Kembali
Mode hapus aktif. Klik paragraf, foto, judul, tabel, atau bagian lain yang tidak ingin masuk PDF.
JurnalPost.com

Penerapan Prinsip-Prinsip Etika dalam Interaksi Komunikasi di Tempat Kerja

Tim Editor: Redaksi · Tanggal: 19 Juni 2025
(interaksi dalam pekerjaan)

JurnalPost.com – Komunikasi memegang peranan krusial dalam operasional sebuah perusahaan, karena perusahaan tidak dijalankan hanya oleh pemiliknya sebagai individu, melainkan melibatkan banyak karyawan yang saling berinteraksi. Interaksi tersebut diperlukan untuk membangun kerja sama yang efektif dalam rangka mencapai tujuan perusahaan. Oleh karena itu, gaya komunikasi yang bersifat horizontal dan terbuka di mana atasan dan bawahan dapat berinteraksi secara langsung dan dua arah tanpa terhambat oleh birokrasi menjadi daya tarik tersendiri bagi generasi muda. Model komunikasi semacam ini memungkinkan mereka lebih cepat menemukan minat kerja (passion) serta memperoleh pembelajaran langsung dari atasan. Membangun proses komunikasi organisasi yang efektif menjadi aspek krusial dalam upaya mencapai tujuan bersama dalam suatu organisasi.

Menurut Mg (2017 :310) Interaksi merupakan bagian tak terpisahkan dari kehidupan sosial sehari-hari, yang berlangsung mulai dari lingkungan terkecil hingga lingkungan yang lebih luas dan kompleks. Dalam lingkup kecil, interaksi dapat ditemukan dalam keluarga maupun di tempat kerja. Sementara itu, dalam skala yang lebih besar, interaksi terjadi di tempat-tempat umum seperti pasar atau area keramaian lainnya yang dihuni oleh individu-individu dengan latar belakang yang beragam. Kualitas interaksi memiliki pengaruh besar terhadap mutu hubungan sosial seseorang. Ketika interaksi berlangsung secara positif dan efektif, hal tersebut tidak hanya membawa manfaat bagi individu itu sendiri, tetapi juga bagi lingkungan sekitarnya, seperti terciptanya kerja sama dan kesepahaman. Sebaliknya, interaksi yang buruk dan tidak konstruktif berpotensi menimbulkan kekosongan hubungan sosial, bahkan dapat memicu konflik atau konfrontasi antarindividu atau kelompok. Kemudian menurut Marlina & Hidayat (2025:296) Lingkungan kerja yang kondusif dan dilengkapi dengan fasilitas yang memadai memungkinkan para karyawan untuk menjalin komunikasi yang lebih terbuka dalam bertukar gagasan. Hal ini juga berkontribusi pada penurunan tingkat stres, menumbuhkan rasa dihargai, serta mendorong keterlibatan dalam berbagai kegiatan sosial di tempat kerja. Selain itu, budaya perusahaan yang solid turut memperkuat kualitas interaksi sosial antarpegawai dan menciptakan suasana kerja yang lebih nyaman. Kondisi ini mendukung terbangunnya hubungan sosial yang efektif di antara mereka. Sebaliknya, di banyak perusahaan masih ditemukan masalah seperti ketegangan antarindividu, kurangnya efektivitas komunikasi, serta minimnya kerja sama di antara karyawan.
Adapun menurut Harjana (Karina & Rustiana 2019: 392) prinsip-prinsip komunikasi etika kerja, komunikasi terbagi menjadi dua jenis, yaitu komunikasi verbal dan nonverbal. Komunikasi verbal merujuk pada bentuk komunikasi yang menggunakan kata-kata, baik secara lisan maupun tulisan. Jenis komunikasi ini merupakan yang paling umum digunakan dalam interaksi antarindividu. Melalui penggunaan bahasa, seseorang dapat mengekspresikan emosi, perasaan, ide, pemikiran, serta menyampaikan data, informasi, dan fakta. Selain itu, komunikasi verbal juga menjadi sarana untuk saling berbagi pandangan, berdiskusi, hingga berdebat. Dalam konteks ini, bahasa memegang peran yang sangat vital. Adapun Komunikasi nonverbal adalah bentuk komunikasi yang menyampaikan pesan tanpa menggunakan kata-kata. Terdapat beberapa jenis komunikasi nonverbal, antara lain:

1.  Bahasa tubuh, yang mencakup ekspresi wajah, gerakan kepala, isyarat tangan, postur tubuh, posisi kaki, tatapan mata, serta berbagai gerakan fisik lainnya yang mencerminkan emosi, pikiran, kehendak, dan sikap seseorang;


2.  Simbol atau tanda, yang digunakan sebagai pengganti kata-kata, seperti bendera, rambu lalu lintas di darat, laut, dan udara, serta isyarat dalam kegiatan olahraga;


3. Tindakan atau perbuatan, yang juga dapat menyampaikan pesan atau makna tertentu tanpa menggunakan bahasa lisan maupun tulisan. Tindakan atau perbuatan sebenarnya tidak secara khusus dimaksudkan untuk menggantikan kata-kata, tetapi dapat menyampaikan makna tertentu. Contohnya seperti sentuhan, membanting meja saat berbicara, menutup pintu dengan keras saat keluar rumah, atau menekan pedal gas mobil dengan kuat semua tindakan ini mengandung pesan atau makna tersirat.


4. Objek juga termasuk dalam komunikasi nonverbal. Meskipun tidak berfungsi sebagai pengganti kata-kata, objek dapat menyampaikan makna simbolik. Contohnya adalah gaya berpakaian, penampilan, jenis rumah, perabotan, kekayaan, kendaraan, atau pemberian hadiah, yang semuanya bisa mencerminkan pesan atau identitas tertentu dari seseorang.

Kemudian prinsip kerja selanjtnya adalah menilai aturan etos, emnurut Shaw & Berry (Karina & Rustiana 2019:394)

1. Berkontribusi Secara Positif Tanpa Merugikan Orang Lain Setiap individu dianjurkan untuk memberi kontribusi kepada orang lain selama hal tersebut masuk akal dan tidak menimbulkan kerugian bagi pihak lain. Prinsip ini menekankan pentingnya tanggung jawab atas dampak perilaku seseorang terhadap sesama, tanpa mengesampingkan kepentingan pribadi atau organisasi. Meskipun tidak menuntut pengorbanan yang sia-sia, prinsip ini mengajak semua orang untuk menyadari bahwa mereka memiliki peran dalam mendorong kebaikan dan mencegah hal-hal yang merugikan orang lain.

2. Menepati Janji dan Perjanjian Lebih dari Sekadar Formalitas Ketika seseorang membuat kesepakatan dengan individu atau organisasi, memenuhinya harus menjadi prioritas utama. Keberlangsungan dan keberhasilan organisasi sangat bergantung pada integritas dalam menepati perjanjian, seperti membayar utang, menyediakan produk dan layanan berkualitas, serta menjaga komitmen jangka panjang.

3. Menghindari Perilaku Tidak Etis Meski Tidak Melanggar Hukum Meskipun suatu tindakan tidak secara eksplisit melanggar hukum, bukan berarti tindakan tersebut etis. Beberapa perilaku seperti pelecehan seksual, rayuan yang tidak pantas, kekasaran, dan intimidasi sering kali tidak diatur secara hukum tetapi tetap dipandang tidak pantas secara moral. Menghormati orang lain dan tidak memanfaatkan mereka adalah bagian penting dari etika, bahkan jika tidak tercantum dalam aturan hukum.

4. Bertindak Sesuai dengan Norma Moral yang Berlaku Umum Tindakan dan keputusan harus mencerminkan nilai-nilai moral dasar yang berlaku universal, seperti kejujuran, kesetiaan, penghargaan terhadap orang lain, dan kesopanan. Prinsip ini menekankan bahwa standar etika berlaku setara untuk semua orang, tanpa terkecuali. Mengabaikan prinsip ini berarti merusak fondasi etika itu sendiri.

5. Menjaga Reputasi dan Karakter Diri Etika berasal dari kata Yunani “ethos” yang berarti karakter atau watak. Oleh karena itu, reputasi dan nama baik seseorang mencerminkan karakter dan integritasnya. Karakter ini mencerminkan nilai moral seseorang serta menunjukkan posisi etis baik individu maupun organisasi dalam masyarakat.
 
Oleh: Dwi Agustin,
Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Pamulang
.

DAFTAR PUSTAKA
Karina, Y., & Rustiana, A. (2019). Penerapan etika komunikasi dalam mempersiapkan profesionalisme di dunia kerja. Economic Education Analysis Journal, 8(1), 389-403.

Kasriwanti, R., & Heri, H. (2023). Pengaruh Kepemimpinan Transformasional Terhadap Kualitas Interaksi Dan Kebahagiaan Di Tempat Kerja. JURNAL KOMUNITAS SAINS MANAJEMEN, 2(2), 221-233.

Marlina, L., & Hidayat, W. (2025). Pengaruh lingkungan kerja positif terhadap interaksi sosial karyawan. Pendas: Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar, 10(01), 295-316.

Mg, N. M. N. (2017). Peranan Interaksi Dalam Komunikasi Menurut Islam. Warta Dharmawangsa, (52).
 

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/read/penerapan-prinsip-prinsip-etika-dalam-interaksi-komunikasi-di-tempat-kerja/19216/
Dicetak dari JurnalPost.com pada 08 November 2026 07:49.