Kembali
Mode hapus aktif. Klik paragraf, foto, judul, tabel, atau bagian lain yang tidak ingin masuk PDF.
JurnalPost.com

SAATNYA PERBANKAN MENGGENGGAM PERAN SEBAGAI MESIN PERTUMBUHAN EKONOMI

Tim Editor: Redaksi · Tanggal: 24 April 2026

Hari Suciono : Penulis adalah Penyelia di Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Tengah

JurnalPost.com – Di tengah dinamika ekonomi global yang masih diliputi ketidakpastian, menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional bukan lagi sekadar pilihan kebijakan, melainkan keharusan strategis. Perlambatan di negara mitra dagang, volatilitas pasar keuangan, serta perubahan struktur ekonomi domestik menuntut respons yang tidak hanya adaptif, tetapi juga berani. Dalam lanskap ini, perbankan tidak bisa lagi berdiri sebagai penonton yang berhati-hati, ia harus tampil sebagai motor penggerak utama pertumbuhan.

Perbankan pada dasarnya memegang peran kunci dalam fungsi intermediasi, yakni mengalirkan dana dari sektor keuangan ke sektor riil. Ketika fungsi ini berjalan optimal, roda ekonomi akan berputar lebih cepat. Namun, pertanyaannya: apakah ruang untuk mendorong peran tersebut masih tersedia?
Jawabannya: masih sangat besar.

Secara fundamental, kinerja perbankan Indonesia berada dalam kondisi yang solid. Pertumbuhan kredit masih mampu tumbuh di kisaran 10–11 persen secara tahunan. Di sisi lain, rasio kecukupan modal (CAR) berada di atas 25 persen, jauh melampaui batas minimum yang dipersyaratkan. Sementara itu, rasio kredit bermasalah (NPL) tetap terjaga pada level sekitar 2–3 persen. Kombinasi ini menunjukkan bahwa perbankan memiliki bantalan yang kuat untuk melakukan ekspansi pembiayaan.

Namun ironisnya, kapasitas besar tersebut belum sepenuhnya diterjemahkan menjadi dorongan nyata bagi ekonomi. Hal ini tercermin dari rasio kredit terhadap Produk Domestik Bruto (credit-to-GDP ratio) Indonesia yang masih berada di kisaran 40 persen. Angka ini tertinggal jauh dibandingkan negara-negara di kawasan Asia yang telah melampaui 80 persen. Artinya, ruang ekspansi pembiayaan di Indonesia masih terbuka lebar dan ini adalah peluang yang tidak boleh diabaikan.

Dalam konteks inilah, perbankan perlu menggeser paradigma. Di era penuh ketidakpastian, kehati-hatian memang penting, tetapi kehati-hatian yang berlebihan justru berpotensi menahan laju pertumbuhan. Bank tidak cukup hanya menjadi penjaga stabilitas; mereka harus menjadi akselerator ekonomi.

Sektor-sektor produktif seperti UMKM, industri padat karya, dan hilirisasi merupakan area yang paling membutuhkan dorongan pembiayaan. UMKM, misalnya, menyumbang lebih dari 60 persen terhadap PDB dan menyerap sekitar 97 persen tenaga kerja nasional. Namun, akses pembiayaan bagi sektor ini masih menghadapi berbagai kendala, mulai dari keterbatasan agunan hingga minimnya data keuangan formal.

Begitu pula dengan hilirisasi industri. Selama ini, Indonesia masih terlalu bergantung pada ekspor bahan mentah. Tanpa dukungan pembiayaan yang memadai, upaya meningkatkan nilai tambah di dalam negeri akan sulit berjalan optimal. Di sinilah perbankan memiliki peran strategis untuk masuk lebih dalam, mengambil risiko yang terukur, dan mendorong transformasi ekonomi.

Di tengah tantangan tersebut, peran regulator khususnya Bank Indonesia menjadi fondasi penting yang patut diapresiasi. Melalui bauran kebijakan moneter dan makroprudensial yang akomodatif, Bank Indonesia secara konsisten menjaga stabilitas sekaligus membuka ruang ekspansi bagi perbankan. Kebijakan seperti pelonggaran likuiditas, penurunan rasio giro wajib minimum pada periode tertentu, serta optimalisasi Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) menjadi bukti nyata keberpihakan terhadap penguatan intermediasi.

Lebih dari itu, arah kebijakan Bank Indonesia juga semakin progresif dengan mendorong pembiayaan ke sektor prioritas melalui insentif yang terukur, termasuk sektor UMKM, perumahan, dan ekonomi hijau. Nilai insentif likuiditas yang telah dimanfaatkan perbankan yang mencapai ratusan triliun rupiah mencerminkan bahwa dukungan tersebut bukan sekadar wacana, melainkan instrumen nyata yang bisa langsung dimanfaatkan industri perbankan.

Tidak hanya dari sisi likuiditas, Bank Indonesia juga memperkuat ekosistem melalui akselerasi digitalisasi sistem pembayaran dan integrasi ekonomi-keuangan digital. Langkah ini secara tidak langsung memperkaya data ekonomi dan keuangan, yang pada akhirnya dapat dimanfaatkan perbankan untuk meningkatkan kualitas analisis kredit, terutama bagi segmen UMKM yang selama ini dianggap memiliki keterbatasan informasi.

Namun kebijakan yang progresif tersebut tidak akan berarti tanpa keberanian dari perbankan untuk memanfaatkannya secara optimal. Di sisi lain, penting untuk dipahami bahwa ekspansi pembiayaan tidak berarti mengorbankan prinsip kehati-hatian. Justru di sinilah peran fungsi kepatuhan dan manajemen risiko menjadi semakin krusial. Fungsi kepatuhan tidak lagi sekadar “penjaga aturan”, tetapi harus menjadi enabler yang memastikan bahwa ekspansi bisnis tetap berada dalam koridor risiko yang sehat.

Ke depan, ada beberapa langkah strategis yang perlu diperkuat. Pertama, sinergi antara pemerintah, otoritas moneter, dan perbankan harus semakin erat, sehingga risiko pembiayaan dapat dibagi dan dikelola bersama. Kedua, pemanfaatan teknologi dan data perlu diakselerasi untuk memperluas akses kredit, khususnya bagi UMKM. Ketiga, skema berbagi risiko seperti penjaminan kredit harus diperluas agar perbankan lebih percaya diri masuk ke sektor-sektor yang selama ini dianggap berisiko tinggi.

Pada akhirnya, pertumbuhan ekonomi yang kuat tidak akan tercapai tanpa dukungan pembiayaan yang memadai. Perbankan memiliki kapasitas, likuiditas, dan ruang yang cukup untuk mengambil peran tersebut. Yang dibutuhkan saat ini bukan hanya kesiapan, tetapi juga keberanian untuk melangkah lebih jauh.

Era ini menuntut perbankan untuk naik kelas dari sekadar penjaga stabilitas menjadi mesin pertumbuhan ekonomi. Ketika pembiayaan mengalir ke sektor-sektor produktif secara sehat dan terarah, maka pertumbuhan tidak hanya akan meningkat, tetapi juga menjadi lebih inklusif dan berkelanjutan.

Dengan fondasi kebijakan yang kuat, dukungan regulator yang progresif, serta peluang yang terbuka lebar, pertanyaannya bukan lagi apakah perbankan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi, melainkan apakah perbankan cukup berani untuk mengambil peran tersebut.[HARI]
***

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/read/saatnya-perbankan-menggenggam-peran-sebagai-mesin-pertumbuhan-ekonomi/24890/
Dicetak dari JurnalPost.com pada 08 November 2026 14:35.