
JurnalPost.com – Djibouti adalah salah satu negara yang berada di wilayah Tanduk Afrika, dimana sumber pendapatan ekonomi utamanya didorong oleh aktivitas pembukaan pelabuhan bagi negara land locked. Djibouti memerankan peran penting dalam ativitas impor maupun ekspor bagi negara yang ingin melakukan perdagangan lintas batas negara menggunakan jalur laut. Di sisi lain, letak geografisnya yang dinilai strategis bagi jalur perdagangan dunia, membuat Djibouti dapat menunjukkan eksistensinya dalam dunia perdagangan. Oleh karena itu, negara-negara lain kemudian merasa tertarik untuk menjadikan Djibouti sebagai tempat bagi penempatan militer mereka. Hal ini karena, stabilitas dari wilayahnya yang secara langsung dilintasi oleh selat Bab El Mandeb membuat Djibouti berperan dalam aspek kekuatan dunia.
Pembebasan pembukaan pangkalan militer tidak lain adalah untuk dapat mencapai apa yang menjadi kepentingan dari para pihak yang terlibat. Walaupun Djibouti dikenal dengan letaknya yang berpengaruh bagi jalur perdagangan dunia, namun tidak dapat dipungkiri jika ada ancaman yang harus dihindari negara tersebut. Ancaman yang seringkali dianggap berpotensi untuk mengganggu stabilitas keamanan kawasan adalah perompakan kapal yang semakin meningkat dan tingkat terorisme yang masih tinggi. Hal inilah yang membuat Djibouti memasukkan agenda politiknya dengan menggabungkan letak geografis yang mereka punya. Artinya bahwa, Djibouti dengan sengaja membebaskan enam pangkalan militer milik negara lain untuk dapat ditempatkan dalam negaranya sebagai bentuk pertahanan diri atau self protection. Diharapkan pembukaan pangkalan tersebut dapat menekan angka kejahatan yang sering mengancam negaranya maupun mengganggu jalur perdagangan.

Letak strategis tadi membuat banyak negara ingin menempatkan basis militernya di Djibouti, salah satunya adalah China. Hal ini dilatarbelakangi oleh agenda kepentingan China yang ingin menggunakan Djibouti sebagai gerbang utama dalam inisasi perkembangan proyek Belt and Road Initiative. Kemudian, ambisi China dalam hal ini juga karena melihat Djibouti dalam jalur pelayarannya banyak dilewati oleh negara-negara besar yang dapat menjadi mitra baru bagi China. Namun, ada sedikit hambatan yang harus dilewati oleh Djibouti dalam usahanya menjaga keamanan negaranya, yaitu ancaman yang berasal dari Bab El Mandeb. Hal tersebut karena, selat ini merupakan pusat dari berbagai pelayaran di seluruh dunia. Akan tetapi, di wilayah ini banyak kejahatan kapal yang masih tinggi sehingga akan menganggu bagi negara yang akan transit di Djibouti.
Oleh karena itu, pemerintah Djibouti berharap dengan adanya akses penempatan basis militer negara-negara adidaya dapat membuat keamanan di wilayah tersebut terjaga. Selain itu, angka kejahatan laut yang biasanya sering terjadi dapat mulai perlahan berkurang. Kemudian, Djibouti dapat melakukan aktivitas pelabuhannya dengan nyaman tanpa gangguan. Di sisi lain, tidak hanya kepentingan negara yang menempatkan militernya meraih keuntungan, tetapi Djibouti juga mendapat keuntungan dari agenda politik dan geografis yang mampu dilaksanakan dengan baik, sehingga berdampak langsung pada negaranya.
Penulis: Aisyah Nurkhasanah (Mahasiswi Ilmu Hubungan Internasional), Universitas Teknologi Yogyakarta