
JurnalPost.com – Inovasi pengembangan kurikulum sangatlah berperan sebagai salah satu komponen penting dalam terlaksananya proses pembelajaran yang baik. Saait ini, telah menjadi perbincangan terkait efektivitas kurikulum yang telah ditetapkan, yang digadang-gadang memberikan fleksibilitas bagi instansi sekolah dan guru dalam pengimplementasiannya. Kurikulum merdeka adalah terobosan yang diharapkan mampu membantu pihak sekolah dan guru pengajar dalam mengubah proses belajar menjadi lebih menarik sesuai dengan minat dan bakat siswa. Tujuan utama penerapan kurikulum merdeka dalam pendidikan ialah mendorong perbaikan kualitas dan krisis pembelajaran (Hehakaya & Pollatu). Sudah banyak satuan pendidikan yang menerapkan kurikulum merdeka pada tahun ajaran 2022/2023. Kurikulum merdeka bukanlah pengganti kurikulum 2013. Melainkan pengembangan dari kurikulum 2013 yang disertai dengan perubahan sebagai opsi tambahan bagi satuan pendidikan untuk melakukan pemulihan selama 2022-2024 (Hehakaya & Pollatu). Dalam hal ini, guru memiliki peran yang sangat penting menyukseskan implementasi kurikulum merdeka, sebab metode atau pengembangan pengajaran yang diberikan akan berdampak bagi pemahaman siswa sesuai dengan apa yang ia tangkap dan terima selama proses pembelajaran berlangsung baik dalam hal praktek atau teori.
Terlihat adanya perbedaan yang cukup mencolok antara kurikulum 2013 dengan kurikulum merdeka yaitu struktur kurikulum yang sebelumnya tidak fleksibel, jam pelajaran yang ditentukan tiap minggu, materi yang terlalu padat, materi pembelajaran kurang beragam, dan belum sepenuhnya menggunakan teknologi digital untuk mendukung proses pembelajaran (Hehakaya & Pollatu). Saat ini telah berbeda, struktur pada kurikulum merdeka memberikan kemudahan bagi guru dan instansi pendidikan untuk fokus pada materi yang esensial, telah tersedia beberapa referensi bagi guru, dan keleluasaan atau fleksibilitas bagi guru untuk dapat berfokus pada pelajaran yang diberikan. Kendati demikian, disamping beragam kemudahan atau fasilitas yang diberikan dalam pengimplementasian kurikulum merdeka. Tak luput, dari beberapa persoalan yang menyertai. Persoalan dapat diartikan sebagai kesenjangan dalam harapan atau tujuan yang kenyataannya tidak berjalan dengan baik dan membutuhkan penyelesaian akan permasalahan yang diakibatkan. Persoalan dalam implementasi kurikulum merdeka diantaranya ialah masih banyak guru yang memiliki kendala dalam penggunaan teknologi hingga akhirnya belum dapat memanfaatkan dan menggunakan aplikasi penunjang pembelajaran, beberapa dari guru pun masih kurang menguasai media yang mendukung dalam pembelajaran, adapun kesulitan dalam pelaksanaan pembelajaran yang disebabkan oleh heterogenitas siswa menjadi kendala, dan juga keterbatasan sarana dan prasarana sekolah turut menjadi persoalan (Hehakaya & Pollatu).
Dapat disimpulkan dari beberapa persoalan tersebut, bahwa penerapan dari kurikulum merdeka, tidak dapat langsung disempurnakan menjadi satu waktu dalam pelaksanaannya, perlu adanya adaptasi baik bagi guru dan siswa untuk menerima dan melaksanakan sistem pendidikan sesuai dengan struktur dari kurikulum merdeka. Kendala pun, tak hanya dialami oleh guru sebagai fasilitator dalam pembelajaran, bisa jadi sarana dan prasarana yang kurang mendukung dengan satu dan lain hal, dapat menjadi penghambat. Dapat dilihat nantinya, bagaimana efektifitas kurikulum merdeka dalam sistem pembelajaran untuk jangka panjang. Dibalik persoalan yang dihadapi dalam kurikulum merdeka ini, adapun beberapa guru yang sudah melaksanakan proses pembelajaran sesuai dengan tujuan yang akan dicapai. Maka dari itu, dibutuhkan dukungan kerjasama tidak hanya dari pihak guru pendidik, kepala sekolah, dan instansi pendidikan, orang tua, dan masyarakat saja. Tapi, ada baiknya juga disamakan implementasinya baik itu mengenai sarana prasarana dan kesiapan sekolah, juga kesiapan peserta didik untuk menerima, memahami, dan mengimplementasikan. Dengan harapan kedepannya, dapat terwujud sistem pembelajaran yang lebih optimal lagi hingga membantu mendorong semangat belajar peserta didik tidak hanya dalam hal akademik melainkan non akademik baik minat atau bakat yang dimiliki.
Referensi
Hehakaya, E., & Pollatu, D. (t.thn.). Problematika Guru Dalam Mengimplementasikan Kurikulum Merdeka. Jurnal Pendidikan DIDAXEI, 394-408.
Penulis : Renovaliano Firdiansyah Putri
Universitas Negeri Surabaya