

Penulis : Ivena Rachelia Berlian Sitorus
Mahasiswa Politeknik Keuangan Negara STAN. Akuntansi Sektor Publik
JurnalPost.com – Pantai Base-G di Kota Jayapura, Provinsi Papua, menjadi salah satu tempat wisata alam yang populer. Pantai ini, yang terletak di Tanjung Ria dan sangat disukai oleh orang-orang karena mudah diakses dari pusat kota. Tempat ini pernah digunakan sebagai pangkalan militer oleh tentara Sekutu selama Perang Dunia II, itulah sebabnya dinamai “Base-G”.
Masyarakat lokal mengembangkan tempat ini menjadi salah satu tempat wisata pantai yang paling sering dikunjungi, terutama pada akhir pekan dan hari libur, karena pantai ini memiliki daya tarik tersendiri bagi para pengunjung dengan keindahan alamnya, seperti hamparan pasir putih, air laut yang jernih, dan pemandangan pantai yang masih sangat alami. Pantai Base-G termasuk pantai yang sangat indah, yang membuatnya menjadi salah satu tempat favorit bagi orang lokal dan wisatawan yang datang ke Kota Jayapura. Dengan jumlah wisatawan yang ramai, Pantai Base-G tidak hanya berfungsi sebagai tempat rekreasi, tetapi juga memiliki potensi ekonomi yang dapat ditingkatkan untuk meningkatkan pariwisata dan penerimaan wisatawan di daerah.
Pantai Dengan Potensi Besar
Pantai Base G memiliki potensi yang besar untuk dikembangkan sebagai salah satu tempat wisata yang menjadi sumber PAD di sektor pariwisata. Pantai ini juga dijadikan masyarakat sekitar sebagai tempat kegiatan ekonomi, seperti jual beli makanan serta minuman, sewa tikar dan pondok, jual beli alat renang, serta jasa parkir yang juga ada di pantai tersebut.
Sehingga, tempat rekreasi seperti Pantai Base G menjadi peluang yang besar untuk pemda dalam mengoptimalkan pendapatan daerah. Namun, hingga saat ini pantai base-G belum terkelola dengan baik. Jika pantai ini dikelola dengan lebih baik dan lebih terstruktur, maka potensi wisatawan yang datang akan lebih tinggi dan pendapatan yang didapatkan juga menjadi lebih tinggi. Sehingga selain membuka lapangan pekerjaan untuk masyarakat sekitar, pantai ini juga menjadi salah satu sumber pendapatan Kota Jayapura.
Penerimaan yang Masih Terbatas
Meskipun memiliki potensi wisata yang luar biasa, sektor retribusi wisata di Pantai Base-G masih kurang diterima. Peningkatan jumlah kunjungan wisatawan tidak selalu berarti peningkatan pendapatan pemerintah daerah. Ini menunjukkan bahwa potensi ekonomi destinasi wisata belum sepenuhnya digunakan untuk menghasilkan PAD. Kondisi ini menunjukkan bahwa masih ada beberapa masalah dalam pengelolaan dan sistem pemungutan retribusi wisata di daerah tersebut.
Sistem pemungutan masih dilakukan secara konvensional dan belum sepenuhnya terintegrasi dengan sistem pencatatan yang transparan, menjadi salah satu faktor yang memengaruhi rendahnya penerimaan tersebut. Mungkin ada ketidaksesuaian antara jumlah pengunjung yang datang dan jumlah uang yang diterima karena proses pemungutan tiket masih dilakukan secara manual. Efektivitas pemungutan retribusi juga dapat dipengaruhi oleh kekurangan pengawasan dan pengelolaan wisata yang buruk. Akibatnya, pemerintah daerah belum memanfaatkan sepenuhnya potensi wisata Pantai Base-G.
Penyebab Kurang Optimalnya Penerimaan
Pantai Base-G memiliki jumlah wisatawan yang ramai, meskipun ramai pengunjung, pantai ini masih kurang dalam melakukan penyetoran ke daerah dengan jumlah yang sesuai. Hal ini karena masih dilakukan pembelian tiket yang manual dan menggunakan uang tunai. Sehingga terkadang uang yang didapatkan di simpan ke kantong mereka sendiri.
Selain itu juga, wilayah pantai ini kurang dikelola dengan baik oleh pemerintah, yang menyebabkan terkadang kurang peminat wisatawan berkunjung dan lebih memilih pantai yang lain. Terkadang biaya parkir serta tempat sewa pondoknya diberikan harga yang sesuai dengan kemauan mereka yang punya pondoknya. Sehingga, penerimaan juga menjadi sulit untuk di optimalkan.
Harga Sewa Pondok yang Tergantung Suasana Hati
Para wisatawan sering menyoroti mengenai pengelolaan fasilitas yang tersedia di Pantai Base-G, karena tidak hanya tiket, namun terdapat penyewaan pondok dan gazebo. Wisatawan sering menyewa pondok ini sebagai tempat untuk berkumpul bersama keluarga dan berteduh dari panasnya terik matahari sambil menikmati pemandangan ke arah laut. Sehingga, dengan adanya pondok sebagai salah satu fasilitas yang tersedia, dapat menambah nilai wisata dan memberikan peluang bisnis bagi masyarakat sekitar.
Namun, banyak wisatawan yang mengeluhkan harga sewa pondok yang cukup mahal, apalagi yang merupakan warga lokal Kota Jayapura. Selain itu juga, harga sewa yang diberikan antar pondok seringkali memiliki tarif yang berubah-ubah tanpa standar yang jelas. Sehingga menunjukkan bahwa penyedia pondok masih menetapkan tarif secara mandiri dan kurang terorganisir oleh pemda. Hal yang seperti ini membuat pengalaman liburan menjadi kurang nyaman karena kurangnya pengelolaan tarif yang transparan. Namun, jika tarif pondok dikelola dengan transparan, akan memberikan manfaat ganda: membuat wisatawan merasa lebih nyaman dan juga menambah pemasukan masyarakat.”
Pengelolaan Fasilitas Wisata yang Kurang Terkoordinasi
Masalah tata kelola wisata ini sangat jelas terlihat dari tarif sewa pondok yang tidak memiliki standar pasti. Di lapangan, pengelolaannya pun masih terpisah-pisah. Fasilitas seperti pondok, lahan parkir, dan area pedagang dikelola oleh pihak yang berbeda tanpa ada satu sistem yang menyatukan. Akibatnya, penataan kawasan pantai menjadi berantakan dan aktivitas jual-beli di sekitarnya tidak teratur.
Sistem yang terpisah-pisah ini juga membuat penarikan retribusi menjadi sangat tidak efektif. Banyak potensi pendapatan daerah yang akhirnya hilang karena tidak ada aturan yang mengikat. Padahal, jika Pantai Base-G dikelola secara terpadu melalui satu pintu, fasilitasnya akan jauh lebih rapi dan nyaman bagi pengunjung. Bersamaan dengan itu, pemasukan untuk pendapatan daerah Kota Jayapura juga pasti akan melonjak tajam.
Momentum Penataan Retribusi di Pantai Base-G
Selama ini, besarnya daya tarik wisata Pantai Base-G seolah terhambat oleh sistem pengelolaan yang kurang maksimal. Sehingga, Pemda harus segera turun tangan untuk membenahi sistem retribusi yang terjadi pada tempat wisata di Kota Jayapura secara menyeluruh. Perbaikan ini harus mencakup semua aspek penting, mulai dari perawatan fasilitas, penarikan retribusi, kualitas layanan tamu serta pengaturan pedagang.
Oleh karena itu, beralih ke sistem digital menjadi salah satu pilihan yang paling efektif. Pembayaran yang dilakukan non-tunai serta penggunaan tiket elektronik dapat membuat pencatatan bukunya menjadi jauh lebih baik, transparan, serta mengurangi adanya pungli. Selanjutnya diperlukan aturan yang tegas tentang harga sewa pondok untuk mencegah adanya ketimpangan harga yang dibuat oleh masyarakat sekitar. Sehingga, pengelolaan pariwisata yang baik dan terbuka tidak hanya membuat wisatawan senang, namun juga memastikan bahwa sektor ini mampu untuk memberikan kontribusi yang cukup besar untuk PAD Kota Jayapura.
Optimalisasi Wisata Pantai Base-G: Dari Potensi Alam Menuju Kemandirian Daerah
Pantai Base-G pada dasarnya memiliki potensi yang besar sebagai salah satu destinasi wisata unggulan di Kota Jayapura. Keindahan alam yang dimiliki serta tingginya minat masyarakat untuk berkunjung menunjukkan bahwa kawasan ini dapat menjadi salah satu sumber penerimaan daerah melalui sektor pariwisata. Tetapi potensi tersebut belum mampu sepenuhnya termanfaatkan dengan optimal karena masih banyaknya kendala yang ada dalam pengelolaan retribusi yang ada, mulai dari sistem pemungutan yang belum tertata dengan baik, pengelolaan fasilitas yang kurang terkoordinasi, hingga penetapan tarif fasilitas wisata yang belum memiliki standar yang jelas.
Oleh karena itu, pengelolaan sektor pariwisata perlu dilakukan secara lebih terarah agar potensi yang ada dapat memberikan manfaat yang lebih besar bagi daerah. Penataan sistem retribusi wisata, penerapan mekanisme pemungutan yang lebih transparan, serta pengaturan tarif fasilitas wisata yang lebih jelas dapat menjadi langkah awal untuk memperbaiki pengelolaan kawasan wisata. Dengan pengelolaan yang lebih baik, Pantai Base-G tidak hanya akan terus menjadi tempat rekreasi semata bagi masyarakat, namun juga bisa berkontribusi secara nyata dalam peningkatan PAD serta dapat mendukung terjadinya pembangunan di Kota Jayapura di masa depan.