Kembali
Mode hapus aktif. Klik paragraf, foto, judul, tabel, atau bagian lain yang tidak ingin masuk PDF.
JurnalPost.com

Sastra Minangkabau: Kaba “Tuanku Lareh Simawang”

Tim Editor: Redaksi · Tanggal: 27 Desember 2023

Ditulis oleh Hafisna Sari Ahmad, Mahasiswa Sastra Jepang Universitas Andalas

JurnalPost.com – Kaba adalah salah satu bentuk karya sastra tradisional Minangkabau yang mencerminkan kekayaan budaya dan sejarah masyarakatnya. Istilah kaba berasal dari bahasa Minangkabau yang berarti cerita atau kisah. Kaba bukan hanya sekadar cerita biasa, kaba memiliki nilai-nilai yang mendalam dan menjadi bentuk pelestarian warisan budaya Minangkabau. Kaba biasanya disampaikan melalui randai, randai adalah seni pertunjukan tradisional Minangkabau yang menggabungkan tari, musik, drama, nyanyian, dan seni bela diri atau disampaikan melalui dendang. Salah satu contoh kaba adalah Tuanku Lareh Simawang.

Kaba Tuanku Lareh Simawang menceritakan tentang tragedi yang menimpa keluarga Tuanku Lareh Simawang. Lareh Simawang merupakan seorang laki-laki yang memiliki jabatan di kampungnya, ia memiliki seorang istri bernama Siti Jamilah dan tiga orang anak yang bernama Marah Sudin, Asamsudin, dan Siti Darama. Cerita berawal dari Lareh Simawang yang pergi ke rumah Angku Kapalo atau Kepala Kampung di Batusangkar, disana Lareh Simawang melamar Siti Rawani anak Angku Kapalo. Siti Jamilah yang tengah mengandung tujuh bulan sangat menentang keputusan dari Lareh Simawang untuk berpoligami, tidak hanya Siti Jamilah ayah dan adik Lareh Simawang yaitu Siti Rawiyah juga menentang keputusan Lareh Simawang mengingat Siti Jamilah sedang mengandung. Akan tetapi, Lareh Simawang tidak mendengarkan larangan tersebut dan tetap memutuskan untuk menikahi Siti Rawani.

Tragedi terjadi ketika hari pernikahan Lareh Simawang dan Siti Rawani. Awalnya Siti Jamilah membawa kedua anaknya, Asamsudin dan Siti Darama pergi mandi ke lubuk mata kucing, di bukit si Galo Gandang. Setelah mandi balimau, Siti Jamilah membawa kedua anaknya pergi ke rumah Siti Rawiyah, dan akhirnya pulang ke rumah. Sampainya di rumah kedua anaknya dan Siti Jamilah pergi tidur, dan tragedi itu pun terjadi. Siti Jamilah membunuh kedua anaknya, yang pertama dibunuhnya adalah Siti Darama dengan menyayat lehernya menggunakan pisau. Asamsudin terbangun dari tidurnya dan kaget melihat hal tersebut. Ia sempat beradu mulut dengan Siti Jamilah, namun pada akhirnya dia tetap terbunuh oleh Siti Jamilah. Setelah membunuh kedua anaknya, Siti Jamilah juga bunuh diri pada saat itu.

Mayat Siti Jamilah dan kedua anaknya pertama kali ditemukan oleh penjaga rumah, penjaga rumah kemudian pergi ke rumah Siti Rawiyah untuk memberitahukan hal tersebut. Siti Rawiyah yang kaget pun langsung bergegas ke rumah Siti Jamilah, ia terkejut melihat pemandangan di dalam rumah yang sudah bersimbah darah dan meyuruh penjaga rumah untuk pergi ke Batusangkar, memberitahukan tragedi ini kepada Lareh Simawang. Bergegaslah penjaga rumah ke Batusangkar, sesampainya di sana penjaga rumah mendapati keadaan rumah Angku Kapalo yang sedang mengadakan pesta pernikahan antara Lareh Simawang dan Siti Rawani. Tanpa berlama-lama penjaga rumah pun langsung memberitahukan apa yang telah menimpa istri dan anak-anaknya kepada Lareh Simawang. Lareh Simawang yang mendengar kabar tersebut langsung pulang untuk memastikan kebenaran berita tersebut. Sampainya di rumah ia mendapati rumahnya sudah ramai dan di tengah rumahnya sudah terbujur mayat Siti Jamilah dan kedua anaknya yang telah dimandikan. Lareh Simawang pun menyuruh penjaga rumah untuk mengirimkan pesan kawat ke Padang Panjang untuk Marah Sudin. Pada hari itu juga Marah Sudin sampai di rumah, ia terkejut dan langsung menangis terisak-isak melihat mayat ibu dan adik-adiknya. Marah Sudin menyalahkan Lareh Simawang atas apa yang terjadi. Marah Sudin sempat ingin bunuh diri tapi dihentikan oleh Siti Rawiyah. Setelah kejadian itu, mayat Siti Jamilah dan kedua anaknya dimakamkan di bukit yang tertinggi di daerah tersebut sesuai dengan wasiat yang telah ditinggalkan Siti Jamilah.

Mayat telah dikuburkan, yang tertinggal hanya penyesalan bagi Lareh Simawang. Lareh Simawang menjadi gila dan sering berhalusinasi bahwa Siti Jamilah masih hidup. Angku Kapalo dan Siti Rawani yang merawat Lareh Simawang memanggil orang pintar untuk mengobati Lareh Simawang. Sungguh memprihatinkan kondisi Lareh Simawang, tetapi hal tersebut berangsur-angsur membaik. Cerita diakhiri dengan Lareh Simawang yang menyesali perbuatannya dan kembali ke jalan Tuhannya, meminta pengampunan kepada Allah swt.

Berikut tokoh-tokoh dalam kaba Tuanku Lareh Simawang:
1. Tuanku Lareh Simawang
2. Siti Jamilah (istri pertama Lareh Simawang)
3. Marah Sudin (anak Tuanku Lareh Simawang)
4. Siti Darama (anak Tuanku Lareh Simawang)
5. Asamsudin (anak Tuanku Lareh Simawang)
6. Siti Rawani (istri kedua Lareh Simawang)
7. Angku Kapalo (Ayah Siti Rawani)
8. Siti Rawiah (adik Tuanku Lareh Simawang)

Dari kaba ini, dapat diambil amanat bahwa kehidupan manusia penuh dengan penderitaan dan kesedihan yang mendalam. Konflik dalam hubungan keluarga, tekanan hidup, dan keputusasaan dapat membawa seseorang pada titik terendah. Namun, dalam keadaan terpuruk, manusia tetap mencari penghiburan dan harapan, baik melalui agama maupun melalui interaksi dengan orang lain. Amanat ini tercermin dari berbagai karakter dalam naskah yang mencoba mencari jalan keluar dari penderitaan mereka. Selain itu, pengambilan keputusan seharusnya tidak dilakukan dengan tergesa-gesa hanya karena hawa nafsu saja. Pada akhirnya jika hanya mengiikuti hawa nafsu yang datang hanyalah penyesalan dan kita tidak bisa mengulangi waktu lagi, yang bisa kita lakukan hanyalah tetap melanjutkan hidup dan selalu memohon ampun serta mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Indak elok dirandang kacang Elok diambiak nan babungo; Tak guno dipapanjang Elok diambiak nan paguno Kalau ado jarum nan patah Usah dilatak di dalam peti; Kok ado kato nan salah Usah ditaruah dalam hati.

(Tidak elok direndang kacang Elok diambil yang berbunga; Tidak guna diperpanjang Elok diambil yang berguna. Kalau ada jarum yang patah Usah diletak dalam peti; Kalau ada kata yang salah Usah ditaruh dalam hati.

Penampilan Gombang Patuanan Sendratasik (G.P.S) pada Festival Randai UIN Batusangkar

Sumber gambar: https://youtu.be/_xyzgQhjzpg?si=LhyZtELhLCNW0KVn

Penampilan Randai Lareh Simawang oleh FBS UNP

Sumber gambar: https://youtu.be/oHg-zhvQtKM?si=CCJnkUXhWAU8QaPA
Sumber artikel: https://jurnalpost.com/read/sastra-minangkabau-kaba-tuanku-lareh-simawang/10030/
Dicetak dari JurnalPost.com pada 05 November 2026 15:24.