Kembali
Mode hapus aktif. Klik paragraf, foto, judul, tabel, atau bagian lain yang tidak ingin masuk PDF.
JurnalPost.com

Rempah, Waktu, dan Perubahan: Cerita Teknologi Tepat Guna di Tamiajeng

Tim Editor: Redaksi · Tanggal: 11 Januari 2026
Hasil Alat Pencuci Rempah

JurnalPost.com – Trawas, Mojokerto – 8 Januari 2026 Di balik aroma khas rempah yang setiap hari merebak dari dapur produksi, usaha bumbu milik Hj. Emi Handayani di Desa Tamiajeng menyimpan kisah tentang kerja keras yang nyaris tak pernah berhenti. Sejak pagi, karung-karung rempah datang silih berganti. Jahe, kunyit, dan kencur harus dicuci bersih sebelum diolah lebih lanjut. Proses yang tampak sederhana ini justru menjadi tahapan paling melelahkan dan menyita waktu.

Selama bertahun-tahun, pencucian rempah dilakukan secara manual. Dalam satu hari, kapasitas pencucian mencapai sekitar 20 kilogram, namun tidak dilakukan sekaligus. Biasanya, sekitar 7 kilogram dicuci pada pagi hari, kemudian dilanjutkan secara bertahap. Proses pencucian dilakukan berulang, yakni satu kali pencucian awal untuk menghilangkan tanah, kemudian dua kali bilasan agar rempah benar-benar bersih. Seluruh rangkaian tersebut membutuhkan waktu sekitar 30 hingga 40 menit, dengan tenaga yang cukup menguras fisik.

Rutinitas inilah yang kemudian menjadi perhatian mahasiswa Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya dari Reguler 19 (R-19) Sub Kelompok 3 dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat di Desa Tamiajeng. Melalui pengamatan langsung dan diskusi bersama Hj. Emi Handayani, mahasiswa melihat bahwa permasalahan utama bukan terletak pada bahan baku, melainkan pada proses pencucian yang memakan waktu lama dan menyita tenaga.

Berangkat dari permasalahan tersebut, Sub Kelompok 3 R-19 mengusulkan solusi berupa teknologi tepat guna, yakni mesin pencuci rempah yang dirancang sesuai dengan kebutuhan mitra. Alat ini dikembangkan dengan prinsip sederhana, mudah dioperasikan, dan mampu mempercepat proses pencucian tanpa mengurangi kualitas kebersihan bahan.

Penyerahan Alat Pencuci Rempah Kepada Hj. Emi

Hasil uji coba menunjukkan perubahan yang signifikan. Pada pengujian dengan beban 5 kilogram rempah, mesin pencuci mampu bekerja secara optimal hanya dalam waktu sekitar 3 menit. Rempah yang dihasilkan tampak bersih, bebas dari tanah, bahkan kulit-kulit tipis yang biasanya masih menempel turut terlepas. Perbandingan ini menunjukkan efisiensi waktu yang jauh lebih tinggi dibandingkan metode manual sebelumnya.

Bagi Hj. Emi Handayani, kehadiran mesin pencuci rempah ini memberikan dampak nyata dalam aktivitas produksi sehari-hari. Proses pencucian menjadi lebih cepat dan ringan, sehingga waktu dan tenaga dapat dialihkan ke tahapan produksi lainnya. Ia mengaku sangat terbantu dengan adanya program pengabdian masyarakat ini, karena solusi yang diberikan benar-benar sesuai dengan kebutuhan usaha yang dijalankan.

Kisah di Desa Tamiajeng menjadi bukti bahwa pengabdian masyarakat tidak selalu harus menghadirkan teknologi yang rumit. Dengan memahami permasalahan di lapangan dan menghadirkan solusi yang tepat guna, perubahan nyata dapat dirasakan secara langsung oleh masyarakat. Mesin pencuci rempah ini bukan sekadar alat, melainkan simbol kolaborasi antara mahasiswa dan pelaku UMKM.

Meski kegiatan pengabdian masyarakat telah usai, alat yang ditinggalkan tetap bekerja di dapur produksi Hj. Emi Handayani. Di sanalah perubahan kecil terus berlanjut perlahan, sederhana, namun membawa dampak besar bagi keseharian usaha bumbu di Desa Tamiajeng.

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/read/rempah-waktu-dan-perubahan-cerita-teknologi-tepat-guna-di-tamiajeng/22788/
Dicetak dari JurnalPost.com pada 06 November 2026 01:32.