
JurnalPost.com – Sebagai suatu peran yang sangat penting dalam proses pemulihan dari kondisi kecanduan zat adiksi, konselor zat adiksi dan pekerja sosial adiksi merupakan dua jenis profesi yang sering menjadi perbincangan. Walaupun memiliki tujuan yang sama yaitu sebagai profesi yang membantu kliennya untuk keluar dari kondisi kecanduang, terdapat perbedaan baik dari segi peran dan landasan teori yang digunakan oleh kedua profesi ini.
Jika dilihat dari pengertiannya konselor adiksi adalah profesi yang berfokus pada memberikan layanan konseling dan terapi kepada individu yang mengalami masalah adiksi. Konselor adiksi membantu klien memahami dan mengatasi perilaku adiktif mereka melalui berbagai pendekatan terapeutik (American Counseling Association). Sedangkan pekerja sosial adiksi adalah profesi yang bertujuan untuk membantu individu yang mengalami masalah adiksi dengan memberikan dukungan sosial, akses ke layanan kesehatan, pendidikan, pekerjaan, dan sumber daya lain yang diperlukan untuk pemulihan. Pekerja sosial adiksi juga berperan dalam advokasi dan perubahan kebijakan untuk mendukung pemulihan adiksi secara lebih luas (National Association of Social Workers)
Sebagai mahasiswa Kesejahteraan Sosial, FISIP USU, yang mendapat pemahaman terkait pekerja sosial, dalam mata kuliah yang diampu oleh Dosen Bapak Fajar Utama Ritonga S.Sos., M.Kesos yaitu Gangguan Penyalahgunaan Zat , Gatri Janiti Kosagi Br Ginting (210902103), Felisa Jauzarafa (210902101), Nicolas Yosep Lorenzo Panjaitan (210902059), Rafi Ramadhan Lubis (210902105) melakukan penelitian guna mengetahui peran Konselor Adiksi di Panti Rehab Medan Plus Pasar 7, Medan, Sumatera Utara, dengan narasumber adalah salah satu konselor adiksi yang bekerja di Panti Rehab Medan Plus. Penelitian ini dilakukan pada 3 Juni 2024.
Adapun tugas dan peran dari konselor adiksi dan pekerja sosial adiksi, adalah sebagai berikut :
Konselor Adiksi
Dalam menangani residen narkoba, lembaga pelayanan rehabilitasi diharapkan memberikan pelayanan sesuai peraturan yang berlaku. Konselor adiksi memegang peran penting selama proses rehabilitasi, dengan fokus utama pada tahapan berikut:
1. Tahap Detoksifikasi
Tahap awal rehabilitasi melibatkan skrining kondisi fisik dan mental residen untuk mendeteksi penyakit menular seperti HIV/AIDS atau hepatitis. Detoksifikasi dilakukan melalui tiga metode: terapi simptomatik, terapi substitusi dengan obat pengganti seperti methadone, dan terapi cold turkey, yang mengandalkan penghentian mendadak penggunaan zat dengan penanganan intensif.
2. Tahap Primary
Setelah detoksifikasi, residen memasuki tahap primer yang berfokus pada pembentukan kembali kepribadian melalui tiga program utama:
● Therapeutic Communities (TC): Mengasah aspek psikologis, perilaku, intelektual, spiritual, dan keterampilan.
● Criminon/No Crime: Mencegah residen kembali pada perilaku kriminal.
● Pembinaan Spiritual: Membantu residen menjadi pribadi yang lebih taat dan dekat dengan Tuhan.
3. Tahap Re-entry
Pada tahap ini, rehabilitasi lanjutan menyediakan dukungan untuk adaptasi kembali ke kehidupan sehari-hari. Program ini melibatkan konseling individu dan kelompok, pendidikan tentang pencegahan kambuh, serta dukungan kesehatan mental dan fisik yang berkelanjutan.
4. Tahap Pascarehabilitasi
Tahap pascarehabilitasi, atau aftercare, memberikan dukungan berkelanjutan untuk menjaga pemulihan. Ini mencakup sesi konseling berkelanjutan, rencana tindak lanjut yang komprehensif, dan dukungan dari kelompok-kelompok komunitas.
Tugas Konselor Adiksi
Konselor adiksi bertanggung jawab atas:
1. Penilaian dan Diagnosa: Mengidentifikasi tingkat kecanduan dan kondisi kesehatan residen.
2. Perencanaan Perawatan: Mengembangkan rencana perawatan individu.
3. Intervensi Terapeutik: Mengadakan sesi konseling individu dengan pendekatan seperti terapi kognitif-behavioral (CBT).
4. Konseling Kelompok: Memimpin sesi konseling kelompok untuk membangun dukungan di antara residen.
5. Edukasi dan Pencegahan: Memberikan informasi tentang dampak kecanduan dan strategi pencegahan kambuh.
6. Dukungan Keluarga: Melibatkan keluarga dalam proses pemulihan.
7. Pemantauan dan Evaluasi: Memantau dan menyesuaikan rencana perawatan.
8. Pengelolaan Krisis: Menangani situasi darurat terkait kecanduan.
9. Tindak Lanjut: Merancang rencana pasca rehabilitasi.
10. Administrasi dan Dokumentasi: Mendokumentasikan interaksi dan kemajuan residen.
Dengan rincian sebagai berikut
Penilaian Individu: Konselor melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kondisi mental, emosional, dan fisik klien pada saat pertama kali memasuki program rehabilitasi. Ini mencakup penilaian kebutuhan, diagnosis, dan penyusunan riwayat penggunaan NAPZA.
Perencanaan Perawatan: Berdasarkan hasil penilaian, konselor mengembangkan rencana perawatan yang terstruktur dan berbasis pada kebutuhan individu klien. Rencana ini mencakup tujuan pemulihan, strategi intervensi, dan langkah-langkah dukungan berkelanjutan.
Konseling Individu dan Kelompok: Konselor menyediakan sesi konseling baik secara individual maupun kelompok untuk membantu klien memahami masalah mereka, mengembangkan strategi koping, dan membangun keterampilan manajemen diri yang sehat.
Pencegahan Kambuh (Relapse Prevention): Konselor bekerja dengan klien untuk mengidentifikasi faktor pemicu kambuh dan mengembangkan strategi untuk mengelola godaan, stres, dan situasi berisiko yang dapat memicu kambuhnya penggunaan NAPZA.
Dukungan Emosional dan Psikologis: Konselor menawarkan dukungan berkelanjutan untuk membantu klien menghadapi tantangan emosional yang terkait dengan proses pemulihan, termasuk penanganan kecemasan, depresi, dan trauma.
Dalam memahami implementasi peran ini konselor ini, tim melakukan wawancara dengan klien pada tahapan pemulihan primary yang menceritakan pengalamannya selama rehabilitasi, menyebutkan “Awalnya, saya dipaksa keluarga untuk detoksifikasi di ruangan tertutup selama dua minggu. Dalam kegiatan sehari-hari, saya mengenakan name tag putih sebagai tanda masih dalam tahap detoksifikasi. Saya mengikuti berbagai kegiatan dan peraturan, seperti morning meeting dan malam wrap yang membahas perasaan. Setiap bulan, perkembangan saya dievaluasi oleh konselor dan dilaporkan ke keluarga. Berbeda dengan rehabilitasi sebelumnya, di Medan Plus kegiatan diatur dengan waktu singkat dan efisien.”
Pekerja Sosial Adiksi
Dalam proses pendampingan di Rehabilitasi Medan Plus, pekerja sosial mengikuti serangkaian tahapan yang disusun untuk memberikan layanan intensif sesuai dengan kebutuhan klien. Tahapan-tahapan tersebut meliputi:
1. Pendekatan Awal (Engagement)
Pada tahap ini, pekerja sosial memperkenalkan diri dan membangun hubungan awal dengan klien baru. Proses ini melibatkan pengisian formulir administrasi, pemeriksaan fisik, dan penggalian informasi awal terkait latar belakang klien, termasuk sejarah penggunaan NAPZA dan motivasi untuk bergabung dengan program.
2. Penjaringan (Screening)
Tahap penjaringan bertujuan untuk mengevaluasi kondisi kesehatan dan kebutuhan klien secara menyeluruh. Pekerja sosial mengumpulkan data melalui formulir, wawancara mendalam, dan pemeriksaan fisik untuk mengidentifikasi masalah kesehatan fisik dan mental. Informasi ini menjadi dasar perancangan program pendampingan yang sesuai.
3. Asesmen (Assessment)
Pekerja sosial melakukan asesmen mendalam untuk memahami situasi klien, termasuk riwayat penggunaan NAPZA serta faktor sosial, psikologis, dan lingkungan yang memengaruhi klien. Hasil asesmen ini digunakan untuk merencanakan intervensi yang efektif dan tepat sasaran.
4. Perencanaan Terapi (Therapy Planning / Intervensi)
Tahap ini melibatkan kolaborasi antara pekerja sosial dan klien dalam merancang rencana pemulihan komprehensif. Rencana terapi disusun berdasarkan dukungan sosial, ketersediaan sumber daya, dan motivasi klien, serta disesuaikan dengan kebutuhan individu klien.
5. Konseling Individu (Individual Counseling)
Melalui konseling individu, klien berinteraksi secara pribadi dengan pekerja sosial dalam lingkungan yang aman dan terpercaya. Pekerja sosial membantu klien mengidentifikasi tantangan dan mengembangkan strategi untuk mengatasinya.
6. Konseling Kelompok (Therapeutic Community)
Konseling kelompok memberikan kesempatan bagi klien untuk berbagi pengalaman dan mendukung satu sama lain dalam suasana yang dipandu oleh pekerja sosial. Ini membantu membangun rasa saling percaya dan memberikan inspirasi untuk perubahan positif.
7. Konseling Keluarga (Family Group)
Konseling keluarga melibatkan anggota keluarga dalam proses pemulihan klien. Pekerja sosial bekerja dengan keluarga untuk memahami dinamika yang memengaruhi penggunaan NAPZA dan mengajak mereka untuk mendukung perubahan positif.
8. Bimbingan Lanjutan (After Care)
Setelah masa pendampingan berakhir, klien tetap mendapatkan dukungan melalui program bimbingan lanjutan. Pekerja sosial menyediakan sumber daya dan layanan untuk mempertahankan pemulihan dan mencegah kekambuhan, serta membantu klien menavigasi tantangan yang mungkin muncul.
9. Terminasi
Tahap terminasi menandai akhir hubungan formal antara klien dan pekerja sosial. Meskipun pendampingan intensif berakhir, pekerja sosial tetap tersedia untuk dukungan tambahan jika diperlukan, sambil mendorong klien untuk hidup mandiri dan menjaga hubungan positif yang telah terbentuk.
Dampak Pendampingan Pekerja Sosial pada Klien
Pendampingan pekerja sosial membawa dampak signifikan terhadap klien, mencakup:
● Ketahanan Diri: Meningkatkan kemampuan klien untuk menghadapi kesulitan dengan keyakinan, ketangguhan, dan kemampuan bangkit kembali .
● Kesejahteraan Psikososial: Meningkatkan kualitas hidup klien dalam hal manajemen diri, keseimbangan mental dan emosional, serta kualitas hubungan interpersonal .
● Jaringan Keluarga dan Sosial: Memperkuat dukungan sosial dan keluarga, meningkatkan motivasi klien dan mendukung keberlanjutan pemulihan mereka .
Perspektif Pekerja Sosial dalam Menangani Penyalahgunaan NAPZA
Pekerjaan sosial berfokus pada peningkatan kesejahteraan dan kualitas hidup individu serta komunitas melalui pendekatan holistik dan inklusif. Dalam konteks NAPZA, peran pekerja sosial mencakup:
● Social Case Work: Melibatkan pendekatan individual yang mencakup penerimaan, komunikasi terbuka, pendekatan individual, partisipasi aktif, dan kerahasiaan .
● Social Group Work: Melibatkan pendekatan kelompok dengan tujuan bersama, interaksi terpimpin, pengambilan keputusan kolektif, dan fleksibilitas organisasi .
● Community Organization/Community Development: Melibatkan pendekatan komunitas yang berfokus pada pemberdayaan dan partisipasi masyarakat dalam mengatasi masalah
NAPZA .
Kendala dalam Pendampingan dan Rehabilitasi
Pekerja sosial di Rehabilitasi Medan Plus menghadapi berbagai kendala, termasuk:
● Perilaku Klien: Perubahan perilaku klien yang inkonsisten dan dipengaruhi oleh kehadiran pendamping atau staf rehabilitasi .
● Komunikasi Antar Keluarga: Kendala dalam komunikasi efektif antara anggota keluarga yang penting untuk mendukung pemulihan .
● Masalah Internal Staf: Kekurangan sumber daya dan pemahaman yang memadai tentang pendekatan rehabilitasi di kalangan staf .
Peran dan Faktor Penting dalam Penanganan NAPZA
Pekerja sosial memegang peran vital dalam pendampingan, yang melibatkan:
● Pendekatan Holistik: Memahami dan merespons perubahan perilaku klien secara komprehensif .
● Peningkatan Kapasitas Staf: Meningkatkan sumber daya dan pemahaman staf tentang pendekatan rehabilitasi .
● Komunikasi Efektif: Meningkatkan komunikasi antar anggota keluarga untuk mendukung proses rehabilitasi .
Pentingnya Kolaborasi Tim antara Konselor dan Pekerja Sosial
Kerjasama Tim yang Efektif:
● Pendekatan Holistik: Kerjasama antara konselor dan pekerja sosial memungkinkan pendekatan yang komprehensif dan holistik dalam menangani kasus penyalahgunaan NAPZA. Sementara konselor fokus pada aspek psikologis dan emosional, pekerja sosial menangani dimensi sosial dan lingkungan, sehingga menciptakan program pemulihan yang lebih menyeluruh.
● Koordinasi Layanan: Kolaborasi yang efektif memastikan bahwa berbagai aspek pemulihan klien terkoordinasi dengan baik. Misalnya, hasil penilaian konselor mengenai kondisi mental klien dapat dikomunikasikan kepada pekerja sosial untuk mengembangkan intervensi sosial yang mendukung.
● Dukungan Berkelanjutan: Dengan kerjasama yang kuat, tim dapat menyediakan dukungan berkelanjutan yang mencakup konseling, intervensi sosial, dan dukungan komunitas, sehingga meningkatkan peluang klien untuk mencapai pemulihan yang berkelanjutan.
● Pengembangan Program yang Responsif: Melalui kolaborasi, tim dapat mengembangkan program yang responsif terhadap kebutuhan klien yang beragam, mengadaptasi intervensi berdasarkan umpan balik dan perubahan kondisi klien selama proses rehabilitasi.

Meningkatkan Efektivitas Intervensi di Rehabilitasi Medan Plus
Strategi untuk Meningkatkan Efektivitas:
● Pelatihan Bersama: Mengadakan sesi pelatihan bersama untuk konselor dan pekerja sosial agar mereka memahami peran masing-masing dan belajar bagaimana memaksimalkan potensi kolaborasi dalam memberikan layanan.
● Pertemuan Rutin: Mengadakan pertemuan rutin tim untuk berbagi informasi tentang kemajuan klien, mendiskusikan tantangan, dan mengoordinasikan intervensi yang sedang berlangsung.
● Penggunaan Sistem Informasi: Implementasi sistem informasi yang memungkinkan konselor dan pekerja sosial mengakses dan berbagi data klien dengan aman, memfasilitasi komunikasi dan koordinasi yang lebih baik.
● Dukungan Manajemen: Memastikan dukungan manajerial yang kuat untuk mendukung kolaborasi, termasuk alokasi sumber daya, penetapan kebijakan yang mendukung kerjasama tim, dan evaluasi kinerja bersama.
Kolaborasi antara konselor dan pekerja sosial di Rehabilitasi Medan Plus merupakan faktor kunci dalam memberikan layanan pemulihan yang holistik dan efektif. Dengan mengintegrasikan kekuatan masing-masing profesi, Rehabilitasi Medan Plus dapat meningkatkan kualitas intervensi, mendukung pemulihan klien secara menyeluruh, dan menciptakan lingkungan yang mendukung bagi individu yang memerlukan bantuan dalam mengatasi masalah penyalahgunaan NAPZA.
Tim Penulis : Gatri Janiti Kosagi Br Ginting (210902103), Felisa Jauzarafa (210902101), Nicolas Yosep Lorenzo Panjaitan (210902059), Rafi Ramadhan Lubis (210902105)