif mereka, tim pelaksana mengajukan beberapa rekomendasi konstruktif dan berbasis data untuk meningkatkan efektivitas program di masa mendatang:
Pertama, perpanjangan durasi kegiatan dirasa perlu agar materi dapat disampaikan dengan lebih mendalam dan memberikan ruang yang cukup bagi peserta untuk mengajukan pertanyaan atau klarifikasi lebih lanjut tanpa terasa terburu-buru atau terbatas oleh waktu.
Kedua, penambahan permainan kelompok yang lebih kompleks, seperti kuis berantai pengetahuan lintas agama atau permainan kolaboratif yang menekankan kerjasama tim, dapat meningkatkan kolaborasi interpersonal dan pemahaman peserta tentang persamaan nilai-nilai etis universal yang terdapat di berbagai tradisi keagamaan.
Ketiga, integrasi medium audio-visual dalam bentuk film pendek edukatif atau animasi dapat meningkatkan daya serap dan daya ingat peserta terhadap materi yang disampaikan, mengingat anak-anak usia ini sangat responsif dan terpikat oleh konten visual yang dinamis.
APRESIASI DARI STAKEHOLDER
Kepala institusi pendidikan TK Nurul Islam, Ibu Mulik mengungkapkan kepuasan mendalam terhadap inisiatif mahasiswa ini. Menurut beliau, kehadiran program semacam ini sangat sejalan dengan visi pendidikan holistik yang mencakup tidak hanya aspek akademik dan kognitif semata, tetapi juga pengembangan karakter dan internalisasi nilai-nilai sosial yang bermakna.
“Dalam konteks Indonesia saat ini, yang dihadapkan pada berbagai tantangan sosial dan polarisasi, memberikan pemahaman yang kuat tentang pentingnya toleransi sejak dini adalah investasi sosial yang sangat berharga dan strategis. Kami sangat berharap dapat terus menjalin kolaborasi dengan mahasiswa dan institusi akademik lain untuk mengembangkan program-program sejenis,” ungkapnya dengan antusias. Surabaya, Sabtu (13/12/2025).
Respons dari para guru dan pendidik pendamping juga sangat positif dan menggembirakan. Mereka mencatat dan mendokumentasikan bahwa peserta menunjukkan tingkat ketertarikan dan engagement yang tinggi dan konsisten sepanjang sesi kegiatan berlangsung, yang merupakan indikator baik bagi efektivitas dan relevansi pendekatan pedagogis yang digunakan oleh tim.
KONTRIBUSI LEBIH LUAS: Peran Mahasiswa dalam Ekosistem Pendidikan
Inisiatif ini juga merefleksikan perubahan paradigma signifikan di kalangan generasi muda akademik dan mahasiswa. Mahasiswa tidak lagi dianggap hanya sebagai subjek pasif yang menerima pengetahuan dalam konteks classroom setting, tetapi sebagai agen perubahan sosial yang aktif, kritis, dan memiliki tanggungjawab nyata terhadap kemajuan masyarakat.
Program-program pengabdian masyarakat berbasis nilai-nilai moderasi beragama seperti ini menunjukkan dengan jelas bahwa institusi pendidikan tinggi memiliki peran sosial yang sangat signifikan dan strategis dalam membentuk masyarakat yang lebih bermartabat, inklusif, dan damai. Melalui kegiatan-kegiatan praktis dan lapangan seperti ini, mahasiswa juga mendapatkan pengalaman berharga dalam penerapan ilmu pengetahuan yang mereka terima di kelas, sekaligus mengasah keterampilan soft skills seperti komunikasi efektif, kepemimpinan situasional, dan empati sosial.
PENUTUP: Investasi untuk Masa Depan Indonesia yang Lebih Harmonis
Program “Harmoni Keberagaman” yang dilaksanakan di Surabaya ini menjadi salah satu contoh konkret dan inspiratif bagaimana pendidikan yang dirancang dengan cermat dapat menjadi jembatan penghubung untuk membangun masyarakat yang lebih inklusif, saling menghormati, dan damai. Hasil-hasil yang terukur dari kegiatan dengan tingkat pemahaman peserta mencapai 80% dan tingkat partisipasi aktif yang sangat tinggi membuktikan secara empiris bahwa edukasi tentang toleransi dan keberagaman dapat disampaikan dengan cara yang menyenangkan, interaktif, dan berkesan bagi anak-anak usia dini.
Ke depannya, tantangan strategis bagi semua stakeholder pemerintah, institusi pendidikan, masyarakat sipil, dan keluarga adalah bagaimana menskalakan dan mengreplikasi inisiatif-inisiatif edukatif sejenis ini sehingga dapat menjangkau dan memberikan manfaat kepada lebih banyak anak-anak di berbagai daerah dan latar belakang sosial. Kolaborasi yang kuat dan berkelanjutan antara institusi akademik, sekolah, keluarga, dan masyarakat luas menjadi kunci penting dalam mewujudkan visi bersama untuk Indonesia yang lebih toleran, harmonis, dan bersatu dalam keberagaman.
Program-program inovatif seperti ini tidak hanya perlu mendapat apresiasi dan pengakuan, tetapi juga dukungan nyata dari pemerintah dan berbagai stakeholder agar dapat terus berkembang, diperbaiki, dan memberikan dampak jangka panjang yang positif dan terukur bagi pembentukan karakter generasi muda Indonesia.
INFORMASI PELENGKAP UNTUK PUBLIKASI
| Elemen Informasi | Rincian |
| Nama Kegiatan Lengkap | Harmoni Keberagaman: Mengenal Moderasi Beragama Melalui Pemaparan Materi dan Tanya Jawab Q&A FUN |
| Tanggal Pelaksanaan | Sabtu, 13 Desember 2025 |
| Waktu Pelaksanaan | 09.45 – 11.00 WIB (durasi: 1 jam 15 menit) |
| Lokasi Kegiatan | TK Nurul Islam, Jl. Rungkut Asri Timur XIV No.52, Rungkut Kidul, Kecamatan Rungkut, Surabaya, Jawa Timur |
| Jumlah Peserta | 13 anak-anak berusia 4-6 tahun |
| Tingkat Pemahaman Terukur | Sekitar 80% peserta menunjukkan pemahaman yang memuaskan |
| Penyelenggara | Kelompok Mahasiswa Program Studi Kedokteran Semester 1, Mata Kuliah Agama G759, Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur |
| Pembimbing/Dosen Pengampu | Dr. Taufikurrahman, S.Pd., M.Pd |
| Lokasi Universitas | Surabaya, Jawa Timur |