Latar Belakang
Salah satu hambatan terbesar dalam perkembangan manusia adalah stunting pada anak, yang memengaruhi sekitar 162 juta anak di bawah usia 5 tahun di seluruh dunia (World Health Organization, 2014). Stunting adalah kondisi di mana anak balita memiliki tinggi badan yang lebih rendah dari normal. Kondisi tersebut diukur dengan panjang atau tinggi badan yang lebih dari minus dua standar deviasi berdasarkan standar rata-rata pertumbuhan WHO (Data, P, 2018). Stunting memiliki konsekuensi jangka pendek dan jangka panjang. Termasuk peningkatan morbiditas dan mortalitas, perkembangan buruk pada anak, resiko penyakit menular dan tidak menular, obesitas, oksidasi lemak yang rendah, pengeluaran energi yang lebih rendah, resistensi insulin, dan risiko diabetes, hipertensi, dislipidemia, penurunan kinerja, dan reproduksi ibu yang buruk di masa dewasa (Soliman, A., dkk. 2021).
Statistik PBB 2020 mencatat, lebih dari 149 juta (22%) balita di seluruh dunia mengalami stunting, dimana 6,3 juta merupakan anak usia dini atau balita stunting adalah balita Indonesia. Menurut UNICEF, stunting disebabkan anak kekurangan gizi dalam dua tahun usianya, ibu kekurangan nutrisi saat kehamilan, dan sanitasi yang buruk. Saat ini, prevalensi stunting di Indonesia adalah 21,6%, sementara target yang ingin dicapai adalah 14% pada 2024. Untuk itu, diperlukan upaya bersama untuk mencapai target yang telah ditetapkan, salah satunya dimulai dari unit terkecil dalam masyarakat, yakni keluarga.
Stunting adalah masalah gizi yang berdampak pada pertumbuhan dan perkembangan anak, maka diperlukan kerjasama dan integrasi lintas sektoral, serta pelayanan kesehatan, sanitasi, pendidikan, dan kesehatan ibu yang lebih baik selama perawatan prenatal dan postnatal. Posyandu adalah salah satu yang paling mudah dijangkau oleh masyarakat. Tujuan dari Pos Layanan Terpadu, juga dikenal sebagai Posyandu, adalah untuk menurunkan angka kematian bayi dan balita serta angka kelahiran dan mendorong pertumbuhan keluarga yang sejahtera dan sukses. Posyandu adalah tempat di mana orang dapat mengakses layanan dasar, terutama yang berkaitan dengan kesehatan dan keluarga berencana, yang dilakukan oleh penduduk setempat. Posyandu juga berfungsi sebagai jembatan antara partisipasi masyarakat dalam memecahkan masalah kesehatan masyarakat dengan pelayanan profesional yang diberikan oleh tenaga kesehatan (Saepuddin, E., dkk. 2018).
Dengan memberikan edukasi dan informasi tentang stunting dan pencegahannya, posyandu dapat meningkatkan kesadaran dan pengetahuan masyarakat tentang masalah ini. Dengan demikian, diharapkan masyarakat akan lebih aktif dalam mengikuti program pencegahan stunting yang diselenggarakan oleh posyandu. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Lumbanraja & Roshen (2023) menunjukkan metode penyuluhan, pelatihan dan pendampingan kepada warga Desa Buluh Manis melalui sosialisasi di Posyandu menghasilkan kesadaran dan pemahaman baru bagi warga mengenai bahaya dan pentingnya pencegahan kasus stunting pada balita tidak hanya pada 1000 Hari Pertama Masa Bayi saja, namun juga pada masa kehamilan dengan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).
Gambaran Permasalahan
Rendahnya partisipasi masyarakat dalam mencegah permasalahan stunting di Indonesia masih rendah. Menurut laporan Studi Status Gizi Indonesia (SSGI) yang diterbitkan oleh Kementerian Kesehatan, pada tahun 2021, tingkat stunting pada anak balita di seluruh Indonesia mencapai 24,4%. Kondisi stunting ini disebabkan oleh masalah gizi kronis yang berlangsung dalam jangka waktu yang cukup lama, yang disebabkan oleh kekurangan asupan gizi. Situasi ini juga berasal dari kurangnya pengetahuan masyarakat, terutama orang tua, tentang praktik pengasuhan anak yang sehat dalam upaya pencegahan stunting pada anak. Menurut Keri Lestari, sebagai Wakil Rektor Universitas Padjadjaran Bidang Riset, Pengabdian Masyarakat, Kerja Sama, dan Inovasi, stunting muncul disebabkan oleh kurangnya pemahaman masyarakat tentang cara merawat anak dengan baik (Anggoro, 2018).

Laporan SSGI juga mencatat bahwa mayoritas kasus stunting terjadi pada anak-anak dengan rentang usia 3-4 tahun (antara 36-47 bulan) dengan tingkat stunting sebesar 6%. Selain itu, tingkat stunting pada kelompok usia 24-35 bulan mencapai 5,6%, pada usia 48-59 bulan sebesar 4,5%, pada usia 18-23 bulan mencapai 3,6%. Sementara itu, persentase anak-anak yang mengalami stunting pada usia 12-17 bulan adalah sekitar 2,3%, pada usia 6-11 bulan sekitar 1,6%, dan pada usia 0-5 bulan sekitar 0,7%.
Target/Sasaran
Target utama program ini adalah pemerintah, baik di tingkat pusat maupun daerah, karena mereka memiliki peran kunci dalam pengembangan dan implementasi program pencegahan stunting. Selain itu, pelayan kesehatan dan tenaga kesehatan di Posyandu juga merupakan target penting, karena mereka perlu memiliki pengetahuan yang cukup untuk memberikan informasi dan bimbingan kepada masyarakat. Sementara itu, kelompok sasaran utama adalah masyarakat secara keseluruhan, terutama keluarga yang memiliki balita, ibu hamil dan menyusui. Lalu, anak-anak balita di bawah usia lima tahun juga petugas kesehatan di Posyandu juga termasuk dalam kelompok sasaran.
Dalam rangka menjalankan upaya meningkatkan partisipasi Masyarakat dalam pencegahan stunting, penting untuk menerapkan strategi komunikasi yang efektif. Salah satu pendekatan yang digunakan dalam pembahasan ini adalah model komunikasi KAP (Knowledge, Attitude, Practice), yang terdiri dari tiga tahapan yang terintegrasi dengan baik. Tahapan pertama mencakup pemilihan target sasaran, penyusunan pesan yang relevan, dan pemilihan saluran komunikasi yang efisien. Tahapan kedua melibatkan perencanaan detail untuk mendesain pesan, produksi media yang memadai, dan pengujian atau pre-testing pesan komunikasi. Terakhir, tahapan ketiga ditujukan untuk meningkatkan pengetahuan, sikap, dan perilaku target sasaran sesuai dengan tujuan yang diharapkan dalam upaya pencegahan stunting ini. Dengan pendekatan ini, diharapkan bahwa komunikasi yang tepat dan terukur akan memainkan peran kunci dalam mencapai target pencegahan stunting di masyarakat.
Analisis dan Pembahasan
Program sosialisasi stunting oleh Posyandu terkait erat dengan model komunikasi KAP (Knowledge, Attitude, Practice). Program ini meningkatkan pengetahuan masyarakat (Knowledge) tentang stunting, berupaya memengaruhi sikap (Attitude) mereka terhadap pencegahan, serta merubah perilaku (Practice) untuk mendukung program Posyandu dan tindakan pencegahan stunting. Model KAP menjadi landasan untuk merancang dan mengevaluasi efektivitas program ini.
Tahap pertama dalam menggunakan model komunikasi KAP mencakup target sasaran, pesan, dan saluran komunikasi. Target sasaran dapat diidentifikasi sebagai ibu hamil karena perlu mendapatkan informasi dan dukungan terkait nutrisi selama kehamilan dan perawatan prenatal yang baik untuk mencegah stunting pada anak yang akan lahir, lalu ibu menyusui juga menjadi kelompok sasaran penting, karena mereka perlu diberikan pengetahuan dan dukungan untuk memberikan ASI eksklusif dan makanan pendamping yang sehat bagi bayi mereka, dan anggota masyarakat yang terlibat dalam program Posyandu. Mereka merupakan kelompok yang rentan terhadap masalah stunting. Pesan yang disampaikan adalah tentang pentingnya pencegahan stunting, faktor-faktor penyebabnya, dan bagaimana peran program Posyandu serta partisipasi masyarakat dalam mengatasi stunting dengan menggunakan saluran komunikasi seperti informasi yang disampaikan melalui program Posyandu, pelatihan, serta interaksi antara anggota masyarakat.
Dalam tahap kedua model komunikasi KAP, yaitu tahap perencanaan, Posyandu setempat bekerjasama dengan pemerintah daerah untuk memastikan keberlanjutan program ini. Mereka merancang pesan-pesan yang jelas, mudah dipahami, memiliki daya tarik, dan memberikan alasan kuat untuk mengubah perilaku, memilih saluran komunikasi yang sesuai, menentukan jadwal pelaksanaan program, melatih tenaga kesehatan dan penggerak masyarakat, serta melakukan uji coba pesan sebelum meluncurkan program ke seluruh komunitas. Tahap terakhir adalah peningkatan pengetahuan, sikap, dan perilaku target sasaran yang bertujuan meningkatkan pengetahuan mereka tentang stunting, mempengaruhi sikap positif terhadap upaya pencegahan, dan pada akhirnya mengubah perilaku mereka, seperti mengikuti program Posyandu dan terlibat dalam inisiatif pencegahan stunting. Proses ini mencakup pengukuran pengetahuan awal masyarakat tentang stunting, mengidentifikasi sikap yang perlu ditingkatkan, dan melaksanakan program pelatihan dan penyuluhan rutin untuk meningkatkan pemahaman tentang gizi yang seimbang, perawatan anak yang baik, serta pentingnya program Posyandu. Evaluasi berkala juga dilakukan untuk memantau kemajuan dan menilai apakah terdapat perubahan yang signifikan dalam perilaku masyarakat yang sesuai dengan tujuan program.
Dengan penerapan model KAP yang komprehensif ini, diharapkan masyarakat akan memiliki pengetahuan yang lebih baik, sikap yang positif, dan praktik yang lebih sehat dalam perawatan anak, serta partisipasi aktif dalam program Posyandu dan upaya pencegahan stunting. Seiring berjalannya waktu, harapannya adalah penurunan angka stunting akan tercapai, dan akan tercipta generasi anak-anak yang lebih sehat dan berkualitas di masa depan, berkat komitmen dan kerja sama yang kuat antara Posyandu, pemerintah daerah, dan masyarakat setempat.
REFERENSI
Anggoro, B. (2018). Stunting Bisa Disebabkan Minimnya Pengetahuan . Media Indonesia.
Annur, C. M. (2023). Kasus Stunting Indonesia Terbanyak Ditemukan pada Anak Usia 3-4 Tahun. Kata Data Media. https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2023/01/19/kasus-stunting-indonesia-terbanyak-ditemukan-pada-anak-usia-3-4-tahun
Data, P. (2018). Informasi Kementerian Kesehatan RI. Situasi Balita Pendek (Stunting) di Indonesia. Buletin Jendela Data dan Informasi Kesehatan, 1.
Lumbanraja, M., & Roshen, F. (2023). UPAYA PENCEGAHAN STUNTING MELALUI SOSIALISASI PHBS DI POSYANDU KASIH IBU DESA BULUH MANIS KABUPATEN BENGKALIS. Jurnal Manajemen Pendidikan Dan Pelatihan, 2. https://ejournal.kompetif.com/index.php/diklatreview/article/view/1499/990
Saepuddin, E., Rizal, E., & Rusmana, A. (2018). Posyandu Roles as Mothers and Child Health Information Center. Record and Library Journal, 3(2), 201. https://doi.org/10.20473/rlj.v3-i2.2017.201-208
Soliman, A., De Sanctis, V., Alaaraj, N., Ahmed, S., Alyafei, F., Hamed, N., & Soliman, N. (2021). Early and long-term consequences of nutritional stunting: from childhood to adulthood. Acta Bio Medica: Atenei Parmensis, 92(1).
World Health Organization. (2014). Global nutrition targets 2025: Stunting policy brief (No. WHO/NMH/NHD/14.3). World Health Organization.
Penulis:
Zayda Sulistia Ningrum (2110115006)
Dhita Maulia (2110115010)
Radian Putra Utama (2110115062)
Dosen Pengampu:
Vina Mahdalena, M.Si.
Asal Instansi:
Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta