JurnalPost.com – Perubahan dalam cara berbahasa dan berkomunikasi di Indonesia terjadi seiring waktu. Dalam kehidupan sehari-hari, pola komunikasi masyarakat secara tidak langsung dipengaruhi oleh penggunaan bahasa daerah, serta munculnya kosakata baru yang berkembang akibat kemajuan teknologi informasi dan proses globalisasi. Para ahli bahasa pragmatik menilai bahwa dinamika bahasa ini justru turut memperkaya kosakata dalam Bahasa Indonesia. Kemajuan teknologi dan informasi telah menghapus batas-batas antarnegara, menyatukan dunia dalam satu komunitas global yang saling terhubung melalui bahasa bersama, yaitu bahasa digital. Secara perlahan namun pasti, bahasa digital mulai mendominasi dan memiliki pengaruh besar dalam komunikasi global. Dengan pesatnya perkembangan teknologi informasi, dunia terasa seperti desa kecil yang mudah dijangkau oleh siapa saja yang mampu memanfaatkan teknologi tersebut atau menguasai bahasa digital. Hal ini membuat segala sesuatu menjadi lebih mudah dan menciptakan kedekatan antara individu yang secara geografis berjauhan. Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi ini juga mendorong laju globalisasi, yang ditandai dengan penyatuan masyarakat dunia dalam hal gaya hidup, pandangan, dan budaya (Palandi 2020:34)
Menurut Priastuty (2023:26) Membahas etika berarti membahas persoalan mengenai hal yang baik dan buruk, atau isu-isu yang bersifat etis. Dalam konteks komunikasi, khususnya di media terutama media baru di era digital saat ini etika menjadi isu yang sangat sensitif. Hal ini disebabkan karena dalam media baru, perbedaan-perbedaan antarindividu sangat mungkin bertemu, dan benturan nilai atau norma, khususnya dalam hal etika komunikasi, menjadi hal yang lazim terjadi. Setiap individu memiliki akses yang setara terhadap media baru dan menjadi bagian dari masyarakat digital, yang berarti setiap orang membawa standar etika masing-masing ke dalam ruang komunikasi yang sama. Tanpa pemahaman bersama tentang etika komunikasi, konflik atau gesekan sulit untuk dihindari. Oleh karena itu, penting untuk merenungkan bagaimana menyikapi persoalan ini, yang hingga kini sulit untuk ditentukan ukurannya secara pasti, bahkan tidak bisa diatur secara global dalam satu sistem hukum yang berlaku luas.
Penerapan prinsip logika dalam kehidupan sehari-hari dapat meningkatkan kemampuan individu maupun masyarakat dalam mengambil keputusan yang lebih tepat dan mengurangi tingkat ketidakpastian. Logika tidak hanya berperan dalam menghasilkan keputusan yang rasional, tetapi juga memperkuat kemampuan berargumentasi dan berkomunikasi, yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat yang beragam. Pengembangan pola pikir logis membantu individu dalam menghadapi dilema moral serta tantangan sosial dan ekonomi dengan pendekatan yang lebih bijak dan efektif. Oleh karena itu, pendidikan tentang logika dan penalaran perlu terus ditingkatkan agar generasi masa depan mampu membuat keputusan yang lebih etis di tengah kompleksitas kehidupan (Rohmatulloah & Nassarudin 2024:4).
Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi digital telah menggeser identitas manusia dari individu yang bersifat personal dan sosial menjadi manusia digital. Manusia digital ini dicirikan oleh berbagai aktivitas di dunia maya, seperti mengunggah, memposting, mengunduh, menjelajahi media sosial, serta mengirim dan merespons pesan-pesan digital melalui platform seperti WhatsApp, Telegram, Facebook, atau Instagram. Di tengah era disrupsi digital, setiap pengguna internet saling terhubung, berinteraksi, dan menjadi bagian dari jaringan komunikasi global, membentuk komunitas virtual yang dikenal sebagai warganet (netizen). Selama seseorang terhubung ke internet dan aktif menggunakannya, tidak ada satu pun yang benar-benar dapat menghindari pengaruh dari disrupsi digital ini. (Prasetyono 2024:122).
Logika berfungsi sebagai landasan berpikir yang rasional dan sistematis dalam menyampaikan dan menerima informasi. Di era digital, peran logika menjadi sangat penting karena:
1. Membantu menyaring informasi
Logika memungkinkan individu berpikir kritis terhadap informasi yang tersebar di internet, termasuk berita palsu (hoaks) atau manipulasi data.
2. Menguatkan argumentasi
Dalam diskusi daring, logika membantu membangun argumen yang valid dan meyakinkan, sehingga memperkuat komunikasi yang konstruktif.
3. Menghindari kesesatan berpikir
4. Penggunaan logika membantu menghindari kesalahan penalaran (fallacy) yang kerap muncul dalam debat online atau komentar media sosial.
5. Mendukung pengambilan keputusan digital
Mulai dari memilih sumber informasi hingga membentuk opini publik, logika membantu individu membuat keputusan yang rasional di tengah banjir data.
Etika menjadi pedoman moral yang mengatur perilaku berkomunikasi agar tetap menghargai nilai-nilai kemanusiaan dan norma sosial. Perannya di era digital meliputi:
1. Menjaga kesantunan komunikasi
Etika mengingatkan pentingnya berbicara dengan sopan, menghargai pendapat orang lain, dan menghindari ujaran kebencian atau penghinaan.
2. Melindungi privasi dan hak orang lain
Etika mendorong pengguna digital untuk menghormati privasi, tidak menyebarkan informasi pribadi tanpa izin, dan tidak menyebar konten yang merugikan orang lain.
3. Menciptakan ruang digital yang sehat
Etika membantu membangun budaya komunikasi yang inklusif, damai, dan bertanggung jawab dalam ruang publik virtual.
4. Menjaga tanggung jawab kebebasan berekspresi
Etika menjadi pengingat bahwa kebebasan berpendapat di ruang digital harus diimbangi dengan tanggung jawab sosial.
Terdapat tiga alasan utama mengapa penerapan etika komunikasi menjadi semakin penting menurut Boris Libois (Marliana 2024:32). Pertama, media memiliki kekuatan besar dan pengaruh yang signifikan terhadap masyarakat. Karena media juga dapat dengan mudah memanipulasi dan menjauhkan audiens dari realitas, etika komunikasi berperan penting dalam melindungi kelompok masyarakat yang rentan. Kedua, etika komunikasi bertujuan menjaga keseimbangan antara hak atas kebebasan berekspresi dan tanggung jawab sosial. Ketiga, penerapan etika komunikasi berusaha meminimalisasi dampak negatif dari logika instrumentalsebuah cara berpikir yang mengutamakan efektivitas dan pencitraan semata, namun sering mengesampingkan nilai-nilai serta makna. Dalam pendekatan ini, kredibilitas media di mata publik lebih diutamakan daripada fungsi utamanya sebagai sarana pencerahan.
Oleh: Nazwa Syarifatulegina
Mahasiswi Ilmu Komunikasi Universitas Pamulang
DAFTAR PUSTAKA
Marliana, D., & Syahputra, M. I. (2024). Etika Komunikasi dalam Penyiaran Konten Selebritis di Program Insert Trans TV di Era Digital. Jurnal Penelitian Inovatif, 4(1), 29-40.
Palandi, E. H. (2020). Fenomena Etika dan Logika Bahasa di Era Digital. Jurnal Linguistik Terapan, 33-40.
Priastuty, C. W., Rochimah, H. A. I. N., & Pramana, P. (2023). BENTURAN ETIKA KOMUNIKASI DI TENGAH PUSARAN ERA DIGITAL. Jurnal Ilmiah Dinamika Sosial, 7(2), 191-198.
Rohmatullah, P. Nassarudin, H, E. (2024). LOGIKA DAN ETIKA: MEMBONGKAR DILEMA MORAL MELALUI PENDEKATAN LOGIS. Jurnal Hukum dan Kewarganegaraan. 7(2). 1-4