
Oleh: Randy Kurniawan
Dosen Pengampu: Drs. Widiyatmo Ekoputro, M.A.
JurnalPost.com – Pernahkah kita bertanya mengapa sebuah tempat wisata yang sebenarnya biasa saja bisa dipadati wisatawan, sementara destinasi lain yang jauh lebih indah justru sepi pengunjung? Jawabannya sering kali bukan terletak pada keindahan alamnya, melainkan pada cara destinasi tersebut dikomunikasikan kepada masyarakat.
Perubahan perilaku wisatawan saat ini tidak dapat dilepaskan dari perkembangan teknologi digital. Sebelum berangkat berlibur, kebanyakan orang—terutama Generasi Z—akan membuka Instagram, TikTok, YouTube, atau Google untuk mencari referensi. Mereka melihat foto, menonton video, membaca ulasan pengunjung, hingga membandingkan fasilitas sebelum akhirnya menentukan tujuan wisata. Pola ini menunjukkan bahwa keputusan seseorang untuk berwisata kini lebih banyak dipengaruhi oleh informasi digital dibandingkan promosi konvensional. Berbagai penelitian juga menunjukkan bahwa media sosial menjadi sumber informasi wisata yang dominan bagi Generasi Z karena penyajiannya visual, cepat, dan mudah diakses.
Di sinilah komunikasi pariwisata memegang peranan penting. Komunikasi pariwisata bukan sekadar membuat iklan atau memasang baliho, melainkan bagaimana sebuah destinasi mampu membangun citra, menyampaikan informasi yang jelas, dan menghadirkan pengalaman yang membuat orang tertarik untuk datang. Dalam era digital, komunikasi yang baik bahkan mampu mengubah tempat yang sebelumnya kurang dikenal menjadi destinasi favorit wisatawan.
Salah satu contoh yang menarik adalah Pantai Tanjung Penyu. Pantai ini memiliki panorama laut yang indah, suasana yang tenang, serta lingkungan yang masih relatif alami. Pengunjung dapat menikmati deburan ombak, angin pantai, dan pemandangan matahari terbenam yang memanjakan mata. Bagi pecinta fotografi maupun pembuat konten digital, pantai ini menawarkan banyak sudut yang menarik untuk diabadikan.
Sayangnya, potensi tersebut belum sepenuhnya dikenal masyarakat luas. Jika dibandingkan dengan beberapa pantai lain yang lebih populer, nama Pantai Tanjung Penyu masih jarang muncul dalam rekomendasi wisata di media sosial. Bukan karena pantainya kalah indah, melainkan karena informasi mengenai destinasi ini belum banyak tersebar. Hal ini membuktikan bahwa keindahan alam saja belum cukup untuk menarik wisatawan. Sebuah destinasi membutuhkan komunikasi yang mampu menjangkau calon pengunjung.
Generasi Z merupakan sasaran yang tepat dalam pengembangan komunikasi pariwisata. Sebagai generasi yang tumbuh bersama internet, mereka memiliki kebiasaan mencari pengalaman baru melalui media digital. Mereka tidak hanya datang untuk menikmati sebuah tempat, tetapi juga ingin membagikan pengalaman tersebut kepada orang lain melalui foto, video, maupun cerita di media sosial. Dengan kata lain, Generasi Z bukan hanya wisatawan, tetapi juga agen promosi yang mampu memperkenalkan suatu destinasi kepada ribuan orang dalam waktu singkat. Penelitian tentang perilaku wisata Generasi Z menunjukkan bahwa konten media sosial berpengaruh terhadap keputusan mereka dalam memilih destinasi wisata.
Melihat karakteristik tersebut, Pantai Tanjung Penyu memiliki peluang besar untuk berkembang apabila didukung strategi komunikasi yang tepat. Pengelola dapat memanfaatkan media sosial secara lebih aktif dengan menyajikan foto dan video berkualitas tinggi, informasi mengenai akses menuju lokasi, harga tiket, fasilitas yang tersedia, hingga aktivitas menarik yang dapat dilakukan wisatawan. Informasi yang lengkap akan meningkatkan kepercayaan calon pengunjung sekaligus mengurangi keraguan sebelum melakukan perjalanan.
Selain promosi digital, komunikasi juga harus diwujudkan melalui pelayanan yang baik. Keramahan masyarakat sekitar, kebersihan kawasan pantai, ketersediaan fasilitas umum, serta keamanan lokasi akan menjadi pengalaman yang diingat wisatawan. Ketika mereka merasa puas, mereka akan dengan sukarela membagikan pengalaman positif tersebut kepada teman-temannya. Promosi dari wisatawan inilah yang sering kali lebih dipercaya dibandingkan iklan karena berasal dari pengalaman nyata.
Namun, komunikasi pariwisata tidak boleh berhenti pada upaya meningkatkan jumlah kunjungan.
Komunikasi juga harus mampu mengedukasi wisatawan agar ikut menjaga kelestarian lingkungan. Pantai yang bersih, bebas sampah, dan tetap terjaga keasriannya merupakan tanggung jawab bersama antara pengelola dan pengunjung. Pesan mengenai pentingnya menjaga lingkungan perlu disampaikan secara konsisten melalui papan informasi, media sosial, maupun berbagai kegiatan edukasi sehingga wisata yang berkembang tetap berkelanjutan.
Pada akhirnya, keberhasilan sebuah destinasi wisata bukan hanya ditentukan oleh keindahan alam yang dimilikinya. Yang lebih penting adalah bagaimana potensi tersebut dikomunikasikan kepada masyarakat.
Pantai Tanjung Penyu menjadi contoh bahwa masih banyak destinasi wisata Indonesia yang memiliki daya tarik besar, tetapi belum memperoleh perhatian yang sebanding karena minimnya komunikasi dan promosi.
Generasi Z telah mengubah cara dunia pariwisata berkembang. Mereka mencari informasi melalui media digital, mempercayai pengalaman sesama pengguna, dan aktif membagikan cerita perjalanan mereka. Oleh karena itu, komunikasi pariwisata harus mampu mengikuti perubahan tersebut. Ketika komunikasi dilakukan secara kreatif, informatif, dan konsisten, destinasi seperti Pantai Tanjung Penyu tidak hanya akan dikenal oleh masyarakat lokal, tetapi juga berpeluang menjadi tujuan wisata yang diminati oleh wisatawan dari berbagai daerah. Itulah sebabnya komunikasi pariwisata bukan lagi sekadar pelengkap, melainkan kunci utama dalam memperkenalkan sekaligus mengembangkan potensi wisata Indonesia di era digital.