Kembali
Mode hapus aktif. Klik paragraf, foto, judul, tabel, atau bagian lain yang tidak ingin masuk PDF.
JurnalPost.com

Rumah Peduli Zakat Bandung : Seberapa Efektif Zakat Mengentaskan Kemiskinan?

Tim Editor: Redaksi · Tanggal: 5 April 2026

JurnalPost.com – Menjelang akhir bulan Ramadan, momen ini menjadi waktu yang penting bagi umat Muslim di Indonesia untuk menunaikan kewajiban zakat, baik zakat fitrah maupun zakat maal. Zakat merupakan salah satu instrumen utama dalam ekonomi Islam yang berperan dalam mengurangi kemiskinan serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui distribusi kekayaan yang lebih merata. Tujuan utamanya adalah untuk mencapai kemandirian ekonomi sebagai upaya dalam mendorong transformasi mustahik menjadi muzakki.

Secara nasional, menurut data Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) potensi zakat di Indonesia bisa mencapai Rp327 triliun dengan jumlah penduduk miskin pada tahun 2025 menurut Badan Pusat Statistik (BPS) sebesar 23,36 juta jiwa atau sekitar 8,25 persen dari total populasi. Namun, yang menjadi perhatian dalam hal ini adalah realisasi penghimpunan zakat yang hanya mencapai 10 persen. Adanya kesenjangan yang cukup besar ini tentunya menimbulkan pertanyaan mengenai faktor penyebabnya Apakah tingkat kesadaran masyarakat yang rendah? Atau penyaluran zakat yang belum efektif? Oleh karena itu, efektivitas program zakat menjadi hal yang penting untuk dikaji, tidak hanya dari sisi penyaluran dana, tetapi juga dari dampak jangka panjang yang dihasilkan.

Untuk menjawab hal tersebut, dilakukan wawancara dengan Lembaga Amil Zakat Daerah Rumah Peduli Umat di Bandung bersama Pak Panggipan yang menjadi narasumber dalam menjawab pertanyaan tersebut pada tanggal 3 April 2026. Wawancara ini bertujuan untuk mengkaji sejauh mana efektivitas program zakat yang dijalankan dalam membantu masyarakat, khususnya golongan mustahik, agar dapat keluar dari keterbatasan ekonomi yang mereka alami.

Perkembangan Penghimpunan Zakat
Berdasarkan hasil wawancara, penghimpunan zakat di Rumah Peduli Zakat Bandung pada tahun 2026 menunjukkan perkembangan yang cukup baik. Lembaga ini menargetkan peningkatan sebesar 15% dibandingkan tahun sebelumnya, dari Rp4 miliar pada tahun 2025 menjadi sekitar Rp4,192 miliar di tahun 2026 yang mencerminkan harapan serta upaya penguatan dari organisasi zakat untuk menarik lebih banyak muzaki.

Kenaikan ini tidak terlepas dari peranan bulan Ramadhan sebagai momen penting, di mana kesadaran dan semangat masyarakat untuk berzakat cenderung mengalami peningkatan yang signifikan. Selama Ramadan 2026, penghimpunan dana bahkan mencapai sekitar Rp2,49 miliar. Hal ini menunjukkan bahwa Ramadan menjadi waktu paling efektif dalam mendorong masyarakat untuk menunaikan zakat. Selain faktor musiman, perkembangan ini juga dikuatkan oleh pergeseran dalam pendekatan distribusi zakat, dari yang sebelumnya lebih berfokus pada konsumsi menuju program pemberdayaan yang lebih produktif, sehingga bisa meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap lembaga zakat.

Tantangan dalam Penghimpunan Zakat
Di tengah peningkatan yang terjadi, pengumpulan zakat masih menghadapi tantangan utama berupa rendahnya pemahaman masyarakat tentang pentingnya menyalurkan zakat melalui lembaga yang resmi, yang terlihat dari banyaknya praktek penyaluran langsung kepada mustahik. Banyak masyarakat yang lebih memilih memberikan zakat secara langsung kepada penerima. Padahal, jika disalurkan melalui lembaga amil zakat, penyalurannya bisa lebih terarah dan merata karena dikelola secara sistematis serta diawasi sesuai dengan ketentuan syariat dan aturan pemerintah. Selain itu, tidak semua lembaga atau pihak bisa menjadi amil zakat secara bebas, karena harus memiliki izin dan berada di bawah pengawasan pemerintah, seperti Kementerian Agama dan BAZNAS. Situasi ini menyebabkan potensi pengumpulan tidak terkelola dengan optimal dan memiliki dampak yang terbatas.

Tantangan lainnya adalah masih kurangnya edukasi tentang zakat di kalangan masyarakat. Pembahasan mengenai zakat dinilai belum banyak disampaikan secara luas, baik dalam forum terbuka seperti ceramah maupun kegiatan keagamaan lainnya. Oleh karena itu, diperlukan peran yang lebih kuat dan luas dari berbagai pihak, termasuk tokoh agama untuk meningkatkan pemahaman masyarakat agar penyaluran zakat bisa lebih optimal. Seperti yang disampaikan oleh Pak Panggipan, terkadang tokoh agama cenderung lebih sering hanya menyampaikan kegiatan amaliyah lain, sementara zakat jarang dibahas sehingga tingkat urgensi masyarakat terhadap zakat masih kurang.

Lebih lanjut, tantangan juga terletak pada kebutuhan untuk memastikan bahwa dana yang terkumpul tidak hanya digunakan untuk kebutuhan konsumtif jangka pendek, tetapi juga dapat mendorong kemandirian ekonomi mustahik melalui program-program yang produktif. Dengan demikian, perlu adanya peningkatan dalam edukasi, transparansi, dan inovasi program agar pengumpulan zakat tidak hanya meningkat dari segi jumlah, tetapi juga dari aspek efektivitas dan dampaknya.

Proses Penyaluran Zakat
Dalam menyalurkan zakat, Rumah Peduli Zakat Bandung memiliki beberapa tahapan yang dilakukan secara sistematis agar bantuan yang diberikan tepat sasaran. Proses ini dimulai dari tahap perencanaan program, di mana tim menyusun berbagai program penyaluran yang disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat dalam menentukan bentuk bantuan yang akan diberikan kepada para mustahik.

Selanjutnya, dilakukan survei lapangan untuk mencari dan memastikan calon penerima zakat benar-benar memenuhi kriteria sebagai mustahik sesuai dengan delapan golongan asnaf dalam Islam. Setelah data terkumpul, tahap berikutnya adalah validasi data melalui kajian dan rapat internal. Setelah dinyatakan layak, zakat kemudian disalurkan kepada penerima manfaat. Bentuk penyaluran yang dilakukan saat ini masih didominasi oleh bantuan konsumtif untuk memenuhi kebutuhan dasar, meskipun sudah mulai ada upaya ke arah program produktif, meskipun jumlahnya masih terbatas. Seluruh proses penyaluran juga didokumentasikan sebagai bentuk pertanggungjawaban.

Hasil dari penyaluran zakat menunjukkan bahwa bantuan yang diberikan mampu membantu memenuhi kebutuhan dasar mustahik, terutama dalam jangka pendek seperti kebutuhan pangan dan kebutuhan sehari-hari. Program ini juga memberikan dampak langsung terhadap kesejahteraan penerima, meskipun sifatnya masih sementara.

Bagaimana Keberhasilan Program Zakat?
Keberhasilan program zakat dapat dilihat dari beberapa indikator. Pertama, adanya peningkatan pendapatan mustahik setelah menerima bantuan. Misalnya, jika pendapatan keluarga mencapai sekitar satu juta rupiah per bulan, maka dapat dikatakan mulai mengalami perbaikan, sedangkan jika masih di kisaran enam ratus ribu rupiah, masih tergolong miskin.

Kedua, adanya perubahan kondisi sosial ekonomi, yaitu pergeseran dari mustahik menuju kondisi yang lebih mandiri. Idealnya, mustahik dapat berkembang menjadi muzaki, meskipun hal ini masih jarang terjadi. Selain itu, perubahan perilaku seperti meningkatnya kesadaran untuk bersedekah dan membantu orang lain juga menjadi tanda positif.

Bukti keberhasilan program juga terlihat dari kisah nyata penerima manfaat yang mengalami perbaikan ekonomi, bahkan mulai bisa berbagi kembali. Selain itu, data internal lembaga yang membandingkan kondisi sebelum dan sesudah menerima bantuan, serta dokumentasi kegiatan penyaluran, menjadi indikator awal dalam menilai dampak program. Namun, pengukuran ini masih bersifat sederhana dan belum memiliki standar baku, sehingga evaluasi masih bergantung pada penilaian internal lembaga.

Dalam praktiknya, penyaluran zakat di Rumah Peduli Zakat Bandung masih didominasi oleh bantuan konsumtif, yaitu untuk memenuhi kebutuhan dasar sehari-hari. Saat ini, program produktif belum berjalan maksimal karena membutuhkan pendampingan dan sumber daya yang lebih besar.

Menguatkan Peran Zakat untuk Masa Depan
Secara keseluruhan, program zakat di Rumah Peduli Zakat Bandung telah memberikan dampak yang cukup baik dalam membantu memenuhi kebutuhan dasar mustahik, terutama dalam jangka pendek. Hal ini didukung oleh sistem penyaluran yang relatif terstruktur serta adanya dampak sosial berupa meningkatnya kesadaran berbagi.

Secara umum, program zakat telah memberikan manfaat bagi masyarakat, terutama dalam membantu memenuhi kebutuhan dasar mustahik. Namun, ke depan masih terdapat peluang untuk mengembangkan program agar tidak hanya bersifat jangka pendek, tetapi juga mampu mendorong kemandirian ekonomi penerima manfaat. Selain itu, peningkatan pemahaman masyarakat tentang zakat serta penguatan pengelolaan program juga menjadi hal penting agar potensi zakat dapat dimanfaatkan secara lebih luas.

Dengan pengembangan tersebut, zakat diharapkan tidak hanya berfungsi sebagai bantuan sementara, tetapi juga dapat menjadi salah satu upaya berkelanjutan dalam mengurangi kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat..

Penulis : Mahasiswa Departemen Ilmu Ekonomi Syariah IPB University
Aura Mustika Fana (H5401241083)
Puan Siti Nur Fadillah (H5401241086)
Salman Wafda Muzaki (H5401241089)
Nufail Raimy Aziz (H5401241090)
Mochamad Choirul Rizal (H5401241097)

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/read/rumah-peduli-zakat-bandung-seberapa-efektif-zakat-mengentaskan-kemiskinan/24454/
Dicetak dari JurnalPost.com pada 08 November 2026 06:33.