
Oleh: Aurora Jovani, Natasha Angelina Gunawan, Jesselyn, Willy Tasdin, M.Psi., Psikolog
JurnalPost.com – Pernah gak, sebenarnya lagi capek atau malas, tapi tetap bilang “ayo” karena ga enak nolak temen? Atau tersinggung sama candaan orang lain, tapi cuma bisa ketawa dan senyum? Faktanya, situasi seperti ini cukup sering dialami oleh banyak orang, terutama remaja dan anak muda yang aktif di media sosial. Banyak orang merasa harus selalu hadir, cepat membalas chat, ikut nongkrong, atau terus membantu orang lain demi menjaga hubungan dan takut dianggap gak asik. Tanpa sadar, kebiasaan ini bisa membuat seseorang lebih memprioritaskan perasaan orang lain dibanding dirinya sendiri.
Fenomena ini sering dikenal sebagai people pleasing, yaitu kecenderungan untuk terus menyenangkan orang lain dan sulit mengatakan “tidak” (Sa’idah et al., 2025). Jika terus dilakukan, kebiasaan ini dapat membuat seseorang merasa lelah secara emosional, stres, merasa dimanfaatkan, bahkan kehilangan jati dirinya sendiri (Sari & Komarudin, 2024). Di era media sosial, tekanan untuk selalu terlihat aktif dan ikut dalam berbagai hal juga semakin besar. Banyak orang takut tertinggal tren, takut tidak diajak, atau takut dianggap kurang gaul. Kondisi ini dikenal sebagai fear of missing out (FoMO), yaitu rasa takut ketika merasa orang lain sedang mengalami sesuatu yang lebih menarik dibanding diri kita (Hidayati & Nasution, 2025). Akibatnya, banyak orang memaksakan diri untuk terus hadir dalam pergaulan, mengikuti keinginan kelompok, atau menyembunyikan perasaan sebenarnya demi diterima oleh lingkungan sekitar.
Padahal, menyampaikan perasaan, pendapat, atau menolak sesuatu bukan berarti kita jahat atau egois terhadap orang lain. Peduli dan membantu orang lain memang merupakan hal yang baik, tetapi akan menjadi masalah ketika kita selalu merasa bersalah saat menolak, tetap memaksakan diri meski lelah, memendam emosi karena takut konflik, hingga kehilangan identitas diri karena terlalu mengikuti orang lain. Justru, kemampuan berbicara jujur sambil tetap menghargai orang lain merupakan bentuk kepedulian terhadap diri sendiri maupun orang lain. Kemampuan inilah yang dikenal sebagai komunikasi asertif. Secara sederhana, komunikasi asertif adalah kemampuan untuk menyampaikan pendapat, perasaan, maupun batasan diri dengan jelas dan jujur tanpa harus menyakiti orang lain (Pipa & Jaradat, 2010; Mulyasari & Wicaksono, 2025).
Hal ini penting untuk dipelajari karena kita tidak harus selalu mengikuti keinginan orang lain demi diterima oleh lingkungan sekitar.
Bentuk komunikasi asertif sebenarnya bisa dimulai dari hal-hal sederhana, seperti berani mengatakan, “Menurut aku…” atau “Kayaknya aku kurang setuju deh”. Meski terdengar sepele, ungkapan tersebut menunjukkan keberanian untuk menyampaikan pendapat dengan tetap menghargai orang lain. Kemampuan ini menjadi semakin penting di tengah kebiasaan people pleasing dan FoMO, ketika banyak orang memilih mengiyakan ajakan teman, mengikuti pendapat kelompok, atau memendam ketidaknyamanan karena takut dianggap tidak asik atau berbeda sendiri. Melalui komunikasi asertif, seseorang dapat lebih berani menyampaikan pendapat saat berdiskusi kelompok, menolak ajakan yang sebenarnya tidak diinginkan, serta mengungkapkan perasaannya tanpa harus terus memendam sendiri. Dengan begitu, hubungan dengan orang lain tetap dapat terjaga tanpa harus terus-menerus mengorbankan diri sendiri.
Kabar baiknya, komunikasi asertif dapat dilatih dengan berbagai macam cara. Latihannya pun bisa dimulai dari hal-hal sederhana, seperti mencoba berbicara secara asertif di depan cermin, belajar mengatakan “tidak”, hingga melalui permainan bersama teman, salah satunya permainan werewolf. Dalam permainan werewolf, ada tiga peran utama yang bikin permainan jadi seru, yaitu werewolf yang bertugas “menyingkirkan” pemain lain tanpa ketahuan, detektif yang punya kemampuan mencari tahu identitas pemain lain, serta warga biasa yang harus bekerja sama lewat diskusi untuk mencari dan mengungkap siapa werewolf sebenarnya. Permainan dimulai dengan pembagian peran secara acak oleh moderator, kemudian dilanjutkan dengan fase malam dan fase siang. Saat malam, werewolf melakukan aksi secara diam-diam, lalu saat siang semua pemain berdiskusi, saling curiga, dan membaca situasi berdasarkan informasi yang ada dan melakukan voting untuk menentukan pemain yang dicurigai sebagai werewolf. Proses ini terus berulang sampai permainan selesai.
Di balik keseruannya, permainan werewolf ternyata punya efek positif yang gak main-main lho! Peserta bukan cuma diajak menyusun strategi, tapi juga harus aktif berdiskusi, menyampaikan pendapat, membaca situasi, sampai adu argumen dengan pemain lain. Permainan ini juga bisa melatih keberanian berbicara, kemampuan mendengarkan orang lain, hingga keterampilan menyampaikan pendapat dengan percaya diri meski berada di tengah tekanan kelompok (Angelina et al., 2024; Eldzaka et al., 2025). Jadi, selain seru dimainkan bersama teman-teman, werewolf juga bisa jadi cara menyenangkan untuk melatih komunikasi asertif.
Manfaat permainan ini juga terlihat dalam program MBKM Proyek Kemanusiaan yang dilakukan Mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara di RPTRA X. Dalam kegiatan tersebut, pelatihan komunikasi asertif dilakukan melalui aktivitas interaktif berupa permainan werewolf. Di awal kegiatan, beberapa peserta masih terlihat malu-malu dan belum aktif menyampaikan pendapat. Namun, seiring berjalannya kegiatan, peserta mulai lebih nyaman berdiskusi, aktif berbicara, serta lebih berani mengungkapkan pendapat di depan teman-temannya. Hasil observasi serta skor pre-test dan post-test juga menunjukkan adanya peningkatan kemampuan komunikasi asertif pada sebagian besar peserta.
Nah, dari pengalaman tersebut, kita bisa melihat bahwa komunikasi asertif sebenarnya dapat dilatih secara bertahap. Salah satu cara sederhana yang bisa teman-teman coba adalah melalui prinsip BERANI, yaitu:
B — Berbicara jujur
Menyampaikan pikiran dan perasaan secara terbuka tanpa manipulasi.
E — Ekspresikan perasaan dengan tepat
Mengungkapkan emosi dengan cara yang jelas dan tidak berlebihan.
R — Respek terhadap diri & orang lain
Menghargai hak, pendapat, dan batasan dalam komunikasi.
A — Atur emosi saat berkomunikasi
Tetap tenang dan tidak reaktif ketika menyampaikan sesuatu.
N — Nyatakan kebutuhan secara tegas
Berani mengungkapkan apa yang dibutuhkan tanpa rasa bersalah.
I — Ingat batasan diri & orang lain
Memahami kapan harus berkata “ya” atau “tidak”.
Jadi, komunikasi asertif bukan kemampuan yang muncul begitu saja, melainkan keterampilan yang perlu dilatih secara bertahap dan konsisten. Yang terpenting, teman-teman juga perlu memiliki kemauan untuk mulai belajar dan mencoba menyampaikan pendapat secara lebih terbuka. Melalui aktivitas sederhana seperti permainan werewolf, teman-teman bisa belajar berbicara jujur, mengatur emosi, menghargai pendapat orang lain, serta berani menyampaikan pendapat. Jika dilatih secara konsisten, prinsip BERANI dapat membangun rasa percaya diri dan menciptakan pola komunikasi yang lebih sehat dalam kehidupan sehari-hari.
Yuk, mulai berani menyampaikan pendapat dengan cara yang baik tanpa harus takut dianggap egois. Karena menjadi pribadi yang asertif bukan berarti kasar atau egois, melainkan mampu berkomunikasi dengan jujur, tegas, dan tetap penuh rasa hormat terhadap diri sendiri maupun orang lain.
Daftar Pustaka
Angelina, R., Dania, R., & Suparmi, S. (2024). Using Werewolf game to improve students’ speaking skill at the second grade of SMPN 33 Padang. Sintaksis Publikasi Para Ahli Bahasa Dan Sastra Inggris, 2(4), 35–52. https://doi.org/10.61132/sintaksis.v2i4.763
Eldzaka, R. G, Pratiwi, Y. S, Widyatmoko, W., & Sadif, R. S. (2025). Group guidance based on Werewolf game to improve students’ interpersonal communication skills. KONSELI: Jurnal Bimbingan Dan Konseling (E-Journal). https://ejournal.radenintan.ac.id/index.php/konseli/article/view/29346
Hidayati, Y., & Nasution, M. I. P. (2025). Fenomena FOMO (Fear of Missing Out) di Era Digital: Studi tentang Dampaknya pada Gen Z. Innovative: Journal Of Social Science Research, 5(3), 1218–1228. https://doi.org/10.31004/innovative.v5i3.19110
Mulyasari, K. R. T., & Wicaksono, A. S. (2025). MENINGKATKAN KETERAMPILAN KOMUNIKASI ASERTIF SISWA KELAS X SMA MUHAMMADIYAH 10 GKB GRESIK MELALUI ASSERTIVENESS TRAINING. Journal Universitas Muhammadiyah Gresik Engineering Social Science and Health International Conference (UMGESHIC), 2(2). https://doi.org/10.30587/umgeshic.v2i2.10784
Pipaş, M. D., & Jaradat, M. (2010). Assertive communication skills. Annales Universitatis Apulensis Series Oeconomica, 2(12), 649–656. https://doi.org/10.29302/oeconomica.2010.12.2.17
Sa’idah, I., Annajih, M. Z. H., & Misnawi. (2025). Memahami Kecenderungan People Pleaser pada Remaja: Studi Kasus Siswa Sekolah Menengah Pertama. ATTENDING Jurnal Bimbingan Dan Konseling, 2(1), 1–9. https://doi.org/10.32505/attending.v2i1.11403
Sari, D. P., & Komarudin, K. (2024). The Relationship Between Coping Strategies and Resilience for Students with People Pleaser Tendency. Jurnal Indonesia Sosial Teknologi, 5(9), 3360–3368. https://doi.org/10.59141/jist.v5i9.1263