Kembali
Mode hapus aktif. Klik paragraf, foto, judul, tabel, atau bagian lain yang tidak ingin masuk PDF.
JurnalPost.com

PEMBATASAN RUANG PUBLIK DAN DOMESTIK DALAM SUDUT PANDANG GENDER MELALUI KONSTRUKSI SOSIAL BERNAMA ‘CERITA RAKYAT’

Tim Editor: Redaksi · Tanggal: 6 April 2024
Source : Pinterest

Penulis: Fadlillahi Nur Suwarman – Universitas Negeri Surabaya

JurnalPost.com – Indonesia merupakan Negara dengan jutaan budaya di dalamnya, budaya tersebut mencakup seluruh aspek kehidupan termasuk dalam norma, adat istiadat bahkan sastra. Pada zaman dahulu sebelum memasuki ke era media digital dimana informasi sangat mudah ditemukan melalui genggaman tangan saja, manusia di zaman dulu menggunakan metode mulut ke mulut dalam mengirim juga menerima informasi. Cerita rakyat, merupakan produk penyampaian informasi tersirat yang menjadi bagian tidak terpisahkan dari warisan budaya bangsa Indonesia juga adalah bentuk penyampaian informasi person to person yang akhirnya membuat sebuah konstruksi sosial dalam menanamkan nilai didalamnya (Sugiarti et al., 2022). Gender yang juga buah dari konstruksi sosial dalam suatu masyarakat dapat dipengaruhi juga oleh cara penempatan tokoh yang mengaitkan Gender dalam sebuah cerita rakyat.

Cerita rakyat tentunya tersebar dan terkenal dikalangan masyarakat yang pada idealnya merepresentasikan kondisi pemikiran dan geografis masyarakat yang menjadikan indikasi utama latar belakang tersebut. Pada kenyataannya di Indonesia, Mayoritas cerita rakyat mengemukakan bias gender dan menekankan dikotomi atau perbedaan peran dan fungsi perempuan dan laki-laki dalam ranah domestik dan publik. Keberadaan cerita rakyat yang menekankan pada pembagian aktivitas yang dilakukan melalui pendekatan gender laki laki dan perempuan justru semakin memperpanjang pemikiran masyarakat terkait sikap serta perilaku laki laki dan perempuan dalam kegiatannya sehari hari. Perbedaan yang terbentuk membuat laki laki dan perempuan memiliki tembok besar dalam menentukan sikap, laki laki digambarkan sebagai seseorang yang harus bergerak di ruang publik sementara perempuan diharuskan bergerak di bidang domestik, hal tersebut tentu mempersulit cara perempuan bersikap begitu juga laki laki. Seperti yang dikemukakan oleh Banton (1994: 1) “Discrimination on ground of sex (or gender) occurs when someone supposed to be female is treated differently from someone supposed to be male (or vice versa).” Diskriminasi dalam ranah gender terjadi jika seorang perempuan diperlakukan dengan cara yang berbeda dari seorang laki-laki begitupun sebaliknya. (Amri, 2021 )

Melalui penjelasan diatas dapat dianalisis kebudayaan di Indonesia yang condong pada dominasi laki laki sebagai dominator dan perempuan sebagai inferior yang tercerminkan dalam cerita rakyat yang tersebar pada banyak daerah, penyusunan dan permasalah alur cerita yang menegaskan adanya perbedaan mencolok dalam sudut pandang gender seperti yang dikatakan Sugiarti (2021) dalam penelitiannya yakni pola budaya patriarki dalam cerita rakyat Jawa Timur diungkapkan melalui tokoh laki-laki yang memiliki kewenangan penuh dalam menentukan keputusan. Selain itu, laki-laki sangat berdaya dengan kekuatan dan kekuasaan pada 10 cerita yang telah dianalisis tokoh perempuan tidak berdaya akibat operasi yang dilakukan oleh tokoh laki-laki. Di sisi lain, 3 tokoh perempuan Ratu Ayu Kencana , Calon Arang, Rara Anteng digambarkan sebagai tokoh yang memiliki jiwa kepemimpinan, kekuatan, kecerdikan, dan keberanian. Adapun penyebab pola budaya patriarki dalam cerita rakyat Jawa Timur adanya pola pikir masyarakat yang memunculkan ketidakadilan perlakuan terhadap laki-laki dan perempuan. Hal ini karena faktor ekonomi, budaya, dan pola pikir yang menyebabkan tokoh perempuan memiliki ketergantungan yang tinggi. Dalam beberapa perempuan memiliki posisi tawar yang baik dengan laki-laki karena status sosial. Akan tetapi, secara kenyataan cerita rakyat yang ada di Jawa Timur tebentuk secara politis, perempuan mutlak dipandang sebagai feminin dan laki-laki dipandang sebagai maskulin yang penuh kekuatan dengan menjunjung tinggi bendera superioritas.

Penyekatan berbasis gender laki laki dan perempuan ini membuat mereka memiliki batas tertentu dalam menjalankan kehidupan sehari hari. Tidak hanya dalam cerita rakyat Jawa Timur diatas namun pada cerita rakyat lainnya juga konstruksi gender yang menekankan fungsi domestik pada perempuan yang fokus di rumah tangga saja dan fungsi publik berada pada di laki laki seperti mencari nafkah untuk keluarga, padahal seharusnya penekanan gender yang membedakan antara laki laki dan perempuan tidak perlu pada Cerita rakyat, keberadaan hal tersebutlah yang menekan budaya patriarki semakin panjang umur dan berkelanjutan (Wahyuningtyas & Hartat, 2023). Budaya tidak bisa dilepaskan begitu saja oleh masyarakat yang menganutnya seiring dengan hal itu konstruksi budaya dalam memandang gender adalah bagian dari budaya melalui cerita rakyat.

Pernyataan diatas didukung dengan adanya penelitian ‘Konstruksi gender dalam sastra anak Sunda Nala karya Darpan’ yang dilakukan oleh Eka, Aquarini dan Trisna (2023) yang mengatakan Pandangan masyarakat yang sering kali melekatkan jenis kelamin pada gender membentuk sesuatu yang kultural dianggap menjadi alamiah. Perempuan harus feminin dan laki-laki harus maskulin. Pada kenyataannya gender merupakan sesuatu yang cair, artinya seseorang dapat menampilkan dan menunjukkan sisi feminim atau sisi maskulin tergantung kepada situasi dan konteks yang melingkupinya. Dalam Nala, konstruksi dan peran gender ditampilkan secara kaku bahwa perempuan harus feminin dan laki-laki harus maskulin. Konstruksi gender yang feminin dan maskulin dari tokoh perempuan dan tokoh laki-laki dapat dilihat dari penggunaan nama dan sikap para tokoh. Di sisi lain tokoh Nala yang digambarkan dengan konstruksi gender alternatif, anak perempuan seperti laki laki (tomboy), mengalami operasi dengan harus mengikuti dan mempelajari berbagai kebijakan feminin di ruang domestik

Dalam kerangka cerita rakyat Indonesia, gambaran tentang peran gender tidak dapat dipandang sebelah mata. Kompleksitas sosial dan budaya tercermin dalam representasi gender yang terwakili dalam berbagai cerita (Dewi, 2014).. Meskipun sebagian besar cerita mengikuti pola konstruksi gender yang telah mapan, di mana perempuan dianggap sebagai sosok lemah atau penentang yang berperan dalam peran tradisional, tetapi ada juga cerita yang menantang pandangan tersebut. Dalam beberapa cerita, kita menemukan tokoh perempuan yang tangguh dan mandiri, yang berani menantang norma patriarki yang ada. Fenomena ini menggambarkan adanya perubahan dan dinamika dalam persepsi gender dalam masyarakat Indonesia. Cerita rakyat tidak hanya sekadar hiburan, tetapi juga mencerminkan nilai-nilai dan norma-norma yang berlaku dalam masyarakat. Oleh karena itu, analisis terhadap konstruksi gender dalam cerita rakyat Indonesia menawarkan wawasan yang dalam tentang pandangan masyarakat terhadap peran dan posisi gender. Dengan memperhatikan bagaimana wanita digambarkan dalam cerita rakyat, kita dapat memahami lebih dalam bagaimana stereotip gender dibentuk, dipertahankan, atau bahkan ditantang dalam budaya Indonesia. Ini menjadi penting karena dapat memberikan pemahaman yang lebih mendalam tentang dinamika sosial dan budaya yang mempengaruhi masyarakat Indonesia secara keseluruhan.

References
Amala, B., & Ekasiswanto, R. (2013). Objektivikasi Perempuan dalam Lima Cerita Rakyat Indonesia: Analisis Kritik Sastra Feminis. SEMIOTIKA, 14((2)), 139–154.
Amri, S. H. (2021). ANALISIS GENDER DALAM CERITA RAKYAT (KAJIAN SEMIOTIKA ROLAND BARTHES) GENDER ANALYSIS IN FOLKLORE (THE SEMIOTIC STUDY OF ROLAND BARTHES. Kibas Cenderawasih, Vol. 18(No. 1), 100-113.
Dewi, K. (2014). LEGENDA, CERITA RAKYAT, DAN BAHASA DI BALIK KEMUNCULAN POLITIK PEREMPUAN JAWA. Masyarakat Indonesia, Vol 40(1).
Sugiarti. (2021). Budaya patriarki dalam cerita rakyat Jawa Timur (Patriarchal culture in East Java folklores). KEMBARA: Jurnal Keilmuan Bahasa, Sastra, dan Pengajarannya, Vol. 7(No. 02), 424-437.
Sugiarti, Andalas, E., & Bhakti, A. (2022). Image of Woman in Indonesian Folktales: Selected Stories from the Eastern Indonesian Region. Rupkatha Journal, Vol 14(2).
Wahyuni, E., Priyatna, A., & Prabasmowo, T. (2022). Konstruksi gender dalam sastra anak Sunda Nala karya Darpan. Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosia, Vol 6(1), 35-49.
Wahyuningtyas, S., & Hartat, U. (2023). Dimensi Gender dalam Cerita Rakyat Roro Jonggrang dan Roro Mendut. Seminar Nasional Hasil Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat 2023.

Sumber artikel: https://jurnalpost.com/read/pembatasan-ruang-publik-dan-domestik-dalam-sudut-pandang-gender-melalui-konstruksi-sosial-bernama-cerita-rakyat/13527/
Dicetak dari JurnalPost.com pada 05 November 2026 06:38.