Kembali
Mode hapus aktif. Klik paragraf, foto, judul, tabel, atau bagian lain yang tidak ingin masuk PDF.
JurnalPost.com

Perubahan Bahasa dalam Media Sosial yang Memengaruhi Cara Komunikasi Generasi Z

Tim Editor: Redaksi · Tanggal: 18 Juni 2025
Sumber : pinterest.com

JurnalPost.com – Di era digital saat ini, teknologi telah mengubah cara orang berkomunikasi, beraktivitas, bahkan pola berpikir mereka. Dampak yang paling nyata terlihat dari cara berkomunikasi. Platform media sosial seperti Instagram, TikTok, WhatsApp, dan X telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari, khususnya bagi Generasi Z, yakni generasi yang lahir pada pertengahan 1990-an hingga awal 2010-an dan tumbuh seiring dengan perkembangan internet. Saat ini, media sosial tidak hanya digunakan sebagai alat berinteraksi sosial, tetapi juga menjadi ruang untuk menampilkan jati diri, menyampaikan gagasan, dan menciptakan berbagai tren bahasa. Di tengah arus irformasi yang serba cepat, bahasa mengalami perubahan yang signifikan. Bahasa tidak lagi sekadar alat penyampaian informasi, tetapi juga sebagai cerminan budaya digital, pola pikir, serta cara Generasi Z memandang dan merespons dunia di sekitar mereka.

Salah satu tanda nyata dari perubahan bahasa di media sosial adalah maraknya penggunaan singkatan yang membuat komunikasi menjadi lebih praktis dan efisien. Kata-kata seperti “OOTD” (Outfit of the Day), “FOMO” (Fear of Missing Out), “BTW” (By The Way), “GWS” (Get Well Soon), “FYI” (For Your Information), “OTW” (On The Way), atau “LOL” (Laugh Out Land) kini lazim digunakan dalam percakapan sehari-hari. Di Indonesia, Generasi Z turut memperkaya bahasa dengan menciptakan istilah baru seperti “japri” (jalur pribadi), “bucin” (budak cinta), “mager” (malas gerak), “sabi” (bisa), atau “baper” (bawa perasaan). Penggunaan istilah-istilah tersebut tidak hanya memudahkan komunikasi, tetapi juga mencerminkan gaya bahasa yang santai dan penuh selera humor bagi generasi muda.

Selain singkatan, Generasi Z juga gemar memadukan bahasa Indonesia dengan bahasa asing, seperti bahasa Inggris. Kalimat seperti “lagi hectic banget, jadi pengen me time dulu” menunjukkan kreativitas dalam memadukan dua bahasa untuk menyampaikan suasana hati secara ekspresif. Ragam bahasa gaul ini kerap muncul dari tren yang berkembang di media sosial, seperti video viral di Tiktok atau unggahan meme, yang menyebar luas dan menjadi bagian dari budaya digital generasi muda. Fenomena ini menunjukkan bahwa bahasa berkembang secara dinamis, seiring dengan perkembangan gaya hidup dan cara berkomunikasi anak muda saat ini.

Kemajuan teknologi turut mendorong perubahan penggunaan bahasa dari bentuk teks ke visual. Emoji, stiker, dan GIF kerap digunakan sebagai pengganti kata-kata untuk menyampaikan emosi atau tanggapan. Misalnya, satu emoji tawa dapat menggantikan kalimat “ini lucu sekali” atau “saya benar-benar tertawa sampai perut sakit” sementara stiker animasi dapat mengekspresikan perasaan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Bahasa visual ini membuat komunikasi menjadi lebih cepat, ringkas, ekspresif, dan mudah dipahami oleh berbagai kalangan. Di satu sisi, hal ini menunjukkan kemampuan Generasi Z yang kreatif dalam menciptakan gaya komunikasi yang sesuai dengan perkembangan zaman. Namun di sisi lain, perubahan ini dapat menjadi tantangan saat mereka harus berkomunikasi dalam konteks formal.

Generasi Z kreatif dalam menciptakan bahasa digital, namun hal ini berdampak negatif seperti menurunnya kemampuan berbahasa formal, menurunnya kepedulian pada kaidah kebahasaan, serta kurangnya kemampuan menulis dan berbicara dalam akademik atau profesional. Kondisi ini menjadi pengingat bagi dunia pendidikan dan orang tua bahwa literasi digital tidak hanya berfokus pada akses dan penggunaan teknologi, tetapi juga melibatkan pemahaman tentang etika berbahasa, konteks komunikasi, dan kemampuan membedakan penggunaan bahasa santai dan bahasa formal.

Media sosial memang menawarkan komunikasi yang cepat dan praktis, namun kecepatan tanpa konteks dan tidak menggunakan bahasa yang tepat dapat menimbulkan salah tafsir. Misalnya, penggunaan singkatan dan bahasa gaul bisa membingungkan orang dari generasi yang lain atau orang yang jarang aktif di media sosial. Selain itu, gaya komunikasi yang terlalu santai dan dipenuhi singkatan bisa dipandang tidak sopan dan kurang professional. Oleh karena itu, kemampuan dalam menyesuaikan penggunaan bahasa sesuai dengan konteks menjadi sangat penting agar pesan tersampaikan secara tepat dan tidak menimbulkan penilaian negatif.

Dalam menghadapi perubahan ini, dunia pendidikan dan orang tua sebaiknya tidak menolak gaya bahasa digital, melainkan mengarahkan secara bijak. Literasi digital harus mencakup kemamapuan memahami konteks serta menyesuaikan gaya bahasa sesuai dengan situasi, baik dalam kondisi formal maupun informal. Sekolah dan perguruan tinggi dapat memanfaatkan fenomena ini sebagai bahan pembelajaran yang relevan, dengan mengajak siswa membandingkan gaya bahasa, membahas dampaknya, dan menciptakan konten yang kreatif dengan bahasa yang santun dan efektif.

Bahasa di media sosial mencerminkan karakteristik zaman modern yang dinamis, adaptif, ekspresif, dan terus berkembang. Generasi Z memperlihatkan kemampuan berpikir cerdas dan kreatif dalam memanfaatkan bahasa. Namun, kemampuan berbahasa yang baik tidak cukup hanya dengan kebebasan berekspresi. Diperlukan pemahaman terhadap konteks serta kemampuan menyesuaikan gaya berbahasa sesuai situasi. Alih-alih menolak perubahan, lebih baik jika kita memberikan arahan agar bahasa digital menjadi bagian dari kekayaan komunikasi yang bijak. Jadikan media sosial bukan tempat pemerosotan bahasa, melainkan wadah yang menumbuhkan kreativitas, meningkatkan literasi, dan menumbuhkan etika berbahasa yang mencerminkan generasi muda yang adaptif dan bertanggung jawab.

Identitas Penulis

Nama : Ambar Dewi Cahyani
Prodi : Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Fakultas : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Asal Instansi : Universitas Tidar

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/read/perubahan-bahasa-dalam-media-sosial-yang-memengaruhi-cara-komunikasi-generasi-z/19197/
Dicetak dari JurnalPost.com pada 08 November 2026 07:50.