
Surabaya, JurnalPost.com – Pada saat ini pemerintah kota Surabaya sedang melakukan usaha dalam mengurangi volume penimbulan sampah yang membludak. Hal ini dikarenakan volume sampah di TPA Benowo sangat banyak dan membentuk pegunungan yang penuh sampah. Maka dari itu pemerintah kota Surabaya dengan Dinas Lingkungan Hidup saling bekerja sama untuk mengurangi sampah yang timbul. Salah satunya adanya kampung zero waste.
Kampung zero waste adalah program pemerintah dalam menangani timbulnya sampah. Kampung zero waste atau kampung nol sampah adalah upaya yang dilakukan pemerintah kepada masyarakat untuk mengetahui seberapa penting pengolahan sampah dan pemilahan sampah yang masih bisa digunakan. Salah satu kampung yang mengikuti program KZW adalah RW 03 Rungkut Barata.
Dalam KZW di RW 03 Rungkut Barata sudah dilakukan kegiatan penimbangan sampah. Penimbangan sampah oleh warga di laksanakan setiap RT dan hanya diambil 10% dari jumlah rumah yang ada di setiap RT. Penimbangan ini bertujuan untuk mengetahui jumlah sampah yang dihasilkan oleh setiap rumah.
Penimbangan sampah ini di lakukan oleh mahasiswa yang di tempatkan di RW 03 Rungkut Barata. Nantinya mahasiswa akan koordinasi dengan Ketua RT dan Kader Surabaya Hebat (KSH) di setiap RT untuk melakukan pendampingan dan penimbangan sampah yang dilakukan di setiap rumah. Penimbangan sampah ini dilakukan 8 kali dan setiap 1 minggu sekali.
Saat penimbangan sampah. Warga juga melakukan pemisahan sampah organik dan non organik. Setelah itu baru melakukan penimbangan sampah. Biasanya warga RW 03 rungkut barata, Sampah organik atau sampah basah di taruh di tempat komposter yang sudah dimiliki setiap RT yang nantinya akan menjadi pupuk organik. Dan untuk sampah non organik atau sampah kering diberikan ke pengepul untuk dijual. Meskipun tidak semua warga melakukannya karena kurang sadarnya warga. Bahkan saat melakukan penimbangan sampah banyak sekali warga yang belum memisahkan sampah organik dan non organik.
Di RT 5 Rungkut barata salah satunya rumah KSH terdapat komposter yang digunakan dengan baik yang sudah menghasilkan pupuk organik. Dan lubang biopori yang digunkan untuk menimbun daun kering. Untuk pengolahan samapah sendiri lebih mudah menggunkan lubang biopori dibandingkan komposter karena saat pengolahan komposter mengsilkan bau tidak sedap dan adanya maggot. Hal tersebut menimbulkan beberapa warrag malas terhadap pengolahan komposter.
Pada dasarnya, perbuatan dan upaya yang dilakukan pemerintah kota Surabaya bertujuan untuk mengurangi volume sampah yang dihasilkan. Namun, kegiatan tersebut harus di dukung masyarakat dengan baik seperti melakukan pemisahan sampah organik dan non organik . Hal tersebut bertujuan untuk menciptakan kampung yang ada di surabaya bebas dari sampah atau nol sampah.
Nama penerbit 1: Wirna Amalia
Nama penerbit 2: Yusuf Hariyoko, S.AP., M.AP
Instansi: Universitas 17 Agustus Surabaya