Kembali
Mode hapus aktif. Klik paragraf, foto, judul, tabel, atau bagian lain yang tidak ingin masuk PDF.
JurnalPost.com

Rehabilitasi Pasca Operasi Cedera Anterior Cruciate Ligament

Tim Editor: Redaksi · Tanggal: 26 Desember 2025
Cropped image of doctor checking african american patient leg brace

Oleh: Iffah Rasyadah Karimah
NIM  : 202510490110081
Kelas : Fisioterapi-B
Rehabilitasi Pasca Operasi Cedera
Anterior Cruciate Ligament

JurnalPost.com – Tujuan dari protokol rehabilitasi adalah beraktivitas seperti sebelum pasien kembali semula, pasien dapat mengontrol rasa nyeri dan pembengkakan, mendapatkan fleksibilitas dan ROM yang utuh, mengeliminasi atrofi otot, mengembalikan cara berjalan yang normal, mengembalikan kekuatan otot, mempertahankan kekuatan kardiovaskular, dan mengembalikan kepercayaan diri serta mengatasi kinesiophobia. Rehabilitasi ini bertujuan agar atlet dapat return to play atau dapat kembali melakukan aktivitas olahraga dan bahkan mengikuti kompetisi olahraga kembali seperti sebelumnya (Adams dkk., 2012).

Preoperative phase merupakan komponen penting dalam hasil yang diharapkan setelah rekonstruksi ACL. Defisit kekuatan otot quadriceps juga merupakan hal yang signifikan setelah cedera ACL dimana kekuatannya berkisar sekitar 15%-40%. Kekuatan otot quadriceps merupakan prediktor yang signifikan dari fungsi lutut setelah dilakukannya rekonstruksi ACL. Dengan fokus untuk meningkatkan indeks quadriceps, yaitu rasio kekuatan quadriceps bagian yang cedera dibandingkan dengan bagian yang tidak cedera (lebih besar dari 90% sebelum operasi). (Adams dkk., 2012; Kamila Zavitri & Purnaning, t.t.).

Early postoperative phase yaitu pada minggu ke-2 setelah operasi. Tujuan yang perlu dicapai adalah lutut dapat fleksi lebih dari 110 derajat agar dapat berjalan tanpa penopang, dapat menggunakan sepeda atau stair climber tanpa kesulitan saat ekstensi dan skor Knee Outcome Survey activities of daily living subscale (KOS-ADL) lebih besar dari 65%. Pada fase ini juga dapat digunakan penopang dan immobilizer. Penopang dan immobilizer dapat dilepas oleh pasien jika dapat melakukan gerakan angkat kaki dengan lurus tanpa hambatan (Adams dkk., 2012).

Intermediate postoperative phase di mana tujuan yang perlu dicapai dalam fase ini adalah fleksi lutut dalam 10o dari sisi yang tidak terlibat dan indeks quadriceps mencapai 60%. Latihan keseimbangan dapat dimulai pada fase ini. Latihan keseimbangan dan neuromuskular menunjukan tidak ada efek samping terhadap peningkatan kelemahan sendi atau penurunan kekuatan otot. Selain itu, fungsi lutut pasca rekonstruksi ACL dapat meningkat dengan program rehabilitasi neuromuscular (Adams dkk., 2012; Kamila Zavitri & Purnaning, t.t.).

Fase terakhir merupakan fase pasca operasi atau late postoperative phase dengan frekuensi pengobatannya berdasarkan pada gangguan-gangguan yang tersisa. Tujuan dari fase ini adalah mencapai indeks quadriceps lebih dari 80%, cara berjalan normal, ROM lutut penuh dan efusi sendi lutut berkurang. Indeks quadriceps 80% merepresentasikan defisit minimal pada kekuatan sendi lutut dan dapat digunakan juga untuk membedakan kekuatan quadriceps yang baik dan buruk  (Kamila Zavitri & Purnaning, t.t.).

Setelah pasien mencapai minggu ke-8 pasca operasi atau sudah memasuki transitional phase dan sudah memenuhi kriteria indeks quadriceps 80%, berkurangnya efusi dan dapat memahami serta mendemonstrasikan aturan rasa sakit. Seluruh pasien rehabilitasi pasca rekonstruksi ACL, didorong untuk dapat memulai progres lari agar dapat memperkuat bagian unilateral tungkai ketika berlari dan meningkatkan tenaga yang dihasilkan dari sifat dinamis berlari. Progres berlari ini dapat dimulai sepanjang 3,2 km dengan pergantian lari jogging dan berjalan. Pasien dapat menjalani tes hop paling cepat pada minggu ke 12 setelah rekonstruksi ACL. Jenis hop tes yang biasa digunakan pada pasien pasca rekonstruksi ACL adalah single hop for distance, crossover hop for distance, dan 6 meter timed hop(Adams dkk., 2012; Kamila Zavitri & Purnaning, t.t.)

Secara umum, tujuan dari rehabilitasi pasca gerakan operasi adalah untuk mengembalikan normal memperkuat lutut sendi untuk dilakukan rekonstruksi dengan tujuan dan fokus yang berbeda di setiap fasenya. Di mana fase awal lebih berfokus untuk mengatasi defisit ROM ekstensi dan fleksi serta memulai pengembalikan kekuatan otot. Lalu di fase selanjutnya, rehabilitasi difokuskan pada pengontrolan fungsi neuromuskular serta keseimbangan. Dan di fase terakhir rehabilitasi bertujuan untuk dapat mengembangkan penguatan fungsional pasien seperti pliometrik dan kelincahan, lari dan pelatihan awal olahraga spesifik. Tujuan yang ingin dicapai pada fase akhir adalah pasien dapat memulai prgres berlari, melakukan gerakan aerobic/anaerobic khusus, memiliki kekuatan quadriceps dan hamstring setidaknya 85% dari sebelumnya (Kamila Zavitri & Purnaning, t.t.).

Setelah dilakukannya rekonstruksi ACL, tujuan utama yang harus dicapai dalam waktu dekat adalah pasien dapat mencapai ROM lutut, baik itu gerakan ekstensi maupun fleksi. Strategi pengobatan untuk mencapai ROM fleksi, yaitu 120 derajat dalam 4 minggu. Dengan cara latihan ROM aktif berbantu di samping tempat tidur, wall slides. Latihan angkat beban diketahui dapat menurunkan nyeri secara signifikan pada bagian patellofemoral dari 35% menjadi 8%. Latihan neuromuskular dan keseimbangan juga dapat meningkatkan fungsi lutut, meningkatkan keseimbangan pada lutut, melatih kekuatan otot dan persepsi fungsi lutut. Studi lain yang dilakukan oleh (Hauger dkk., 2018) membahas terkait penerapan neuromuskular electrical stimulation (NMES) yang dapat dilakukan sebagai jenis rehabilitasi tambahan pasca operasi ACL.

NMES dapat bekerja secara langsung merekrut neuron motorik untuk menghasilkan kekuatan quadriceps yang lebih baik. Dengan adanya peningkatan kekuatan otot quadriceps lebih awal dalam masa rehabilitasi akan memberikan keuntungan serta manfaat bagi pasien. Namun, NMES yang dilakukan tanpa diiringi rehabilitasi konvensional dilaporkan tidak mempengaruhi fungsi lutut secara signfikan (Kamila Zavitri & Purnaning, t.t.).

DAFTAR PUSTAKA
Adams, D., Logerstedt, D., Hunter-Giordano, A., Axe, M. J., & Snyder-Mackler, L. (2012). Current concepts for anterior cruciate ligament reconstruction: A criterion-based rehabilitation progression. Journal of Orthopaedic and Sports Physical Therapy, 42(7), 601–614. https://doi.org/10.2519/jospt.2012.3871

Hauger, A. V, Reiman, M. P., Bjordal, J. M., Sheets, C., Ledbetter, L., & Goode, A. P. (2018). Neuromuscular electrical stimulation is effective in strengthening the quadriceps muscle after anterior cruciate ligament surgery. Knee Surgery, Sports Traumatology, Arthroscopy, 26(2), 399–410. https://doi.org/10.1007/s00167-017-4669-5

Kamila Zavitri, L., & Purnaning, D. (t.t.). TINJAUAN PUSTAKA ¾ LITERATURE REVIEW Rehabilitasi Pasca Operasi Cedera Anterior Cruciate Ligament (ACL). Jurnal Kedokteran Unram, 2022(3), 1100–1106.

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/read/rehabilitasi-pasca-operasi-cedera-anterior-cruciate-ligament/22339/
Dicetak dari JurnalPost.com pada 06 November 2026 00:43.