Kembali
Mode hapus aktif. Klik paragraf, foto, judul, tabel, atau bagian lain yang tidak ingin masuk PDF.
JurnalPost.com

Plastik Berlubang (Perforasi) untuk Mengurangi Kehilangan Pangan

Tim Editor: Redaksi · Tanggal: 28 Juni 2024

Oleh: Putri Wulandari Zainal, PhD *

JurnalPost.com – Kehilangan pangan terjadi antara masa panen dan penjualan eceran (retail). Kehilangan pangan atau juga dikenal sebagai kehilangan pascapanen memberikan tantangan utama bagi semua pihak baik petani, distributor, ataupun retail. Hal ini karena kehilangan pangan dapat melemahkan ketahanan pangan dan berkurangnya pendapatan di banyak negara di dunia terutama di negara-negara berkembang. Melemahnya ketahanan pangan dan pendapatan ini disebabkan oleh adanya kehilangan atau penurunan kualitas (nutrisi, bentuk fisik, aroma dan rasa) sehingga turunnya harga jual buah dan sayuran. Selain itu kehilangan pangan pada rantai pasok juga berdampak pada masalah lingkungan yang menyumbangkan penumpukan sampah organik maupun anorganik. Oleh karena itu, pencegahan kerugian pada tahap awal rantai pasok pangan dibutuhkan untuk dapat meningkatkan nilai jual tanpa memerlukan sumber daya tambahan dan mengurangi beban tambahan pada lingkungan dengan cara mempertahankan kualitas dan memperpanjang umur simpan produk. Salah satu teknik pascapanen untuk dapat mengurangi kehilangan pascapanen ini adalah kemasan plastik.

Solusi Mengurangi Kehilangan Pangan
Kemasan plastik merupakan salah satu teknik setelah panen untuk membantu mengawetkan makanan segar dan makanan olahan sehingga dapat mengurangi sampah makanan. Seperti yang kita ketahui, saat ini kehilangan hasil atau kehilangan pangan masih terjadi baik pada produk segar seperti buah dan sayuran ataupun produk olahan. Menurut FAO (2014), kehilangan pangan di Eropa hanya sebesar 3% berkat penggunaan solusi pengemasan yang sesuai, sementara di negara-negara berkembang, dimana penggunaan kemasan tidak begitu luas, kehilangan tersebut dapat mencapai 40%. Namun, jika Kita ingin mengurangi angka ini, perlu diingat bahwa tidak semua produk makanan dapat dikemas dalam ‘plastik standar’. Karena sifat dan komposisinya, beberapa produk memerlukan kemasan dengan spesifikasi tertentu untuk menjaga produk tetap dalam kondisi yang sesuai. Misalnya, makanan segar dan barang yang mudah rusak, seperti produk daging olahan, serta buah dan sayuran, memerlukan kemasan yang memungkinkan produk tersebut dapat bernapas.

Sayuran dan buah-buahan setelah panen masih melakukan aktifitas respirasi atau bernafas yang menyebabkan perombakan kualitas sepanjang rantai pasok dan penyimpanan sedangkan daging olahan membutuhkan sirkulasi udara untuk mengurangi kelembaban yang tinggi sehingga dapat mengurangi peluang terjadinya pembusukan. Dalam kasus ini kita membutuhkan design kemasan khusus seperti perforasi atau sering disebut sebagai kemasan berlubang.

Mengenal Kemasan Berlubang (Perforasi)
Sesuai dengan namanya, plastik jenis ini memiliki lubang yang sangat kecil. Teknik pelubangan atau perforasi pada dasarnya digunakan dalam format horizontal form-fill-seal (HFFS) dan vertical form-fill-sealing (VFFS). Proses perforasi dapat dilakukan dengan unit pelubang atau dengan laser. Dalam pembuatan plastik perforasi ini dapat disesuaikan dengan kebutuhan karena setiap jenis produk memiliki sifat yang unik. Untuk pemenuhan kebutuhan ini ukuran dan pola perforasi harus disesuaikan berdasarkan kebutuhan pernafasan produk atau menyesuaikan bahan untuk memenuhi pendekatan fleksibelitas produk sehingga dapat memenuhi kebutuhan spesifik petani, distributor, ekportir, dan pengecer.

Salah satu keuntungan terpenting dari kemasan berlubang adalah kemampuannya memperpanjang umur simpan barang yang mudah rusak secara alami. Teknologi pada kemasan ini memungkinkan kontrol yang tepat terhadap atmosfer di dalam kemasan sehingga dapat memperlambat proses pematangan, dan menjaga tingkat kelembapan optimal. Hal ini tidak hanya memastikan konsumen menikmati produk yang lebih segar tetapi juga mengurangi pemborosan makanan secara signifikan.

Kemasan Berlubang juga memainkan peran penting dalam komitmen terhadap keberlanjutan lingkungan. Dengan meningkatkan kesegaran produk, tidak hanya meminimalkan limbah makanan namun juga menurunkan emisi karbon yang terkait dengan pembuangan barang yang tidak terjual. Selain itu, berkurangnya kebutuhan akan bahan pengawet dan kemampuan untuk menggunakan bahan kemasan yang lebih ringan dan efisien berkontribusi terhadap penurunan dampak lingkungan secara keseluruhan.

Contoh kemasan dengan perforasi makro pada buah utuh (Sumber Gambar: https://www.istockphoto.com/)

Tren Kedepan
Kemasan berlubang ini sangat dibutuhkan karena dapat diaplikasikan dengan luas, tidak hanya untuk produk buah dan sayuran utuh serta daging olahan tetapi juga dapat di gunakan untuk buah dan sayuran potong segar. Hal ini dikarenakan kemasan berlubang tidak hanya dapat mengatasi respirasi dan menjaga sirkulasi udara tetapi juga dapat megurangi terperangkapnya air di dalam kemasan serta menjaga kelembaban buah dan sayuran potong. Kelembaban dan ketersediaan air berhubungan dengan pertumbuhan mikroba yang menjadi tantangan utama bagi produk segar potong sama hal nya dengan produk olahan daging. Selain itu, kemasan ini juga dapat berfungsi sebagai ventilasi uap untuk produk makanan siap saji. Ventilasi uap ini dapat meningkatkan kenyamanan konsumen yang memiliki waktu terbatas dengan memudahkan memanaskan makanan tanpa menusuk lapisan penutup secara manual.

Contoh kemasan dengan perforasi mikro pada pengemasan sayuran potong (Sumber Gambar: https://www.istockphoto.com/)

*Penulis adalah staf dosen Departement Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Andalas. Penulis dapat dihubungi melalu nomor telephone +81 8116600259

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/read/plastik-berlubang-perforasi-untuk-mengurangi-kehilangan-pangan/15715/
Dicetak dari JurnalPost.com pada 08 November 2026 02:12.