
Oleh dr Tedy Hartono , SH , MCS
JurnalPost.com – Bencana banjir dan tanah longsor yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat akhir November 2025 telah merenggut ratusan nyawa, memutus akses vital, dan memaksa lebih dari sejuta warga mengungsi dalam kondisi yang jauh dari layak. Data terbaru BNPB mencatat korban meninggal telah mencapai hampir 950 orang dan ratusan lainnya masih hilang sementara ribuan lainnya luka-luka akibat banjir bandang tersebut. Infrastruktur kesehatan, termasuk fasilitas kesehatan primer dan rumah sakit, banyak yang rusak atau tidak beroperasi secara normal karena terendam air atau terputus aksesnya.
Setelah satu minggu lebih kejadian, fokus respons harus bergeser dari sekadar search and rescue awal menuju penanganan dampak kesehatan jangka menengah dan panjang, yang bila tidak tertangani dengan cermat akan memperburuk penderitaan masyarakat. Di titik ini, peran tim medis tidak bisa dilepaskan dari koordinasi lintas sektor demi menurunkan angka penyakit, komplikasi kesehatan, dan krisis kesehatan yang lebih luas.
1. Memastikan Penanganan Penyakit Pascabanjir dan Kebutuhan Dasar Kesehatan
Setelah banjir surut, tim medis harus fokus pada kebutuhan kesehatan setelah fase akut, yaitu penyakit yang sering muncul di pengungsian seperti infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), diare, kulit, serta gangguan akibat stres dan trauma. Hal ini bukan sekadar teori tetapi catatan BNPB dan Kemenkes menunjukkan peningkatan kasus ISPA di daerah terdampak sebagai salah satu penyakit terbanyak yang muncul setelah banjir.
Teori dalam disaster medicine menekankan bahwa medis pasca banjir bukan hanya merawat yang sakit, tetapi mencegah yang berpotensi besar sakit. Ini mencakup:
• Penyediaan air bersih dan sanitasi layak di lokasi pengungsian,
• Pemberian imunisasi jika diperlukan,
• Penyuluhan kesehatan kepada pengungsi tentang kebersihan,
• Manajemen luka dan pencegahan infeksi sekunder.
Menurut kajian literatur medis tentang respons banjir, preparedness dan response tim medis sangat bergantung pada pelatihan prioritas kesehatan bencana, koordinasi lintas lembaga, serta keterlibatan komunitas lokal dalam upaya pencegahan dan penanganan.
2. Koordinasi dengan BNPB, BPBD, dan Dinkes Daerah
Tim medis harus bekerja erat dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat, dan Dinas Kesehatan
Provinsi/Kabupaten. Ini untuk memastikan:
• Integrasi data kasus kesehatan di lapangan sehingga respon dapat diarahkan sesuai prioritas,
• Penempatan pos kesehatan di titik strategis pengungsian,
• Sistem rujukan pasien dari posko kesehatan ke fasilitas yang lebih lengkap jika dibutuhkan.
Kolaborasi ini penting karena menurut data BNPB, akses ke banyak wilayah masih terhambat oleh infrastruktur yang rusak, sehingga pelayanan kesehatan harus disesuaikan dengan kondisi geografis di lapangan. (Antara News)
3. Sinergi dengan Angkatan Darat, Kepolisian dan SAR untuk Mobilisasi Medis
Lima hari pertama setelah banjir menunjukkan bahwa militer dan tim SAR berperan besar dalam distribusi logistik, pembuatan jembatan darurat, serta airdrop bantuan ke lokasi yang terisolasi. (Reuters) Tim medis harus memanfaatkan sinergi ini untuk menjangkau korban yang masih terputus aksesnya. Kolaborasi ini bisa dilakukan lewat:
• Pendampingan tim medis bersama SAR saat evakuasi lanjutan,
• Pemanfaatan kendaraan atau helikopter militer untuk distribusi obat, vaksinnya, dan peralatan medis ke titik-titik sulit.
4. Bekerja Sama dengan Organisasi Non-Pemerintah dan Relawan Kesehatan
Organisasi kemanusiaan seperti Palang Merah Indonesia (PMI), organisasi internasional, dan kelompok relawan kesehatan dapat memperkuat kapasitas layanan. Dalam banyak respons bencana global, lembaga NGO berperan besar dalam:
• menyediakan tenaga medis tambahan,
• menjalankan klinik keliling,
• membantu penyuluhan kesehatan komunitas,
• melatih relawan lokal untuk first aid dan triase awal.
Studi akademik tentang manajemen bencana juga menyebutkan bahwa keberhasilan mitigasi dampak kesehatan sangat bergantung pada koordinasi lintas lembaga dan shared responsibility dalam proses penanganan sehingga tidak ada duplikasi usaha atau celah layanan.
5. Intervensi Psikososial untuk Menangani Trauma Korban
Di tengah tekanan fisik akibat penyakit dan kondisi hidup yang tidak layak, banyak korban banjir juga menghadapi trauma psikologis dan stres pascabencana. Pakar psikososial dari Universitas Gadjah Mada mencatat bahwa penderitaan korban banjir bersifat berlapis , fisik dan psikologis sehingga layanan kesehatan harus mencakup dukungan psikososial bagi pengungsi. (detikcom)
Tim medis bersama relawan atau pakar psikologi perlu:
• membuka sesi konseling di pengungsian,
• melatih relawan lokal untuk psychosocial first aid,
• menyalurkan bantuan untuk kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan penyandang disabilitas.
6. Pemantauan Epidemiologis dan Pelaporan Terintegrasi
Penanganan medis efektif juga harus didukung oleh sistem pemantauan penyakit dan laporan kasus real-time agar wabah penyakit pascabencana bisa terdeteksi dini. Ini membutuhkan kolaborasi dengan:
• Dinas Kesehatan provinsi/kabupaten,
• Puskesmas dan fasilitas kesehatan primer,
• BNPB untuk integrasi data bencana dengan data kesehatan.
Penggunaan data yang tepat dapat mempercepat respons mitigasi penyakit dan penempatan sumber daya medis di zona prioritas.
Pentingnya Membangun Ketahanan Kesehatan ke depan.
Setelah satu minggu lebih kejadian banjir Sumatera, fase tanggap darurat telah bergeser menuju fase penyelamatan berkelanjutan yang membutuhkan intervensi medis terkoordinasi, lintas sektor, dan berbasis data. Sinergi antara tim medis, BNPB/BPBD, militer & SAR, organisasi kemanusiaan, dan komunitas lokal bukan sekadar opsional . Ini adalah syarat mutlak yang dibutuhkan untuk mengurangi angka penyakit, mencegah komplikasi kesehatan, dan membangun ketahanan masyarakat pascabencana.
Jika tidak, kita tidak hanya gagal menyelamatkan nyawa saat banjir melanda, tetapi juga menciptakan krisis kesehatan yang terus menghantui korban jauh setelah air surut.
Penulis adalah :
Anggota tim Analisis IKAL Lemhanas
Pemerhati masalah Kesehatan