
JurnalPost.com – Desa Sawah, Kec. Kampar Utara (03/08/2023) Awal mula adanya keramba ikan di Sungai Kampar Desa Sawah, Kec. Kampar Utara yakni pada tahun 90-an. Keramba merupakan tempat pemeliharaan dan budidaya ikan tradisional yang mirip tambak ikan. Budidaya ikan keramba bisa dilakukan baik di sungai yang dalam, danau, di atas kolam terpal, hingga laut. Budidaya ikan dengan keramba merupakan salah satu cara budidaya pembesaran ikan yang efisien dan efektif. Dengan luasan media yang sempit, kita bisa melipatgandakan hasil panen ikan.
Wilayah Desa Sawah dilewati oleh Sungai Kampar yang merupakan termasuk sungai terbesar dan terpanjang di Kabupaten Kampar. Sungai Kampar yang panjangnya ±413,5 km dengan kedalaman rata-rata 7,7 m dan lebar rata-rata 143 m ini sebagian besar dimanfaatkan perairannya oleh warga di sekitarnya untuk melakukan Budidaya Ikan di Keramba.
Adanya Keramba Ikan milik warga di Desa Sawah, Kecamatan Kampar Utara ini menarik perhatian Mahasiswa Kukerta Bangun Kampung Universitas Riau 2023 yang sedang melangsungkan Kuliah Kerja Nyata (Kukerta) di Desa Sawah. Salah satu warga tersebut yakni Pak Edi M. Syahruddin yang bertempat tinggal di Dusun Pulau Tengah, Desa Sawah. Pak Edi M. Syahruddin merupakan Kepala Dusun Pulau Tengah di Desa Sawah, Kecamatan Kampar Utara.
Pak Edi M. Syahruddin mempunyai 2 keramba, dimana keramba yang satu untuk ikan jelawat dan keramba yang lainnya untuk ikan baung. Harga yang dihabiskan untuk 1 keramba berkisar Rp57 juta sehingga total untuk 2 keramba adalah Rp114 juta. Dalam Keramba milik Pak Edi ini, terdapat berbagai macam jenis ikan yang dibudidayakan untuk dijual. Mulai dari yang paling umum yakni Ikan Jelawat, Ikan Baung, Ikan Nila, dan Ikan Patin.

Menurut wawancara yang dilakukan oleh Michelle Tamana, perwakilan Mahasiswa Kukerta Bangun Kampung Desa Sawah 2023, Ikan Baung adalah jenis ikan yang paling laris di pasaran dengan kisaran harga jual mulai dari Rp52.000 sampai Rp55.000 per kilogramnya. Ikan-ikan ini biasanya dijual kepada Distributor besar ikan yang mendistribusikan ke pasar-pasar ataupun ke provinsi lain seperti Jambi dan Bengkulu. Yang menjadi permasalahan pada budidaya ikan di keramba yaitu adanya jamur. Umumnya, cara mengatasi jamur ini yaitu dengan menggunakan daun ketapang yang biasanya digunakan untuk ikan hias.
Kemudian berdasarkan informasi yang didapatkan oleh Tia Srimulia Simanjuntak, yang juga merupakan perwakilan Mahasiswa Kukerta Bangun Kampung Desa Sawah 2023, modal yg perlu dimiliki untuk memiliki keramba berjenis kayu lokal seperti milik Pak Edi M. Syahruddin yakni Rp57 juta. Untuk pakannya berjumlah sekitar 10.000 per tahunnya dan harganya berkisar Rp80 juta. Berkenaan dengan usia keramba ini, bisa bertahan lebih kurang 10 tahun dan perlu maintenance untuk kayu di bawah airnya.
Beberapa keunggulan ekonomis usaha budidaya ikan dalam keramba yaitu:
1. Menambah efisiensi penggunaan sumber daya;
2. Prinsip kerja usaha keramba dengan melakukan pengurungan pada suatu badan perairan serta memberi makan dapat meningkatkan produksi ikan;
3. Memberikan pendapatan yang lebih teratur kepada warga di Desa Sawah khususnya nelayan dibandingkan dengan hanya bergantung pada usaha penangkapan.
Dalam kunjungan dan wawancara kepada Pak Edi M. Syahruddin selaku pemilik keramba sekaligus Kepala Dusun Pulau Tengah, dilangsungkan pada hari Kamis, tanggal 3 Agustus 2023 pukul 16.30- 17.30 yang berlokasi di Sungai Kampar, Desa Sawah, Kec. Kampar Utara, Kab. Kampar. Kegiatan ini mendapat respons yang baik dan antusiasme yang tinggi dari Pak Edi selaku salah satu Pemilik Keramba Ikan di Dusun Pulau Tengah. Pak Edi berharap kedepannya akan semakin banyak nelayan-nelayan di Desa Sawah yang mulai menggunakan Keramba Ikan karena akan menguntungkan nelayan.