Kembali
Mode hapus aktif. Klik paragraf, foto, judul, tabel, atau bagian lain yang tidak ingin masuk PDF.
JurnalPost.com

Penerapan Komunikasi dalam Industri Pariwisata di Indonesia

Tim Editor: Redaksi · Tanggal: 4 Mei 2026

Penerapan Komunikas

Oleh : Zawitri Damayanti
Dosen Pengampu : Drs. Widiyatmo Ekoputro, MA

JurnalPost.com – Industri pariwisata di Indonesia sekarang berkembang cukup pesat. Bukan cuma karena alamnya indah atau budayanya beragam, tapi juga karena cara mempromosikannya sudah jauh berubah. Kalau dulu orang mengenal tempat wisata lewat brosur, iklan TV, atau cerita dari teman, sekarang semuanya lebih banyak bergerak melalui media sosial. Menurut saya, keberhasilan sebuah destinasi wisata saat ini sangat dipengaruhi oleh bagaimana tempat itu membangun citra dan berkomunikasi dengan calon pengunjung. Kadang orang datang bukan karena sudah tahu detail tempatnya, tapi karena penasaran setelah melihat konten singkat di internet. Dan itu benar-benar terasa sekarang.

Salah satu contohnya bisa dilihat dari Pantai Papuma di Jember, Jawa Timur. Pantai ini memang punya pemandangan yang menarik. Pasir putih, batu karang besar, ombak yang khas, dan sunrise yang sering jadi incaran wisatawan. Suasananya juga punya kesan tenang, walau di waktu tertentu tetap ramai. Tapi kalau dipikir lagi, seindah apa pun tempat wisata, kalau tidak dikenal orang ya tetap bisa sepi. Di situlah komunikasi punya peran penting. Tempat bagus tetap harus dikenalkan.

Sekarang banyak orang justru mengenal tempat wisata dari TikTok, Instagram, atau YouTube. Banyak konten kreator membuat vlog perjalanan, video cinematic, atau sekadar review singkat tentang Pantai Papuma. Kadang cuma video 30 detik berisi suara ombak dan pemandangan pagi, tapi bisa ditonton ratusan ribu orang. Dari situ muncul rasa penasaran. Orang jadi ingin datang langsung. Bahkan ada yang langsung memasukkan Papuma ke daftar liburan berikutnya hanya karena melihat satu video saja.

Menurut saya, kekuatan konten kreator saat ini sangatlah berpengaruh. Kadang pengaruhnya bahkan bisa menyamai promosi resmi pemerintah. Alasannya sederhana, penonton merasa pengalaman mereka lebih nyata. Saat seorang YouTuber menunjukkan suasana camping di Papuma, atau selebgram mengunggah foto sunrise di sana, orang melihat itu sebagai pengalaman langsung, bukan iklan. Ada rasa percaya yang muncul dengan sendirinya. Walau kadang ada juga yang terlalu dilebihkan, tetap saja pengaruhnya kuat.

Selain promosi lewat media sosial, sektor pariwisata juga terbantu oleh aplikasi digital seperti Tiket com, Traveloka, Agoda, dan lainnya. Kehadiran aplikasi seperti ini membuat semuanya jauh lebih mudah. Orang bisa pesan hotel, cari kendaraan, beli tiket transportasi, bahkan melihat ulasan tempat wisata hanya dari ponsel. Menurut saya, ini juga bagian dari komunikasi, yaitu komunikasi pelayanan. Bentuknya memang tidak selalu terlihat, tapi perannya penting sekali.

Wisatawan sekarang maunya serba cepat. Informasi harus jelas, harga transparan, dan proses pemesanan tidak ribet. Kalau sebuah tempat wisata susah dicari informasinya, orang bisa langsung pindah ke destinasi lain. Jadi bukan cuma tempatnya yang bagus, tapi cara melayani lewat informasi juga sangat menentukan. Orang sekarang kurang suka menunggu terlalu lama.
Contohnya, kalau seseorang ingin pergi ke Pantai Papuma, dia bisa pesan hotel di Jember lewat aplikasi, beli tiket kereta secara online, lalu melihat rute perjalanan di Google Maps. Bahkan sebelum berangkat, biasanya orang menonton review di YouTube dulu. Jadi sebenarnya komunikasi dalam pariwisata sudah terjadi sejak sebelum perjalanan dimulai, saat perjalanan berlangsung, sampai setelah pulang. Setelah pulang pun sering kali mereka mengunggah foto lagi dan tanpa sadar ikut mempromosikan tempat itu.

Menurut saya, Indonesia punya potensi wisata yang luar biasa besar. Namun potensi itu harus dibarengi strategi komunikasi yang kuat. Pemerintah daerah, pengelola wisata, dan masyarakat perlu aktif memanfaatkan media sosial dengan cara yang kreatif. Pelayanan digital juga harus diperhatikan, jangan sampai lambat atau membingungkan. Kalau semua itu dijalankan dengan konsisten, tempat seperti Pantai Papuma bukan hanya terkenal di Indonesia, tapi juga bisa menarik wisatawan luar negeri. Pada akhirnya, komunikasi adalah jembatan antara keindahan sebuah tempat dengan keinginan orang untuk datang melihatnya sendiri. Tempat indah tanpa komunikasi bisa saja sepi. Tapi tempat indah dengan komunikasi yang tepat, bisa berkembang sangat besar.

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/read/penerapan-komunikasi-dalam-industri-pariwisata-di-indonesia/25065/
Dicetak dari JurnalPost.com pada 08 November 2026 05:47.