Oleh: Aulia Rahman
MAHASISWA UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUMATERA UTARA
JURUSAN PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDAIYAH
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
JurnalPost.com – Demam tifoid merupakan penyakit infeksi akut sistem pencernaan yang disebabkan oleh bakteri Salmonella Typi atau Salmonella Paratyphi atau istilah yang biasa disebut adalah gejala tipes. Demam tifoid merupakan penyakit yang ditularkan melalui makanan tau minuman yang terkontaminasi oleh bakteri Salmonella typhi, selain itu penyakit ini dapat ditularkan melalui kontak langsung dengan feses, urn atau sekret penderita demam tifoid.
Gejala demam tifoid dapat ditumbulkan dengan bervariasi dari gejala ringan, sedang, hingga berat. Penyebab demam tifoid adalah bakteri Salmonella typhi atau Salmonella paratyphi. Bakteri Salmonella akan masuk ke dalam tubuh melalui oral bersama dengan makanan atau minuman yang terkontaminasi. Sebagian bakteri akan dimusnahkan ke dalam lambung oleh asam lambung. Sebagian bakteri Salmonella yang lolos akan segera menuju ke usus halus tepatnya di ileum dan jejunum untuk berkembang biak. Bila sistem imun humoral mukosa tidak lagi baik dalam merespons, maka bakteri akan menginvasi kedalam sel epitel usus halus (terutama sel M) dan ke lamina propia.
Di lamina propia bakteri akan difagositosis oleh makrofag. Bakteri yang lolos dapat berkembang biak di dalm makrofag dan masuk ke sirkulasi darah (bakterimia I). Bakterima I dianggap sebagai masa inkubasi yang dapat terjadi selama 7-14 hari. Bakteri Salmonella juga dapat menginvasi bagian usus yang bernama plak player. Setelah plak player, bakteri dapat melakukan translokasi ke dalam folikel limfoid intestin dan aliran limfe mensenterika dan beberapa bakteri melewati sistem retikuloendotelial di hati dan limpa, bakteri meninggalkan makrofag yang selanjutnya berkembang biak di sinusoid hati.
Setelah dari hati, bakteri akan masuk ke sirkulasi darah untuk kedua kalinya (bakterima II) atau hal ini dapat disebut gejala demam tifoid (tipes) gejala sedang. Lalu, bakteremia II, makrofag hiperaktivitas dan saat makrofag memfagositosis bakteri maka, terjadinya pelepasan mediator inflamasi salah satunya sitokin. Pelepasan sitokin yang menyebabkan munculnya demam malaise, myalgia, sakit kepala dan gejala tokosemia. Plak payer dapat mengalami hyperplasia pada minggu pertama dan dapat terus berlanjut hingga terjadi nekrosis di minggu kedua. Dan lama kelamaan dapat menimbulkan ulkus di minggu ketiga. Terbentuknya ulkus inii menyebabkan perdarahan dan perforasi. Hal ini sangat cukup berbahaya dari gejala demam tifoid (tipes).
Untuk perlu diwaspadai atau diterapkan dalam mengurangi resiko komplikasi gejala ini alangkah baiknya dapat mengenal gejala pertama pada demam tifoid (tipes) yang pasti sering dijumpai adalah demam. Gejala demam ini secara perlahan akan meningkat dari (39-40 derajat) ketika menjelang sore atau malam hari dan akan turun ketika pagi atau di siang hari, dan menetap pada minggu kedua. Masa inkubasi demam tifoid bersekitar 7 – 14 hari (dengan rentang 3-60 hari). Selain itu, gejala demam tifoid yang sering dijumpai adalah sakit kepala, nyeri perut dan konstipasi. Sedangkan gejala demam tifoid pada anak-anak umumnya lebih banyak mengalami keluhan diare.
Obat antibiotik dalam mengatasi pencegahan gejalam demam tifoid yang lebih parah biasanya menggunakan antibiotik fluoroquinolon. Namun, pada tahun 1990 antibiotik untuk mengurangi bakteri Salmonella typhi adalah antibiotik kloramfenikol. Antibiotik golonga fluoroquinolon menunjukkan lebih cepat dan lebih efektif menurunkan jumlah bakteri Salmonella typhi di fase bila dibandingkan dengan antibiotik kloramfenikol dan trimetoprim-sulfametoksazol. Selain obat antibiotik dilakukan, asupan nutrisi dan cairan juga diperlukan untuk penyembuhan demam tifoid. Untuk penyembuhan demam tifoid disarankan untuk mengkonsumsi diet lunak serat. Artinya, asupan serat maksimal yang dianjurkan adalah 8 gram / perhari. Selain itu juga, disarankan untuk menghindari konsumsi susu, daging berserat kasar, lemak terlalu manis, asam, bumbu tajam serta diberikan dalam porsi yang kecil dan untuk mengurangi resiko terjadinya penularan terhadap demam tifoid sebaikya, pasien dan keluarga disarankan untuk menjaga kebersihan.