
Oleh: Zahrina Zata Dini
Dinas Pertanian, Kabupaten Penajam Paser Utara
JurnalPost.com – Rendeman gabah yang diserap Bulog Paser yang terdiri dari wilayah Penajam Paser Utara (PPU) dan Kabupaten Paser tercatat terendah se-Kaltim. Dari total serapan gabah mencapai 13.768 ton, beras yang dihasilkan hanya sekitar 7.425 ton, dengan rendeman sebesar 28,75 persen. Rendahnya angka tersebut jadi perhatian Bulog pusat dan mendorong evaluasi menyeluruh terhadap proses penyerapan gabah di daerah.
Ancaman OPT juga tercermin dari kondisi regional. Berdasarkan hasil evaluasi Balai Besar Peramalan Organisme Pengganggu Tumbuhan Jatisari per 22 Januari 2026, Provinsi Kalimantan Timur mengalami peningkatan rasio kejadian serangan OPT utama pada tanaman padi sebesar 58,8 persen. Beberapa OPT yang dilaporkan telah melampaui ambang batas kewaspadaan antara lain Wereng Batang Coklat, Hawar Daun Bakteri, penyakit Blast, penggerek batang, serta tikus.
Upaya mendorong pertanian yang berkelanjutan dan ramah lingkungan terus dilakukan di Kabupaten Penajam Paser Utara. Salah satunya melalui praktik perbanyakan agen hayati Trichoderma yang dilaksanakan bersama Kelompok Tani Bina Usaha di Kelurahan Lawe-Lawe pada 10 Februari 2026. Kegiatan ini menjadi bagian dari penguatan kapasitas petani dalam menerapkan pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) berbasis hayati.
Langkah tersebut dinilai penting mengingat kondisi serangan OPT di wilayah ini masih tergolong signifikan. Berdasarkan data tahun 2025, persentase serangan OPT tercatat sebesar 36,36 persen, yang masuk dalam kategori serangan sedang. Meski belum tergolong berat, kondisi ini memerlukan upaya pengendalian yang tepat agar tidak berkembang lebih luas dan berdampak pada penurunan produksi pertanian.
Pada tahun yang sama, Kabupaten Penajam Paser Utara mencatat luas tanam sebesar 15.037,35 hektare dengan total produksi mencapai 50.080,18 ton. Angka tersebut menunjukkan bahwa keberadaan OPT berpotensi memengaruhi stabilitas produksi apabila tidak dikendalikan secara berkelanjutan dan ramah lingkungan.
Janiah Hermawati selaku Koordinator Petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) Kab. PPU menyampaikan “pelaksanaan praktik perbanyakan Trichoderma ini sejalan dengan Peraturan Daerah Kabupaten Penajam Paser Utara Nomor 1 Tahun 2025 tentang Penyelenggaraan Sistem Pertanian Organik, yang mengarahkan pengendalian OPT agar dilakukan dengan pendekatan ekologis. Salah satu strategi yang dianjurkan dalam kebijakan tersebut adalah pemanfaatan agen pengendali hayati sebagai alternatif pengganti pestisida kimia sintetis,”
Dalam konteks tersebut, Trichoderma menjadi salah satu agen hayati yang dinilai efektif. Jamur ini diketahui mampu menekan berbagai penyakit tular tanah seperti layu fusarium, busuk akar, dan rebah semai. Selain berperan sebagai antagonis patogen, Trichoderma juga berkontribusi dalam meningkatkan aktivitas mikroorganisme tanah, memperbaiki struktur tanah, serta merangsang pertumbuhan perakaran tanaman.
Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa aplikasi Trichoderma dapat menekan intensitas penyakit tular tanah hingga 40–70 persen, tergantung pada komoditas dan kondisi lahan. Penggunaannya secara rutin juga dilaporkan mampu meningkatkan pertumbuhan tanaman sebesar 10–25 persen serta memperbaiki efisiensi penyerapan unsur hara.
“Dari sisi ekonomi, perbanyakan Trichoderma secara mandiri oleh kelompok tani dapat menghemat biaya pengendalian OPT hingga 30–50 persen dibandingkan penggunaan pestisida kimia sintetis secara berkelanjutan. Selain itu, Trichoderma juga dimanfaatkan sebagai bahan utama dalam pembuatan trichokompos yang berfungsi sebagai pupuk organik sekaligus pelindung tanaman dari penyakit”, jelasnya
Kegiatan perbanyakan Trichoderma di Kelurahan Lawe-Lawe ini diikuti oleh Petugas Penyuluh Lapangan, POPT Kecamatan, POPT Kabupaten, serta anggota Kelompok Tani Bina Usaha. Para petani memperoleh pembelajaran langsung mulai dari pengenalan fungsi dan manfaat Trichoderma, penyiapan bahan dan media perbanyakan, teknik perbanyakan, hingga cara penyimpanan dan aplikasi di lahan pertanian.
Antusiasme peserta terlihat dari keaktifan dalam diskusi dan praktik lapangan. Kondisi ini mencerminkan meningkatnya kesadaran petani terhadap pentingnya pertanian yang sehat, aman bagi lingkungan, dan berorientasi jangka panjang. Upaya tersebut sekaligus mendukung pengurangan residu kimia pada hasil pertanian serta menjaga keseimbangan ekosistem lahan.
“Melalui praktik perbanyakan Trichoderma ini, petani diharapkan mampu memproduksi agen hayati secara mandiri dan berkelanjutan, menjadi contoh bagi kelompok tani lainnya, serta memperkuat implementasi pertanian ramah lingkungan di Kabupaten Penajam Paser Utara” harap Janiah.