Oleh: Wulan Dila Mala Sani
Mahasiswa Tadris Biologi
UIN Siber Syekh nurjati cirebon
JurnalPost.com – Sila kedua yang berbunyi ”Kemanusiaan yang adil dan beradap”, merupakan salah satu sila dari pancasila, yang dimana sila ini menekankan bahwa pentingnya menghargai sesama dengan penuh rasa kemanusiaan. Nilai ini mengajarkan kita bahwa setiap manusia memiliki hak yang sama untuk dihormati tampa ada diskriminasi. Oleh karena itu nilai ini menjadi salah satu dasar yang penting agar kehidupan dimasyarakat berjalan dengan baik dan aman.
Dalam perkembangan zaman ini kita dapat menanamkan nilai-nilai pancassila melalui berbagai media, seperti halnya pada media anime. Salah satu anime yang banyak menggambarkan konflik tentang kemanusiaan ada pada anime attack on titan karya hajime isayama (Isayama, 2009).
Dalam anime ini memuat alur cerita bagaimana perjuangan manusia dalam menghadapi ancaman titan serta konflik antar kelompoknya yang dipenuhi pemersalahn moral dan persoalan manusia. Beberapa karakternya juga memiliki sikap yang mencerminkan nilai kemanusian, seperti kepedulian terhadap keselamatan orang lain dan keinginan melindungi kehidupan manusia. Karakter seperti armin arlert yang sering berusaha untuk mencari solusi yang dapaat mengurangi korban jiwa lebih memikirkan secara rasional daripada dengan kekerasan. Sikap nya tersebut mnunjukan rasa eempati dan kepedulian terhadap sesama manusia, yang sejalan dengan nilai kemanusiaan dalam sila kedua panca sila (Kaelan, 2013).
Disisi lain juga alur cerita anime ini menggambarkan adanya nilai kemanusian yang terabaikan dikarenakan adanya konflik seperti, kebencian, dan diskriminasi. Seperti konflik antara bangsa eldia dan marley yang memperlihatkan adanya perilaku penindasan dan perlakuan tidak adil terhadap kelompok tertentu. Kondisi ini mencerminkan pelanggaran nilai kemanusian karena sebagian kelompok dilakukan tidak setara. Jika dilihat dari perpektif pancasila, tindakan ini bertentangan dengan prinsip kemanusiaan yang adil dan beradap (Notonagoro, 1984). Bangsa eldia merupakan manusia yang memiliki kekuatan titan. Kekuatan ini berasal dari tokoh legendaris bernama Ymir Fritz yang pertama kali memperoleh kekuatan titan. Selama berabad abad, kekaisaran eldia menggunakan kekuatan titan untuk memperluas wilayah kekuasaan. Salah satunya bangsa marley yang pernah ditaklukan oleh eldia, namun marley berhasil untuk merebut kembali kekuasaan. Marley menjadi kekuatan dominan dan menjadikan eldia sebagai bangsa yang tertindas.
Diwilayah marley orang-orang eldia diperlalukan sebagai warga kelas dua. Merek harus tinggal di daerah khusus dengan pengawasan secara ketat, banyak dari mereka dijadikan tentara atau bahkan dijadikan titan sebagai bentuk hukuman. Diskriminasi ini muncul dikarenakan marley menganggap bahwa bangsa eldia sebagai bangsa yang berbahaya akibat sejarah penggunaan kekuatan titan. Sebagian bangsa eldia ada yang melarikan diri ke pulau paradis bersama raja eldia ke-145, karl fritz. Ia membangun tiga tembok raksasa untuk melindungi rakyatnya dari dunia luar, di pulau ini mayarakat hidup tanpa mengetahui konflik panjang antara eldia dengan marley. Namun konflik antara eldia dn marley terus berlanjut hingga generasi berikutnya, termasuk tokoh utama seperti Eren Yeager yang kemudia mengetahui kebenaran tentang dunia luar tembok.
Melalui cerita attack on titan dapat menjadi refleksi bagi penonton, agar tau bagaimana pentingnya nilai kemanusiaan dalam kehidupan nyata. Ceritanya tidak hanya menampilkan pertempuran antara manusia dan titan, namun juga konflik antara manusia yang dipengaruhi ejarah, kebencian dan juga rasa takut kehilangan. Anime ini mengajarkan kita bahwa ketika manusia kehilangan rasa empati, keadilan, dan menghormati sesama manusia, maka konflik dan penderitaan akan terus terjadi. Oleh karena itu nilai kemanusiaan sangat berperan penting dalam kehidupan, dan kita harus menjaga agar terciptanya kehidupan yang lebih adil dan damai.
Referensi
Hajime isayama. 2009. Attack on titan. Tokyo: kondansha.
Kalae. 2013. Pendidikan pancasila. Yogyakarta: paradigma.
Notonagoro. 1984. Pancaila secara ilmiah populer. Jakarta: bina aksara