Kembali
Mode hapus aktif. Klik paragraf, foto, judul, tabel, atau bagian lain yang tidak ingin masuk PDF.
JurnalPost.com

Pengaruh Latihan Range of Motion terhadap Kekuatan Otot pada Lansia dengan Stroke

Tim Editor: Redaksi · Tanggal: 8 Januari 2026

Oleh: Alini Naura Astriadi

JurnalPost.com – Stroke adalah salah satu masalah kesehatan yang banyak dialami lansia dan sering menyebabkan kelemahan pada tubuh. Setelah terkena stroke, biasanya pasien mengalami penurunan kemampuan bergerak, otot jadi lemah, dan sendi terasa kaku. Hal ini membuat banyak lansia kesulitan melakukan aktivitas sehari-hari secara mandiri. Karena itu, latihan atau terapi sangat diperlukan untuk membantu memulihkan kembali kemampuan gerak mereka. Salah satu latihan yang sering diberikan adalah Range of Motion atau ROM. Latihan ini penting untuk membantu menjaga pergerakan sendi dan memperbaiki kekuatan otot yang menurun.

Latihan ROM sendiri adalah latihan yang berfokus pada menggerakkan sendi hingga batas gerak normalnya. ROM dibagi menjadi dua jenis, yaitu ROM pasif dan ROM aktif. Pada ROM pasif, gerakan dilakukan dengan bantuan terapis atau orang lain, sedangkan ROM aktif dilakukan sendiri oleh pasien. Pada pasien stroke, latihan ini sangat berguna untuk menjaga agar sendi tidak semakin kaku dan otot tidak semakin lemah. Karena kondisi tiap lansia berbeda, latihan ini biasanya disesuaikan dengan kemampuan dan kekuatan mereka agar tetap aman dilakukan.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa latihan ROM dapat membantu meningkatkan kekuatan otot pada lansia setelah stroke. Salah satu penelitian dari Putri dkk (2021) menyebutkan bahwa latihan ROM yang dilakukan secara rutin selama dua minggu dapat meningkatkan kekuatan otot sebesar 20–30%. Angka ini cukup besar untuk sebuah latihan yang tergolong ringan dan tidak membutuhkan alat khusus. Artinya, latihan seperti ROM sebenarnya mudah dilakukan, tetapi jika dilakukan dengan disiplin, tetap bisa memberikan hasil yang baik dalam proses pemulihan.

Selain penelitian, pengalaman di lapangan juga mendukung manfaat latihan ROM. Banyak lansia yang menjalani latihan ini secara teratur merasakan perubahan pada kemampuan bergeraknya. Mereka mulai bisa mengangkat tangan lebih tinggi, menekuk lutut dengan lebih mudah, atau menggerakkan bagian tubuh yang sebelumnya sulit digerakkan. Latihan ini juga membantu mengurangi kekakuan otot, sehingga tubuh terasa lebih ringan dan tidak terlalu kaku saat bergerak. Perubahan kecil seperti ini sangat berarti bagi lansia, karena bisa membantu mereka menjadi lebih mandiri dalam aktivitas seperti makan, berpakaian, atau berpindah posisi dari duduk ke berdiri.

Menurut pendapat beberapa ahli fisioterapi, latihan ROM juga memiliki manfaat lain. Nuraini (2020) menjelaskan bahwa latihan ROM dapat membantu meningkatkan aliran darah ke otot, mencegah terjadinya kekakuan permanen atau kontraktur, dan merangsang kembali saraf motorik yang melemah akibat stroke. Ketika aliran darah membaik, otot akan lebih mudah berfungsi dan lebih siap untuk melakukan latihan-latihan lain pada tahap rehabilitasi berikutnya. Oleh karena itu, latihan ROM biasanya diberikan pada tahap awal pemulihan sebelum pasien diarahkan ke latihan yang lebih berat.

Meski begitu, latihan ROM tetap harus dilakukan dengan benar agar tidak menimbulkan masalah baru. Jika latihan dilakukan bersama tenaga kesehatan atau orang yang sudah paham cara melakukannya, risiko cedera dapat dikurangi. Namun, jika latihan dilakukan tanpa pengawasan atau tekniknya salah, bisa terjadi cedera pada otot atau sendi. Misalnya, gerakan yang terlalu cepat, terlalu memaksa, atau melewati batas gerak normal dapat menyebabkan nyeri bahkan memperburuk kondisi. Karena itu, penting bagi pendamping atau keluarga untuk mengetahui cara melakukan gerakan yang benar agar latihan bisa aman dilakukan di rumah.

Selain manfaat fisik, latihan ROM juga memiliki dampak pada kondisi mental lansia. Pasien stroke sering merasa kehilangan kemampuan dan menjadi tidak percaya diri. Namun ketika mereka menjalani latihan ROM secara rutin dan melihat perkembangan, sedikit demi sedikit rasa percaya diri mereka meningkat. Mereka merasa lebih termotivasi untuk melanjutkan latihan karena melihat sendiri bahwa tubuh mereka mulai merespons gerakan. Perbaikan kecil seperti bisa menekuk tangan lebih jauh dari sebelumnya dapat memberikan rasa senang dan harapan untuk pulih lebih baik. Kondisi mental yang lebih positif ini sangat berperan dalam proses pemulihan karena membantu pasien tetap semangat menjalani terapi.

Secara umum, latihan Range of Motion adalah latihan yang sederhana namun bermanfaat besar bagi lansia yang mengalami stroke. Latihan ini dapat membantu menjaga kelenturan sendi, mengurangi kekakuan, dan memperbaiki kekuatan otot yang menurun. Selain itu, latihan ROM juga membantu pasien lebih percaya diri dan termotivasi dalam menjalani proses penyembuhan. Dengan latihan yang dilakukan secara rutin dan benar, lansia berpeluang besar untuk kembali melakukan aktivitas sehari-hari secara lebih mandiri. Karena itu, latihan ROM sebaiknya menjadi bagian dari program rehabilitasi pada pasien stroke, terutama pada tahap awal pemulihan.

Latihan ROM mungkin terlihat sederhana, tetapi jika dilakukan dengan konsisten, hasilnya dapat dirasakan secara bertahap. Baik dari segi fisik maupun mental, latihan ini membantu memperbaiki kondisi pasien secara menyeluruh. Maka dari itu, latihan ini sangat direkomendasikan untuk lansia yang sedang menjalani pemulihan pasca-stroke sebagai langkah awal untuk meningkatkan kualitas hidup dan kemampuan bergeraknya.

Daftar Pustaka
Kamelia, K. & Widiharti, W. (2021). Pengaruh Latihan ROM (Range of Motion) Terhadap Kekuatan Otot Pada Pasien Post Stroke. Indonesian Journal of Professional Nursing, 2(2), 109–114.

https://journal.umg.ac.id/index.php/ijpn/article/view/3337

Pradesti, A. & Indriyani, P. (2022). Pengaruh Latihan Range of Motion terhadap Kekuatan Otot pada Lansia dengan Stroke. Journal of Nursing and Health, 5(2), 95–99.

https://jurnal.politeknikyakpermas.ac.id/jnh/article/view/122

Apriyaldi. (2024). Pengaruh Terapi ROM terhadap Peningkatan Kekuatan Otot pada Pasien Stroke. Menara Medika.

https://jurnal.umsb.ac.id/index.php/menaramedika/article/view/5688

Haryani, R. & Oktarina, Y. (2025). Penerapan Latihan Rentang Gerak untuk Meningkatkan Kekuatan Otot pada Pasien Stroke Non-Hemoragik. Jurnal Kesehatan Tambusai.

https://journal.universitaspahlawan.ac.id/index.php/jkt/article/view/48857

Silalahi, H., Fatimah, S., Nurjanah, L. T., & Suwandi, W. Y. (2022). The Effect of Range of Motion (ROM) Application on Muscle Strength in Elderly Stroke Sufferers. International Journal of Scientific Multidisciplinary Research.

https://journal.formosapublisher.org/index.php/ijsmr/article/view/3921

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/read/pengaruh-latihan-range-of-motion-terhadap-kekuatan-otot-pada-lansia-dengan-stroke/22643/
Dicetak dari JurnalPost.com pada 08 November 2026 09:04.